Membaca Peta GPAI Peserta PLPG 2014

Guru PAI peserta PLPG tahun 2014 beragam. Selain berasal dari berbagai tempat di Pulau Jawa, banyak juga peserta yang berdatangan dari luar Jawa seperti dari Palembang dan Riau. Mereka yang berasal dari berbagai daerah itu, tentu memiliki kemampuan dan pengalamanan yang berbeda, sehingga ketika di ruang pelatihan dapat ditatap sejumlah kemampuan dari tiap-tiap peserta. Sejauhmana peta kemampuan peserta PLPG itu, setidaknya berdasarkan pengamatan sekilas penulis dapat dibaca sebagai berikut ini.

1- Kemampuan membaca dan menulis Al-Qur’an/huruf Arab yang berbeda

Pada umumnya, sebagai guru agama Islam di sekolah atau madrasah masing-masing, mereka sudah mampu membaca Al-Quran. Dengan berbagai bacaan dari Al-Qur’an digital, membaca Al-Qur’an mereka terlihat rata-rata sudah baik hingga yang terbaik. Namun, pada beberapa guru yang kurang banyak latihan yang dalam menunaikan tugasnya sangat sukar beradaptasi dengan guru agama lainnya, membaca Al-Qur’an mereka terlihat pas-pasan, terutama di bidang tajwid dan makhrajnya. Pada yang terakhir ini pun kemampuan menulis Arabnya tergolong lemah, yang umumnya ketika ditanya tulisan Arab mereka itu tergolong jenis khath apa? Mereka tidak mampu menjawab. Sedang yang kemampuan membacanya tergolong rata-rata dan menengah ke atas, belum banyak bersentuhan dengan pembinaan atau pelatihan khath Arab yang umum di kenal, padahal tulisan Arab mereka ditiru oleh segenap murid yang ada di madrasah dan sekolah mereka.

Jika mereka setelah PLPG ini berkesempatan untuk diberi pengalaman tambahan, maka pelatihan ringan di bidang khath Arab kepada segenap guru PAI layak ditambahkan. Minimal, mereka dikenalkan secara akrab dengan khath huruf-huruf Arab seperti nasakh, riq’i, dan kufi yang pernah dimiliki umat Islam pada periode awal pembukuan ajarannya.

2- Kemampuan menulis Arab dengan khath yang belum jelas.

Ketika kepada beberapa peserta saya coba menyiapkan kertas untuk diimlak tulis Arab, daya dengar bacaan Arab atau hadis para peserta masih tergolong tidak jelas. Lebih separuh dari peserta imlak masih mengalami situasi  seperti ini, dengan selalu diminta ulang baca. Padahal, bacaan sudah dilakukan cukup jelas, suara lebih keras, dan dengan makhraj yang benar. Dan ketika ditanya, khath Arab dari tulisan hasil imlak anda semua ini tergolong jenis khath apa; umum dari para peserta tidak jelas menjawabnya.

3- Kemampuan bermain peran dalam peer teaching dan praktik pembelajaran

Pada bermain teaching dan praktik pembelajaran, segenap peserta pada umumnya memiliki kemampuan bermain peran yang bagus.  Dengan tempaan ringkas dan beberapa kali pengulangan yang cukup yang dilakukan pada mereka dari materi pelatihan dan tindak lanjutnya, mereka umumnya sudah termasuk sangat baik di dalam bidang ini. Ada kesan, bahwa dalam kadar-kadar tertentu, mereka sepertinya sudah pernah mengalami atau mencoba-coba sendiri teknik mengajar yang berkesan di hadapan peserta didik, baik yang di alami di dalam berinteraksi di antara para guru, mungkin juga dari pengalaman melihat di internet.

4- Kemampuan menyiapkan RPP yang rapi, bersih, pantas

Dari pengalaman membuat RPP yang tidak hanya dialami lewat PLPG tetapi sudah melalui tempaan sebelum- nya, di bidang ini umumnya peserta sudah terlihat rapi dan bersih. Dalam beberapa hal, di seputar format sampul, penulisan yang simetris, garis-garis yang tidak perlu [yang tidak sempat dihapus] sekadar untuk meratakan tepi kanan RPP sering muncul. Namun, umumnya dalam penulisan khath Arab –seperti disebutkan di atas– baru tergolong biasa-biasa, dalam persen yang tergolong kecil sekitar 20 persennya, yang termasuk sudah pantas dan tepat dalam menulis khath Arab nasakh.

5- Kemampuan menerapkan disiplin yang mantap kepada murid

Ketika memulai mengajar, baik dalam peer teaching maupun praktik riil teaching, pada umumnya peserta tidak menyiapkan murid untuk benar-benar masuk dalam suasana siap belajar. Dengan suasana seadanya, seperti asal sudah duduk, tas masih ditaruh seadanya, sebagian masih ngobrol dengan kawannya — sering mengajar sudah dimulai.

Umumnya, para peserta hanya menanya-nanya kawanannya, ada yang absen atau tidak. Dari situasi seperti itu dapat diduga, sulit bagi pembelajaran untuk memperoleh hasil yang persen belajarnya sudah siap di atas 80 persen, atau mendisiplinkan belajar siswa pada tingkat kedisiplinan belajar yang tinggi. Padahal, pendidikan di manapun saja terutama di negara-negara yang tergolong maju, disiplin ini adalah segala-galanya, yang mesti senantiasa dikembangkan dari waktu ke waktu.

Peta sederhana di atas, minimal menjadi acuan sederhana kita untuk mengetahui seberapa sebenarnya kemampuan yang telah dimiliki oleh para  guru PAI mereka mengikuti pelatihan PLPG. Dan peta itu, setidanya dapat menjadi acuan bersama bagi pembinaan mereka ke depan, sepulangnya peserta PLPG menjadi alumni yang mengajarnya diharapkan akan tampil lebih berkesan dalam memberikan layanan pembelajaran yang dinanti-nanti di sekolah atau madrasah tempat mereka mengabdi bertugas (Erfan S).

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *