Nyantri di Kiai Zhafir Salam 1972-1975

Setelah lama berguru kepada Ayah sendiri, tahun 1975 saya nyantri di Jember. Di Kota inilah berdiri PP Al-Fattah, yang diasuh K.H. Zhafir Salam. Beliau adalah kakak ipar dari K.H. Ahmad Shiddiq; suaminya Nyai Zulaecha. Kai Zhafir ini selain mondok di pelbagai pesantren di Indonesia, pernah mondok cukup lama di Makkah al-Mukarramah.

Di PP Al-Fattah, setiap santri diberi kesempatan memilih. Murni mondok di pesantran, atau mondok sambil sekolah umum atau sekolah agama yang ada di kota Jember. Dari aturan demikian, maka para santri berdatangan memasuki pondok ini. Mereka sekolah sejak dari tingkatan SLTP sampai dengan perguruan tinggi. Semua dibolehkan mau masuk pendidikan apa saja, yang penting ketika di pesangtren mereka wajib mengikuti pengajian kitab pagi dan malam, bagi yang berhalangan bisa juga mengikutinya di sore hari.

Dari aturan yang menarik itu maka santrai PP Al-Fattah, tergolong banyak. Mereka yang sekolah di Madrasah Tsanawiyah atau SLTP sampai dengan perguruan tinggi baik IAIN, maupun UNNEJ. Penulis rubrik ini, termasuk santri PP Al-Fattah, yang masuk di pondok ini sejak 1972 sampai dengan 1975.

Pada tahun itu, sudah ada aturan bagi para penghuni pondok. Selain boleh sekolah lain di luar pondok pesantren, semua santri wajib sekolah sore yaitu madrasah tsanawiyah, dan juga madrasah aliyah. Dengan aturan itu, maka selain memasuki SP IAIN atau Sekolah Persiapan IAIN, maka penulis pernah dua tahun menyelesaikan MTs PP Al-Fattah karena dalam dua tahun bisa menyelesaikan sekolah di MTs Al-Fattah; lalu tahun setelahnya bisa bersekolah lagi di Madrasah Aliyah PP Al-Fattah Jember.

Dengan mematuhi aturan, maka umumnya santri yang berada di PP Al-Fattah selain mengantongi pendidikan tambahan sekolah formal mereka juga beroleh ilmu kitab-kitab dari Kiai Zhafir langsung. Di tahun ini, kiai menyelesaikan kitab-kitab Kifayatul Akhyar, Fathul Qarib, Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim, Syarah Sullam Taufiq, Tajridus Sharih, Bidayatul Hidayah, Imrithi, dan Alfiyah Ibnu Malik.

Ada yang unik dalam berguru kepada Kiai Zhafir, para santri disiapkan untuk membuat pondok sendiri. Umumnya mereka membuat pondok dari bambu dan kayu, lalu diberi asesories yang menarik, sehingga punya kesan khusus bagi yang melihatnya. Pondoknya lumayan, masing-masing tampil dalam keunikannya karena pondok hanya memberi patokan umum, sedang kreatifitasnya diserahkan kepada masing-masing santri untuk  mennyempurnakannya.

1129

1,129 thoughts on “Nyantri di Kiai Zhafir Salam 1972-1975

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *