Posisi Kejujuran dalam Kehidupan

Dalam hadis yang diriwayatkan Ibnu Mas’ud r.a., Nabi saw bersabda, “Sesungguhnya jujur itu menunjuk pada suatu kebajikan, sedang kebajikan memberi petunjuk ke surga. Seseorang yang terus menerus berlaku jujur hingga menjiwai dan menjadi sikapnya maka ia ditetapkan di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Selanjutnya dusta memberi petunjuk ke perilaku keji, sedang perilaku keji dapat menyampaikan kita ke neraka. Seseorangyang terus menerus berlaku dusta hingga menjiwai dan menjadi sikap nya maka ditetapkan di sisi Allah sebagai pendusta”(Hadis Muttafaq ‘Alaih).

Jujur adalah ajaran yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan, baik di negeri dunia sekarang maupun negeri akhirat yang akan datang. Sekalipun dalam hiruk pikuk sekarang terkadang kejujuran itu diplesetkan atau diprosokkan ke beragai posisi hingga seolah semu, tapi pada saat yang sama ditemukan praktek- praktek tetap dipakainya kejujuran itu dalam kehidupan.

Pengertian Jujur
Benar atau jujur adalah sesuatu yang sesui dengan kenyataan. Jika apa yang dikatakan, disampaikan, atau dinyatakan sesuai dengan yang semestinya maka ia disebut benar atau jujur. Jujur dikatakan juga sesuainya data dengan keadaan yang sesungguhnya; tanpa dipoles fakta itu sudah benar karena kenyataannya pas begitu.

Jujur tidak bisa dipisahkan dari kebenaran dan kebaikan. Karena jujur itu memang berisi suatu yang benar, memi liki kebaikan, dan jika dilakukan dengan ikhlas tentu ia berbalas surga. Dari situ, dalam dunia ilmu, trasaksi, jaringan, institusi atau organisasi tidak bisa dipisahkan dengan kejujuran. Tegasnya, tetap perlu ada di dalamnya kejujuran.

Kejujuran: Milik dan Sikap
Kejujuran itu adalah penilai bagi manusia unggul atau manusia sekadar manusia hidup. Dengan memiliki kejujuran, seseorang terpercaya di masa Nabi diakui sebagai sahabat periwayat hadis, lalu tabiin, dan tabiit tabiin yang sah riwayatnya. Jika saja ia dhabit dan sekaligus jelas kualitas riwayatnya, disebutlah mereka dengan orang tsiqah, atau shaduq. Sedang jika bohong, walau sekali, tidak bisa menyandang gelar itu, tidak layak dipercaya sehingga disebutnya dengan kadzdzab (pendusta). Sang pendusta tidak dipercaya, terutama bagi penyampaian hadis yang berasal dari Nabi saw.

Dari situ, memiliki kejujuran dan bersikap jujur merupakan kebutuhan yang akan mendongkrak kualitas keunggulan pribadi seseorang. Dan jika jujur dan cerdas atau dhabit itu, menyatu dalam pribadi seseorang maka orang itu sudah layak diterima dan dianggap sah apapun yang berasal dari dirinya; ucapannya, pernhataannya, beritanha, riwayatnya.

Orang jujur dan sekaligus berkecerdasan, menjadi penyejuk zaman. Dinamika zaman perlu kehadirannya, baik berupa data lama maupun data terbarunya. Karena secara faktawi, dari sumber itulah diperlukan fakta bagi mengambil keputusan dalam urusan yang bersangkut paut dengan pengambilan solusi kehidupan (Erfan S).

21 thoughts on “Posisi Kejujuran dalam Kehidupan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *