Mengikuti Kuliah Program Magister di Makassar Periode 1992-1994

Pada tahun 1992, mengikuti kuliah program magister di suatu perguruan tinggi bukan hal mudah. Suasana tes masuk S2 di kementerian agama, yang ketika itu masih departemen agama, jauh berbeda dari sekarang. Di mana-mana, sudah dibuka program pendidikan magister. Bahkan, pada masa sekarang, program doktor digalakkan di pelbagai kesempatan. Mereka yang siap hidup berprestasi, ditantang menempuh program doktor. Misalnya, ada program baru Kementerian Agama RI untuk mencetak 5.000 doktor.

Pada era 90-an, untuk mengikuti tes masuk saja kita mesti siap menunggu kelulusan yang berlapis-lapis. Belum pasti, yang pinter sekalipun namun dia baru masuk menjadi pendidik di perguruan tinggi, dalam sekali tes akan lolos menjadi mahasiswa S2. Maklum, ketika itu peserta tes masuk pascasarjana (program S2) tidak kurang dari 800 orang pada setiap kali testing, sedang yang lulus tes biasanya berkisar 80 orang, yang kuliah S2-nya nanti mesti siap diberi beasiswa namun ditempatkan di mana saja tidak dengan tidak boleh milih sendiri.

20131210_075538-1

Bersama Prof Harun Saat Istirahat di Makassar

Kebijakan kuliah saat ini, kita siap ditempatkan di salah satu dari empat perguruan tinggi tempat penyelenggaraan S2 ketika itu, yaitu IAIN/UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, IAIN/UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, IAIN/UIN Sultan Alauddin Ujung Pandang/Makassar, serta IAIN/UIN Ar-Raniry Banda Aceh.

Kuliah S2 di Makassar

Ada beberapa konsentrasi yang dimiliki oleh tiap-tiap penyelenggara S2 ketika itu. Pada IAIN/UIN Jakarta, studi Islam atau pengkajian Islam dapat menempuh pendidikan magister yang lebih banyak, setiap mahasiswa dapat memilih studi sesuai dengan bidang mengajar yang ditekuninya. Akan tetapi mereka yang memiliki penguasaan bidang filsafat, teologi Islam, dan tafsir hadis, lebih berpeluang menekuni studi di Jakarta. Pada IAIN/UIN Aceh, mereka yang menekuni bidang fikih atau hukum Islam banyak mendapatkan peluang mengembangkan diri. Untuk IAIN/UIN Yogyakarta, ketika itu bidang filsafat dan pendidikan Islam, mendapatkan peluang untuk pengembangan dirinya.

Saya, penulis artikel ini, beroleh kesempatan mengikuti kuliah magister di Makassar. Ketika itu, IAIN/UIN Alauddin, lebih banyak mendapatkan wibawa dari keilmuan Prof Quraish Shihab, dengan para alumnus di bawahnya seperti Prof. Abdul Muin Salim dan Prof. Syuhudi Ismail. Dari kedua beliaulah, studi tafsir dan studi hadis berkembang segar di IAIN Alauddin. Dan dari basis ilmu di S2 di situlah, kami beroleh penguasaan ilmu dan leteratur yang cukup ketika itu untuk menekuni bidang Studi Tafsir dan Studi Hadis.

Pada tahun 1990-an, tepatnya sejak tahun 1992, utusan untuk mengikuti program S2 dari Jawa Tengah adalah Drs. M. Erfan Soebahar, Drs. Rofi’i Kurdi, serta Drs. Budiharjo. Masing-masing berasal dari Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang, Fakultas Syari’ah IAIN Walisongo Semarang, dan Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Salatiga.

Ada Kuliah Non-SKS

Selain bidang studi Islam, pada semester kedua, kami mendapatkan perkuliahan Non-SKS tapi wajib diikuti oleh semua mahasiswa. Perkuliahan itu misalnya, IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial) diisi oleh Dr H. Asnawi, MA untuk bidang Sosiologi, sedang untuk ilmu Antropologinya diisi oleh Prof Dr Abu Hamid; IPA (Ilmu Pengetahuan Alam) diisi oleh………………….. dari UNHAS; Studi filsafat umum diisi oleh Prof. Dr. Sahabuddin Tumpu, ¬†Filsafat Ilmu dan penulisan karya ilmiah kualitatif diisi oleh Prof Dr. H. Mattulada, sedang yang kuantitatif diisi oleh Prof. Dr. Dja’ali, MA.

Semua mata kuliah ini adalah mata kuliah Non-SKS yang wajib diikuti oleh semua mahasiswa, yang nantinya berguna bagi kami untuk mengkaji hal-hal dalam studi Islam yang dapat dijadikan pendekatan bidang studi.

 

Semester Tiga: Persiapan Tesis

Berbekal ilmu-ilmu dalam studi Islam dengan SKS penuh dan ilmu penunjang wajib yang Non-SKS, maka kesiapan mahasiswa untuk menulis tesis relatif dalam Studi S2 di Makassar menjadi lebih siap. Untuk itu, maka ketika memasuki semester III para mahasiswa sudah boleh menyiapkan diri guna mengajukan proposal tesis bagi penyiapan penyelesaian studi mereka (Erfan S).

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *