Kunjungan Silaturahmi Bersama Cucunda Ladia

Jum’at Sore, tepatnya, pukul 19.00 rombongan kecil berjalan menuju Kota Pasuruan. Tepatnya, saya bersama nanda Nora dan Nabiel bermobil menuju Pasuruan. Perjalanan diarahkan menuju sebuah wilayah kecil, yaitu Desa Kraton, yang terdapat di Kabuparen Pasuruan. Banyak wilayah, yang sejauh ini dijadikan orientasi pembangunan oleh pemerintah, tetapi untuk daerah ini, rupa-rupanya belum banyak yang diubah. Maka itu, perubahan penduduknya seperti masih banyak yang bersepeda ontel, mondok di pelbagai pesantren, dan bekerja di bidang pertanian kecil di sawah, dan kemudian menjual hasil pertaniannya di pasar adalah menjadi hiasan hidup sehari-hari masyarakat ini.

 

Silaturahmi dan Problem Sarafi

Hanya karena kesibukan, maka banyak hal bersama anak tidak banyak yang aku bisa lakukan dalam setahun terakhir ini. Namun, banyaknya hal yang harus dialami menjelang akhir studi, menyebabkan nanda Nora dan nanda Nabiel yang akan segera menyudahi studinya, tidak aku sempat aku urusan dengan kedekatan yang memadahi. Satu di antaranya, apa yang karena kesibukan studi dan organisasi yang menyebabkan dapatnya diselesaikan dengan persiapan yang lebih dini akhir-akhir ini.

Ternyata untuk masalah terbanyak bukanlah di masalah inti yaitu penyelesaian studinya ansich melainkan, manyangkut masalah psichis yaitu kejiwaan, atau mentalitas. Dua masalah ini, tidak cukup diselesaikan dengan memberikan resep atau tips ini itu, ternyata dapat didekati dengan menyelesaian sentuhan-sentuhan yang berkenaan dengan sarafinya.

Kalau dahulu, saya banyak percaya dengan pemecahan problem-problem mentalitas dengan melihat dari cara para psikieater untuk memecahkannya. Maka dalam beberapa tahun terakhir, saya mencoba memecahkannya bersama orang-orang yang sangat dekat dengan Allah dalam menghadapi kehidupan ini, sejak yang berkenaan dengan metodologi maupun yang berkenaan dengan materi.

Secara metodologi, ternyata dengan menganangi telapan kaki kanan-kiri, lutut kanan-kiri, pantat kanan-kiri, leher dan kepala kanan-kiri terutama dari segi sarafinya, cara ini rupanya layak dilihat. Sebab, tanpa dilihat dalam keseimbangan, banyak dari syaraf kita yang diakibatkan oleh ketidakseimbangan kerja antara dua belahan otak, maka urusannya banyak yang terbengkalai.

Ke Pasuruan, kita ingin mengetahui problema yang satu ini. Karena ke arah tindakan inilah, seorang tokoh agama Kampung telah bisa menyelesaikan problema diri dari banyak pasien yang ditanganinya sehari-hari. Ternyata keluhan sakit kepala, stress, jantung, stroke, sukar punya anak, kejiwaan, dan aneka problem lain akhirnya sembuh.

Nanda Nora dan Nabiel, menjadi ringan disembuhkan apa yang sejauh ini menyebabkan beratnya diri menyelesaikan ini. Bahkan, Ladia, cucuku yang masih berada di usia tiga (3) menjelang empat (4) tahun, bisa juga selesai dan disembuhkan sakitnya. Dari kesulitan bicara, akhir-akhir ini menjadi sehat bicaranya.

 

Kesalahan Mendudukkan Rukh dan Hadap Diri

Memahami secara keliru Rukh dan Hadap Diri juga bisa menjadi problem yang mesti dipecahkan oleh orang Muslim masa kini. Masalahnya bisa jadi menyangkut pemahaan material ajaran┬ákita yang keliru. Selama ini yang dinamakan rukh, bisa jadi salah kita memahaminya, kita kira yang dinamakan rukh itu hanya sebatas nafas yang dicabut menjelang kematian seseorang. Padahal, yang dinama kan rukh itu adalah, sesuatu yang menyebabkan seseorang itu berdaya dalam semua aktivitas di jalan kebenaran, karena rukh berhasil didayagunakan pada telingat bagi pendengaran, pada mata untuk meningkatkan penglihatan, pada otak untuk meningkatkan pemikiran bagi penguasaan sain dan knowledge diri seseorang dan lain-lain. Rukh itu bukan sekadar energi yang bisa memanaskan pada seseorang dari segi kebutuhan energinya energinya, tetapi rukh itu apa yang pada hari-hari menjadi urusan Allah yang — Yang Mengagungkan Asmanya, tetapi akhir-akhir ini didudukkan pada posisi yang kurang berharga, sehingga ia semakin dijauhkan ketika mestinya menghadap Allah pada saat ketika kita tidur dan bangun tidur, ketika salat, ketika beraktivitas, sehingga urusan rukh pada tiap-tiap manusia dijauhkan dari penciptanya dalam kehidupan. Rukh itu tetapa dalam genggaman Allah, dan kita menghadap di dalam kehidupan bersamanya.

 

Rukh mesti terhubung ke Kiblat

Rukh yang oleh Alllah Swt ditiupkan ke setiap diri insan, semestinya berdaya dan diberdayakan. Sebabnya, olah karena dengan rukhnyalah telinga itu bisa mendengar. Karena rukh nyalah juga manusia itu bisa melihat. Juga karena rukhnyalah manusia itu bisa mengoptimalkan otak dipikiran dan hatinya untuk bisa berdaya sebesar-besarnya di dalam kehidupan ini. Apa yang sebenarnya istimewa dengan rukh, yaitu bahwa rukh suatu cahaya atau rasa yang ditiupkan Allah. Di ketika kita tidur, rukh itu digenggam Allah, lalu diketika bangun rukh itu kembali sudah berada dalam diri kita. Ini urusan istimewa yang hanya Allah lah yang Maha mengurusnya karena Allah Swt juga yang Maha Mengetahuinya.

Bagaimana hubungan dengan rukh oleh kita ketika salat? Sejauh ini rukh ini sering dihubungkan secara kurang benar, kurang pas sehingga kurang memberikan daya bagi kita dalam kehidupan. Salatnya menghadap kiblat, sudah benar, tetapi hatinya ngelantur ke mana-mana, apa ini akan dapat terhubung dengan jelas? Salatnya menghadap Baitullah di Baitul Haram sana, tetapi hati kita dibuat ragu sendiri dengan mengatakan bahwa kemana saja menghadap tokh kita itu ke arah Allah; tidak pernah menghadap 100% kepada yang Maha Mengatur rukh, dan kepada pesuruh-Nya yang secara rukh/nur benar-benar Maha Kuasa untuk menghe- batkannya.

 

Sekian dulu, lain kali kita bertemu lagi untuk dari tahap ketahap mengajar didi yang memberdayakan di jalan Allah Swt (Erfan Subahar).

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *