Memperteguh Tugas dengan Membaca dan Menulis

Tugas utama muslim adalah beribadah kepada Allah. Selain ibadah mahdhah, tiap muslim juga bertugas ibadah ghairu mahdhah yaitu ibadah dalam arti luas, yang bagi kalangan dosen, lebih khusus lagi guru besar adalah membaca dan menulis. Tugas ibadah ini, sudah tegas disebutkan dalam Al-Qur’an dan hadis shahih.

Dari situ, sejak zaman Nabi saw masih hidup, umat Islam sudah sudah mencurahkan perhatian pada tugas membaca dan menulis. Misalnya, umat Islam zaman itu (sahabat) tekun membaca Al-Qur’an dan menuliskan catatan mengenainya. Para sahabat juga membaca banyak hadis Nabi, dan ternyata tidak sedikit dari sahabat yang melek huruf memiliki shahifah yang berisi catatan-catatan rekaman pribadi hadis-hadis Nabi saw.

Terjebak kemandegan: hanya menghafal atau juga menulis

Setelah zaman Nabi, umat Islam dahulu pernah terjebak persepsi keliru, bahwa hadis itu hanya dihafal. Dalam ingatan kebanyakan mereka, selain Al-Qur’an seperti hadis itu hanya dihafal dan tidak ditulis. Makanya di balik pesatnya penulisan dan penghafalan Al-Qur’an, orang-orang banyak tidak menulis hadis. Waktunya banyak untuk menghafal hadis. Padahal dalam banyak tempat, Nabi saw dengan bukti-bukti yang jelas menyuruh sahabat menulis surat kepada Raja; menyuruh sahabat menuliskan rekaman khutbah yang dimohon copian khutbah Nabi; juga menyuruh menyalin tulisan yang benar dari Nabi dan dilarang memalsukan data. Di situ, perintah menulis dari Nabi saw sebenarnya cukup banyak yang memberi rangsangan bagi umatnya untuk menulis.

Akan tetapi, ada persoalan ketika umat Islam memahami isi suatu hadis. Nabi saw pernah bersabda, “Jangan kalian tulisan dariku selain Al-Qur’an. Siapa pun yang menulis dariku selain Al-Qur’an maka hapuslah itu.”

Setelah data sehubungan dengan hadis di atas dilacak, ada fakta bahwa larangan penulisan oleh Nabi saw itu berkenaan dengan kebiasaan penulisan zaman itu yang ketika menuliskan teks biasa ditulisĀ  sehalaman teks yang lain. Catatan yang demikian, tentu akan sukar disterilkan terjadinya percampuran isi sekiranya dilacak dari kemungkinan percampuran teks dari teks lain. Hal yang serupa tentu akan bermasalah, jika hal itu dihubungkan dengan Al-Qur’an (pada masa pembukuan) serta hadis

Pada kasus di atas, adanya larangan Nabi saw dalam penulisan selain Al-Qur’an dikandung maksud ke hati-hatian. Yaitu karena khawatir bercampur dengan Al-Qur’an, baik itu berupa informasi pribadi, berupa teks hadis, yang sama-sama wahyu Allah. Jelasnya, larangan di situ adalah berkenaan dengan penjagaan Al-Qur’an yang masih sedang turun dan terus ditulis agar tidak bercampur dengan yang selain Al-Qur’an.

Nah, bagaimana jika penulisan itu tidak sehalaman dengan Al-Qur’an, atau bagaimana jika penurunan Al-Qur’an sudah sempurna penurunannya, apakah larangan penulisan masih juga akan terjadi? Jawabannya tentu saja tidak berlaku.

Dengan demikian larangan menulis di situ hanya untuk maksud kehati-hatian. Sebab, larangan menulis untuk semua hal tentu tidaklah relevan, mengingat menulis itu merupakan kegiatan yang penting. Dalam surah Al-Qalam saja Allah Swt bersumpah dengan penulisan ini, saking pentingnya penulisan itu.

Maka sekalipun ada larangan bagi kehati-hatian, namun penulisan hadis berjalan terus. Karena para sahabat yang sudah melek tulis, akan cukup memahami maksud ungkapan pelarangan itu. Hanya untuk naskah tulisan yang dikutip sehalaman dengan penulisan Al-Qur’an. Jelasnya, larangan menulisnya ketika itu berkenaan dengan adanya penjagaan pada pemurnian Al-Qur’an dari segala upaya yang akhirnya bercampur dengan penulisan selain Al-Quran. Tidak termasuk misalnya di sini, bagaimana sekiranya kita menulis artikel, atau menulis khutbah jum’at, atau khutbah hari raya, atau lain yang di situ teks jelas muatan datanya yang tidak bercampur data dengan yang lain.

Menulis hanya untuk naik pangkat?

Dari keterangan di atas jelas, bahwa tugas membaca dan menulis itu sangat penting. Saking pentingnya membaca, maka dalam Al-Qur’an ayat yang turun pertama saja sudah langsung memerintahkan kita Iqra’ yakni, bacalah olehmu Muhammad. Tentu suruhan membaca di sini bukan hanya untuk Nabi saw, melainkan juga untuk segenap umatnya. Selain membaca, menulis juga adalah pengimbangannya yang sama ditan- tang kepada kita. Misalnya, di surat Al-Qalam, Allah berfirman kepada kita dengan ber- sumpah dengan Al-Qalam. Firman-Nya, “Nun, Wal Qalami Wamaa Yasturuun.” Artinya; Nun, demi Qalam dan apa-apa yang tertulis.

DariĀ  dua ayat ini sangat jelas, bahwa banyak membaca dan banyak menulis adalah tugas bagi segenap muslim, terutama yang terpelajar. Ia tugas bagi peradaban yang mestilah dilakukan dari sehari ke sehari dalam kehidupan. Dengan ini, idealnya seorang muslim yang terpelajar itu sesuai dengan kemampuan masing-masing adalah menulis.

Sungguh sangat beruntung: jika banyak membaca dan terus menulis setiap hari dapat dilakukan setiap muslim di dalam kehidupan ini. Kehidupannya akan penuh dengan prestasi baik karena berisi amal-amal baik yang mengekalkan tinggalan bagi peradaban ini. Lebih-lebih mereka yang sudah pas niatnya, bahwa menulisnya adalah untuk mencerdaskan umat dalam peradaban di dunia ini.

Dengan biasa menulis setiap hari, kita mendapatkan limpahan pahala amal jarinya yang tiada henti. Persoalan baik apa saja, atau problematik yang perlu diselesaikan apapun menjadi tantangan bagi kita untuk terus hadir menulis setiap hari. Dan tentu dalam waktu yang tidak terlalu panjang, kita akan termasuk orang yang benar-benar siap menjadi penulis yang berprestasi, dan menulis menjadi kebiasaan kita. Kalaupun menulis setiap hari, dengan melakuka pembiasaan membaca yang berkelanjutan akan tidak ada habis-habisnya bahan untuk kita tulis.

Namun, sungguh tragis dan akan nyaris mandeg, jika tantangan menulis hanya untuk kenaikan saja. Kenaikan pangkat, yang bagi tenaga dosen hanya berlaku dua tahun sekali. Jika hanya untuk ini makan menulis bukan lagi merupakan tugas harian yang menantang kita untuk menulis. Dengan menulis yang mestinya berlaku semboyan alah bisa karena biasa, dengan tantangan hanya menulis secara insidental, maka menulis bukan lagi menjadi kebiasaan tetapi malah menjadi beban. Karena kita sudah lupa dengan tata aturan menulis karena menulis hanya dilaksanakan tahunan, paling pol hanya persemester mempersiapkannya.

Maka menulis hanya untuk memenuhi kebutuhan naik pangkat bukan langkah yang terpuju. Benar Prof Irwan Abdullah, ketika ia mengatakan dalam salah satu presentasi nya bahwa menulis hanya untuk kenaikan pangkat, harus diltinjau kembali. Beliau menantang bahwa yang benar, kita perlu menulis setiap hari. Dicontohkan beliau, bahwa banyak orang-orang baik melakukan penulisan hariannya setiap pagi. Untuk beliau sendiri, secara istiqamah, menulis sejak pukul 3 dinihari, yang diusahakan bahwa setiap tulisan yang dimulai tetap diusahakan untuk selesai ketika itu, minimal draft kasarnya. Sedang data yang akan menjadi pendukung dari konsep atau draft yang ditulisnya, bisa dilengkapi di waktu-waktu lain selain itu. Bahkan, kalau ada tantangan untuk mengisi seminar, beliau selalu menyempatkan pengisian seminarnya itu dengan membuat makalah sekitar 9-10 halaman dengan ketikan satu spasi.

Dengan begitu, tiba-tiba untuk kenaikan pangkat beliau menjadi guru besar pada tahun 2005 sudah tinggal mengumpulkan. Karena dokumen, terutama dari kebiasaannya menulis sudah setiap hari disiapkan sebelumnya. Dan tinggal menatanya, dan menghitungnya, sehingga cukup mudah memenuhi tugas bagi prosesnya ke guru besar.

Peringkat Tulisan

Tentu saja pengalaman menulis akan membawa penulisnya mudah menyesuaikan diri bagi peningkatan kualitas tulisannya. Bahwa berdasarkan pengalaman, para penulis bisa menuliskan ilmunya dalam peringkat yaitu dari yang terbawah sampai ke yang teratas. Misalnya, untuk mahasiswa S1 dan kalangan umum, hanya ditantang mampu menulis yang bersifat memberi gambaran apa yang dilihatnya. Datanya mampu ditulis apa adanya, dan kemudian dianalisis sesuai dengan peringkat deskripsinya.

Bagi orang yang sudah biasa menulis, mereka akan bisa naik lagi ke peringkat memberi penjelasan, sehingga akan dapat menuntun pembacanya mudah memahami apa yang dibentangkan tulisannya sehingga gampang dicerna arah tulisannya. Mereka sudah naik ke tingkat eksplanasi.

Naik lagi, berdasarkan pengalamannya, penulis bisa juga sampai ke tingkat di atasnya yaitu menginterpretasi. Karena tulisan selain bisa mudah dipahami penjelasannya, juga bisa dilacak ke hal-hal yang ada di dalam data itu atau di balik data itu sendiri, hatta ke data yang sangat tersembunyi sekalipun.

Dan seterusnya, dimana penulisan selain dapat mereka-reka teori, akhirnya sampai kepada arah-arah yang memberikan wisdom dalam kehidupan ini. Bisa jadi meluruskan apa yang salah, apa yang luput dari perhatian kita, apa yang umum dilakukan namun ternyata isinya kurang tepat. Hingga dari penulisan benar-benar mampu memperkaya pembacanya dengan data-data yang mencerahkan, sehingga hidupnya benar-benar memperoleh inspirasi huda yang membawa pada ketenteraman dan kebahagiaan dalam mendekati Tuhan Kuasa

Akhirnya, menulis akan selalu bisa segar kalau dilakukan sehari ke sehari, dan bisa terus menulis jika sebagai penulis kita juga banyak membaca dari banyak sumber. Dari sini, ibarat ceret yang akan menuangkan isi minuman, ceret itu akan terus dapat diperkaya (isinya) dengan minuman untuk kemudian mudah dituangkan isinya karena selalu diisi dengan bacaan-bacaan yang memperpadat data bagi penulisan (Erfan Soebahar).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *