Aplikasi Ikhlas Dalam Realitas Keseharian

Melaksanakan amal-amal perbuatan secara ikhlas adalah tuntunan yang diperintahkan oleh agama. Karena hanya amaliah yang dilaksanakan secara tulus atau ikhlaslah yang berdampak pahala atau balasan surga bagi para pelakunya. Dan apapun amaliah manusia, baik amal yang kecil sekalipun dan lebih-lebih yang besar, yang dilakukan secara tulus adalah menyenangkan, atau mampu mendatangkan kebahagiaan bagi pelakunya, karena amalian yang seperti itulah yang dianggap cukup dilakukan di hadapan Allah, Pencipta kita. Nabi Muhammad saw bersabda, Akhlish Dinak Yakfiikal ‘Amalul Qaliil ‘berbuatlah ikhlas atas amal-amal keagamaan Anda, niscaya tercukupi bagi Anda sekalipun amaliahnya tergolong kecil.’

 

ikhlas itu bahagia

Dalam kehidupan beragama ikhlas itu adalah melakukan sesuatu secara murni, tulus, jernih hati, perilakunya semata-mata karena Allah Swt, sehingga seperti apapun amaliah yang dilakukannya seseorang — kecil atau besar sama — diberi pahala oleh Allah Swt. Untuk itu, ikhlas itu lain tidak adalah pertanda dari perilaku bahagia bagi seseorang di dalam kehidupan. Dengan ikhlas pula, kehidupan baik dan benar seseorang bisa bersambung antara yang dilakukan di dunia dan di akhirat. Tanpa ikhlas, orang bisa bersibuk melakukan perbuatan banyak sehari-hari namun dari kesibukannya hanya capek dan letih yang ada, karena amal-amalnya tidak diberi pahala oleh Allah Swt, alias sia-sia.

Dalam konteks ibadah puasa, betapa sia-sianya ibadah puasa dilakukan seseorang jika ibadahnya dilakukan tidak dengan tulus. Padahal, amaliah puasa itu tidak hanya berisi ibadah puasa. Akan tetapi, di situ ada salat lima waktu, salat tarawih dan witir, salat tahajjud dan salat-salat sunnah lain, tadarus al-Qur’an, mengeluarkan zakat mal, zakat fitrah, semuanya bisa sia-sia jika tanpa dilakukan secara ikhlas.

 

Penerapan Amaliah yang Ikhlas

Banyak aktivitas sehari-hari yang dalam prakteknya sudah lolos menjadi amaliah yang ikhlas.  Dan berbahagialah mereka yang sudah dapat menerapkan aktivitas-aktivitas yang sudah tergolong sebagai amaliah mukhlis. Pertama, ikhlas itu misalkan, ketika suatu kritik atau fitnah itu datang, hal itu tetap tidak membuat kita kendor dalam melakukan amal-amal juga tidak membuat amaliah kita punah. Jalan terus menuju Allah di balik rintangan yang seperti apapun.

Kedua, ikhlas juga terlihat pada aktivitas, misalkan tidak sebanding antara usaha dengan harapan, ia tidak membuat kita menyesali amal dan tenggelam dalam kesedihan.

Ketiga, ikhlas juga tampak bekasnya, misalnya ketika amal tidak bersambut apresiasi yang sebanding, tidak membuat kita urung bertanding dalam kehidupan.

Keempat, ikhlas itu ketika niat baik yang sudah berbarengan dengan aktivitas di lapangan disambut dengan berbagai prasangka, maka kita tetap berjalan dalam berbuat dengan tanpa berpaling mula.

Kelima, ikhlas itu misalkan suatu perbuatan baik ketika sepi atau ramai, sedikit atau banyak, menang atau kalah, ketulukan diri tetap pada jalan lurus dan terus melangkah ke tujuan yang digariskan.

Keenam, sosok ikhlas itu ketika diri anda lebih mempertanyakan: apa amal kita dibanding dengan posisi diri kita, apa peran kita dibanding dengan kedudukan kita, apa tugas kita dibanding dengan jabatan kita, dan lain-lain.

Ketujuh, ikhlas itu ketika tengah terjadi ketersinggungan pribadi, ia tidak membuat diri kita keluar dari barisan dan merusak tatanan.

Kedelapan, ikhlas itu juga: ketika posisi kita di atas tidak membuat kita jumawa, dan ketika posisi kita di bawah tidak membuat kita ogah bekerja.

Kesembilan, ikhlas itu: ketika diri khilaf, mendorong diri minta maaf, ketika salah mendorong kita berbenah, dan ketika ketinggalan mendorong kita mempercepat tindak laku kita.

Kesepuluh, ikhlas itu: ketika diperbuat kebodohan orang lain terhadap kita, tidak kita balas dengan kebodohan kita terhadapnya, ketika kezhaliman terjadi terhadap kita maka tidak kita balas dengan kezhaliman juga terhadapnya.

Kesebelas, ikhlas itu: ketika kita bisa menghadapi wajah marah dengan senyum ramah, kita menghadapi kata kasar dengan jiwa besar, ketika kita hadapi dusta dengan menjelaskan fakta.

Keduabelas, ikhlas itu: mudah diucapkan, dan sulit diterapkan, namun tidaklah mustahil untup diusahakan.

Akhir kata, ikhlas yang sudah menyebar dalam bahasa pergaulan di atas, bisa diperpanjang dalam deretan ungkapan aktivitas panjang sejalan dengan berkembangnya keadaan. Pendek kata, ikhlas itu mesti diwujudkan lillah agar aktivitas menjadi penyebab kita untuk menjadi penghuni surga di negeri akhirat yang akan datang. Insya Allah (Erfan Subahar)

606 thoughts on “Aplikasi Ikhlas Dalam Realitas Keseharian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *