Menyeminarkan Hasil Penelitian dari Visiting Professor

Setelah meneliti dan melaporkan hasilnya ke IAIN Walisongo, maka hari Kamis inilah saat menyeminarkan hasilnya. Yaitu hasil laporan yang selama ini saya buat dan mewujudkan sosoknya dalam perjalanan proses final hasil akhirnya.

Seminar hasil kunjungan kami ke Australia, siap diseminarkan. Acara seminar, memaparkan tiga kelompok peserta, yaitu peserta dari kalangan program doktor dalam rangka pembuatan dan pematangan disertasinya, post doktor yang membuat penelitian setelah mereka sama bergelar doktor, dan visiting profesor yang membuat penelitian/penulisan buku setelah sama meraih guru gelar guru besar. Masing-masing dari kelompok peserta ini mempresentasikan makalah di atas power point pada acara seminar yang diselenggarakan di Hotel Patra Jasa. Acara dilaksanakan pada Hari: Kamis, pukul 08.00 sampai pukul 15.00 WIB.

Saya pada kesempatan ini akan memresentasikan makalah berjudul “Hadis-Hadis Populer Pendidikan: Kritik Sanad dan Matan.” Dalam keterbatasan yang ada, makalah ini berisi rekaman dari laporan, yang ditulis dalam 100 halaman lebih. Adapun rincian detailnya dapat dilihat berikut ini.

Abstrak

Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui hadis-hadis populer yang bermasalah dalam pendidikan dari segi kualitas sanad dan matannya. Setelah men-takhrij dan mengumpulkan data hadis-hadis serta ilmu hadis melalui studi kepustakaan lalu menganalisis dengan deskriptif analisis sanad serta matan dan menginterpretasikan hasilnya, diperolehlah hasil penelitian. Pertama, hadis adalah suatu yang disandarkan kepada Nabi saw yang tertuang dalam kitab atau buku, yang jika benar maka disebut wahyu Allah, dan jika tidak disebut hadis dhaif, bisa juga bukan hadis atau hadis maudhu’. Kedua, tidak semua ungkapan yang populer di masyarakat yang disandarkan kepada Nabi saw layak disebut hadis; faktanya ada yang sanadnya lemah, atau ada periwayatnya tidak dikenal, ada yang berupa ucapan tokoh yang diklaim sanad. Dari situ, variasi hadis populer bermasalah dalam pendidikan terdapat empat kategori: bersanad lengkap tetapi periwayatnya ada yang asing; bermatan dengan pola perintah dan informasi; teksnya tidak bersanad tetapi terhububung pada sosok tokoh dan matannya baik; ada yang matannya disebut hadis tetapi sanadnya tokoh agama, yang diriwayatkan karena ada mis-persepsi tentang tokoh; dan ada yang berpola rangkaian sanad dan matan terpisah lalu dalam penyebaran digabung menjadi satu hadis utuh.

 

Kata Kunci: Hadis populer, pendidikan, kritik, sanad, matan

 

A. Pendahuluan

Hadis merupakan sumber ajaran Islam, yang tak lain dari wahyu Allah. Maka mengamalkan hadis atau menjalankan hadis dalam kehidupan sama dengan menjalankan ajaran agama, sebab hadis adalah hujah dalam hidup beragama. Dari sinilah, maka hadis menjadi pegangan penting dalam Islam, yang berkaitan dengan Islam; baik diposisikan setelah Al-Qur’an maupun yang mendampingi Al-Qur’an.

Dalam fenomena kehidupan, hadis tampil dalam dua versi. Pertama, ada hadis-hadis yang memang berasal dari Nabi saw. Kedudukannya jelas karena diriwayatkan oleh para periwayat hadis dalam jumlah yang banyak, sehingga tidak mungkin untuk bersepakat dusta (mutawatir). Dalam konteks seputar ini, ada juga hadis yang tidak diriwayatkan oleh periwayat banyak atau punya riwayat tunggal (ahad) tetapi statusnya benar berasal dari Nabi saw (muttashil) sehingga tidak mungkin berasal dari selain Nabi saw. Hadis-hadis yang sejenis ini, adalah berasal dari Nabi saw, tetapi statusnya tidak seperti kriteria pertama, maka statusnya adalah dalam kemungkinan atau dugaan (zhan). Hadis-hadis dalam status demikian adalah layak diteliti, namun untuk membuatnya ragu diamalkan, tetapi untuk melihat statusnya apa layak disebut hadis shahih ataukah hadis hasan.

Kedua, selain bentuk di atas terdapat hadis-hadis yang mirip bentuk pertama yang menyebar di kalangan masyarakat, namun ia kurang tepat disebut hadis Nabi. Teksnya tertulis dalam bahasa Arab dan dikaitkan pada Nabi, sehingga mengandung pesan di antaranya menjelaskan soal seputar pendidikan. Keberlakukannya sudah umum di kalangan umat, karena sering disampaikan dalam acara-acara ceramah, khutbah-khutbah, juga pembelajaran dalam dalam kitab atau buku-buku. Dari kenyataan itu dapat dipahami jika hadis-hadis dimaksud sudah begitu populer dan nyaris tidak terbantah, sehingga tidak diragukan bahwa hadis dalam konteks dimaksud dianggap “berasal” dari Nabi saw.

Padahal, jika hadis-hadis dalam konteks dimaksud dihubungkan kepada Nabi saw, sulit meyakini statusnya sebagai benar-benar tepat disebut hadis. Baik dilihat dari sudut sanad (rangkaian periwayat), maupun matn (materi)nya, statusnya tetap dan selalu akan diragukan untuk disebut hadis. Namun, jumlah hadis-hadis dimaksud tidaklah sedikit.

Bertolak dari pemikiran di atas, maka perlu diadakan penelitian untuk memperoleh pengertian dan pemahaman bahwa hadis dimaksud adalah ditemukan adalah hadis, atau sekadar hadis populer yang bernilai lemah, atau bukan hadis sehingga jelaslah sosoknya di tengah-tengah kehidupan beragama.  Pendek kata, ia hadis tetapi lemah ataukah  ditemukan hanyalah perkataan seorang tokoh dan memang bukan hadis.

Tulisan ini bertujuan, untuk menjawab pertanyaan: (1) apa yang dimaksud dengan hadis dan hadis populer pendidikan, (2) bagaimana asal usul dan kualitasnya, dan (3) bagaimana nilai kualitas hadis-hadis populer pendidikan itu dilihat dari segi sanad dan matannya?

 

B. Metode

Tulisan ini diperoleh dari hasil penelitian, yang dilaksanakan  dengan pendekatan dan metode berikut ini.

  1. Pendekatan Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif. Data yang digali dibatasi hanya berupa data dari bahan-bahan kepustakaan, berupa hadis-hadis populer pendidikan yang relevan dengan pembahasan dari sejumlah kitab hadis, buku, atau jurnal, baik yang ada di perpustakaan IAIN Walisongo maupun yang ada di luar Walisongo yaitu yang diperoleh di Perpustakaan Universitas Queensland Brisbance.

  1. Metode Pengumpulan dan Analisis Data

Data yang dikumpulkan mencakup dua kelompok data, yaitu data tentang hadis-hadis populer pendidikan yang relevan dengan permasalahan, dan data tentang teori ilmu hadis mencakup tentang teori takhrij, rijal al-hadits, naqd al-hadits dari sejumlah dokumentasi kitab dan buku di pustakaan.  Selain melalui dokumen kitab dan buku, data penelitian juga diperkaya dengan teknik wawancara misalnya, yang digali melalui wawancara dengan antara lain, Prof. Dr. Abdallah ketika menyempatkan hadir di Universitas Griffith Brisbance Australia.

Data yang diperoleh dengan teknik dokumentasi maupun wawancara diolah atau dianalisis dalam suatu analisis data dengan metode deskriptif analitis. Data hadis-hadis populer yang diperoleh dilacak asal-usulnya — baik sanadnya (melalui identitifikasi sanad (i’tibar), pembuatan skema, dan persambungan sanad (ittishal al-sanad) maupun matan hadis (melalui teknik perbandingan dengan al-Qur’an, hadis, kesejarahan, dan akal sehat) — sehingga diketahui dengan tepat nilai kualitas dan kedudukan data sementara, sebelum dianalisis lanjut untuk menarik kesimpulan di akhir penelitian. Demikian pula, data teoretik dideskripsikan dalam landasan teori, kemudian dianalisis dengan dibandingkan dengan teori lain dan dengan data hadis yang diperoleh, sehingga dapat digunakan untuk menganalisis dan menarik kesimpulan bagi fakta yang ditarik kemudian bagi kesimpulan penulisan.

Dengan ungkapan lain, setelah data yang diperoleh dideskripsikan dalam landasan teori dan landasan data sehingga terlihat konsep, indikator,  dan data dalam suatu hubungan yang jelas, kemudian dianalisis dengan takhrij dan telaah sanad dan matan hadis dengan melakukan intrepretasi historis fenomenologis, akhirnya ditariklah kesimpulan yang tak lain dari temuan dari pembahasan ini.

 

C. Hasil Penelitian: Deskripsi Takhrij Lima Hadis

Ada lima hadis yang masing-masing di-takhrij, sehingga terlihat rangkaian sanadnya sebagai berikut ini.

  1. Hadis tentang Perintah Mencari Ilmu di Negeri Cina

Berdasarkan pelacakan beberapa leteratur, maka data hadis yang dicari ditemukan dalam lima buah kitab kitab:

اطْلُبُوا الْعِلْمَ وَلَوْ بِالصِّينِ , فَإِنَّ طَلَبَ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

Carilah oleh kalian ilmu sampai di negeri Cina, karena sesungguhnya mencari ilmu itu wajib atas setiap muslim.

Pertama, hadis ini terdapat dalam al-Madkhal ila al-Sunan al-Kubra, karya Ahmad bin al-Husain al-Baihaqi  (w.458 H), halaman 421.

أَخْبَرَنَا أَبُو طَاهِرٍ الْفَقِيهُ، أبنا أَبُو حَامِدِ بْنُ بِلَالٍ، ثنا إِبْرَاهِيمُ بْنُ مَسْعُودٍ الْهَمَذَانِيُّ، ثنا الْحَسَنُ بْنُ عَطِيَّةَ الْقُرَشِيُّ، ثنا أَبُو عَاتِكَةَ الْبَصْرِيُّ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «اطْلُبُوا الْعِلْمَ وَلَوْ بِالصِّينِ , فَإِنَّ طَلَبَ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ» هَذَا حَدِيثٌ مَتْنُهُ مَشْهُورٌ , وَأَسَانِيدُهُ ضَعِيفَةٌ , لَا أَعْرِفُ لَهُ إِسْنَادًا يَثْبُتُ بِمِثْلِهِ الْحَدِيثُ وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Hadis ini dikutip lengkap dengan sanadnya, yang dikomentari oleh perawinya sebagai hadis yang matannya masyhur, tetapi sanadnya dha’if.

Kedua, hadis berikut ditemukan dalam kitab Syu‘ab al-Iman, Juz III, karya Ahmad bin al-Husain al-Baihaqi (w. 458 H), halaman 193.

أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللهِ الْحَافِظُ، أخبرنا أَبُو الْحَسَنِ عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عُقْبَةَ الشَّيْبَانِيُّ، حدثنا مُحَمَّدُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ عَفَّانَ، ح وَأَخْبَرَنَا أَبُو مُحَمَّدٍ الْأَصْبَهَانِيُّ، أخبرنا أَبُو سَعِيدِ بْنُ زِيَادٍ، حدثنا جَعْفَرُ بْنُ عَامِرٍ الْعَسْكَرِيُّ، قَالَا: حدثنا الْحَسَنُ بْنُ عَطِيَّةَ، عَنْ أَبِي عَاتِكَةَ، – وَفِي رِوَايَةِ أَبِي عَبْدِ اللهِ – حدثنا أَبُو عَاتِكَةَ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” اطْلُبُوا الْعِلْمَ وَلَوْ بِالصِّينِ، فَإِنَّ طَلَبَ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ ” ” هَذَا حَدِيثٌ مَتْنُهُ مَشْهُورٌ، وَإِسْنَادُهُ ضَعِيفٌ ” وَقَدْ رُوِيَ مِنْ أَوْجُهٍ، كُلُّهَا ضَعِيفٌ

Hadis ini juga diriwayatkan lengkap dengan rang-kaian sanadnya, sekaligus diberi komentar oleh al-Baihaqi sama seperti hadis sebelumnya.

Ketiga, hadis tersebut ditemukan pada kitab Jami’ al-

Bayan al-‘Ilm wa Fadhlihi, Juz I, karya Yusuf bin ‘Abd Allah Ibn ‘Abd al-Barr al-Qurthubi (w. 463 H) dalam hlm. 28, 30 dan 37

وَقَرَأْتُ عَلَى أَبِي الْقَاسِمِ خَلَفِ بْنِ الْقَاسِمِ بْنِ سَهْلٍ، أَنَّ أَبَا بَكْرٍ مُحَمَّدَ بْنَ الْعَبَّاسِ بْنِ وَصِيفٍ الْأَبْزَارِيَّ حَدَّثَهُ بِغَزَّةَ قَالَ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْحَسَنِ بْنِ قُتَيْبَةَ قَالَ: حَدَّثَنَا الْعَبَّاسُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ، نا الْحَسَنُ بْنُ عَطِيَّةَ، ثنا طَرِيفُ بْنُ سُلَيْمَانَ أَبُو عَاتِكَةَ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «اطْلُبُوا الْعِلْمَ وَلَوْ بِالصِّينِ فَإِنَّ طَلَبَ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ»

Hadis ini dikutip lengkap dengan sanadnya, tetapi tidak disertai dengan komentar dari perawinya.

Keempat, dalam Kitab Tartib al-Amali al-Khumaisiyyah, Juz I, karya Yahya bin al-Husain al-Jurjani (w. 499 H), halaman 77 disebutkan:

 حَدَّثَنَا أَبُو نَصْرٍ الْفَرُّخَانُ بْنُ أَحْمَدَ الْفَرْخَانِ الشَّافِعِيُّ الْقَزْوِينِيُّ، بِقِرَاءَتِي عَلَيْهِ بِهَا، قَالَ: أَخْبَرَنِي أَبُو نَصْرٍ عَبْدُ الْكَرِيمِ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ مُحَمَّدٍ الشِّيرَازِيُّ الدَّرَاوَنْدِيُّ ابْنُ بِنْتِ بِشْرٍ الْحَافِي، قَالَ: أَخْبَرَنَا جَدِّي أَبُو عَبْدِ اللَّهِ مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرِ بْنِ أَحْمَدَ الشِّيرَازِيُّ الدَّرَاوَنْدِيُّ، قَالَ: أَخْبَرَنَا أَبُو سَعِيدٍ أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ زِيَادٍ الْأَعْرَابِيُّ الْبَصْرِيُّ الدَّرَاوَرْدِيُّ، بِمَكَّةَ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو عَلِيٍّ الْحَسَنُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ الصَّبَاحِ الزَّعْفَرَانِيُّ، قَالَا: حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَطِيَّةَ، عَنْ أَبِي عَاتِكَةَ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ: «اطْلُبُوا الْعِلْمَ وَلَوْ بِالصِّينِ، فَإِنَّ طَلَبَ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ»

Hadis di atas diriwayatkan lengkap dengan rangkaian sanad, tanpa diberi komentar penilaian oleh perawi/periwayatnya.

Kelima, dalam kitab al-Rihlah fi Thalab al-Hadits, halaman 72, 75, dan 76 disebutkan:

أَنْبَأَ أَبُو الْحَسَنِ عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ أَحْمَدَ بْنِ عُثْمَانَ الطَّرَازِيُّ بِنَيْسَابُورَ ثَنَا أَبُو الْعَبَّاسِ مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقُوبَ الْأَصَمُّ ثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ عَفَّانَ الْعَامِرِيُّ، ثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَطِيَّةَ ثنا أَبُوعَاتِكَةَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «اطْلُبُوا الْعِلْمَ وَلَوْ بِالصِّينِ، فَإِنَّ طَلَبَ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ»

Hadis di atas diriwayatkan lengkap dengan rang- kaian sanadnya, tanpa disertai komentar oleh perawinya.

Dari lima kutipan hadis lengkap dengan rangkaian periwayat di atas tampak, bahwa keseluruhan hadis tentang Perintah Mencari Ilmu di Negeri Cina diriwayatkan dalam kitab masing-masing oleh periwayat hadis lengkap dengan sanadnya.

Berangkat dari kutipan hadis tersebut, maka dapat dilakukan i‘tibar sanad dan pelacakan skema dari hadis tentang perintah mencari ilmu di Negeri Cina.

  1. Hadis tentang Mencari Ilmu Wajib bagi Muslimin dan Muslimat

Berbeda dengan kelompok hadis pertama, yang lengkap dengan rangkaian sanadnya, hadis kelompok kedua ini diriwayatkan oleh perawi atau periwayat tanpa menyebutkan sanad. Apakah kelompok hadis kedua ini memang tidak memakai sanad?

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مسلم ومسلمة

secara lengkap, juga ditemukan dalam lima kitab, yang masing-masing dapat dilihat berikut ini.

Pertama, dalam kitab Ma‘alim al-Tanzil fi Tafsir al-Qur’an, Juz II halaman 405, karya Al-Husain bin Mas‘ud al-Baghawi (w. 510 H) disebutkan:

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مسلم ومسلمة

Periwayatan hadis di atas tidak menyebut sanadnya, sehingga nyata bahwa sanadnya tidak bersambung, tidak terhindar dari syadz (kejanggalan) dan ‘illat (cacat).

Kedua, Muhammad bin Ya‘qub al-Fairuzabadi (w. 817 H) dalam kitab Basha’ir Dzawi al-Tamyiz fi Latha’if al-Kitab al-‘Aziz, Juz I hlm. 42, menyebutkan:

وعن النبىّ صلّى الله عليه وسلّم: “طلب العلم فريضة على كلّ مسلم ومسلمة”

Seperti hadis pertama; periwayatan hadis ini juga tidak menyebut sanadnya, sehingga dapat dinyatakan bahwa sanadnya tidak bersambung, tidak terhindar dari syadz (kejanggalan) dan ‘illat (cacat).

Ketiga, Muhammad bin ‘Umar Fakhr al-Din al-Razi (w. 606 H) dalam al-Mahshul, Juz VI, halaman 78, menyebutkan:

وثالثها قوله عليه الصلاة والسلام طلب العلم فريضة على كل مسلم ومسلمة

Periwayatan hadis di atas tanpa menyebut sanadnya, sehingga nyata bahwa sanadnya tidak bersambung, tidak terhindar dari syadz (kejanggalan) dan ‘illat (cacat).

Keempat, Muhammad bin Ahmad al-Sarakhsi (w. 483 H) dalam al-Mabsuth, Juz I halaman 2 menyebutkan:

طَلَبُ الْعِلْمِ كَمَا جَاءَ فِي الْحَدِيثِ عَنْ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَنَّهُ قَالَ «طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَمُسْلِمَةٍ» طَلَبُ الْعِلْمِ كَمَا جَاءَ فِي الْحَدِيثِ عَنْ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَنَّهُ قَالَ «طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَمُسْلِمَةٍ»

Riwayat di atas tidak disertai sanadnya, sehingga sanadnya jelas tidak bersambung, tidak terhindar dari syadz (kejanggalan) dan ‘illat (cacat).

Kelima, ‘Abdullah bin Mahmud al-Maushili (w. 683 H) dalam al-Ikhtiyar li Ta‘lil al-Mukhtar, Juz IV, hala-man 171 menyebutkan:

وَطَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ، قَالَ – عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ -: «طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَمُسْلِمَةٍ»

Riwayat hadis ini seperti sebelumnya tidak disertai dengan rangkaian sanad, sehingga sanadnya jelas tidak bersambung, tidak terhindar dari syadz (kejanggalan) dan ‘illat (cacat).

Dari kelima hadis yang dipaparkan di atas, semuanya tidak menyertakan sanad dalam periwayatan, sehingga memberi petunjuk bahwa sanad-sanadnya tidak bersambung, tidak terhindar dari syadz (kejanggalan) dan ‘illat (cacat). Maka dari keadaan itu, kuat dugaan bahwa ungkapan kata-kata atau teksnya sukar untuk dinyatakan sebagai hadis yang muttashil  kepada Nabi saw.

Karena ternyata memang tidak ada rangkaian sanad- nya, maka teks hadis di atas tidak dapat dibuat skema periwayat hadisnya. Jadi, penelusuran rangkaian sanad-nya tidak diadakan.

 

  1. Hadis tentang Mencari Ilmu Dunia Akhirat

Seperti tampak pada hadis kelompok dua (2) di atas, pada hadis kelompok tiga (3) ini, setelah ditelusuri,  periwayatnya serupa dengan keadaan yang hadis kelompok kedua. Semuanya tidak menyebutkan sanad, seperti terilihat dalam rincian berikut ini.

Pertama, Yahya bin Syaraf al-Nawawi (w. 676 H) dalam Tahdzib al-Asma’ wa al-Lughat, Juz I, halaman  53 – 54 menyebutkan:

فصل فى نوادر من حكم الشافعى، رضى الله عنه، وجزيل كلامه قال رحمه الله: طلب العلم أفضل من صلاة النافلة. وقال: من أراد الدنيا فعليه بالعلم، ومن أراد الآخرة فعليه بالعلم. وقال: ما تقرب إلى الله تعالى بشىء بعد الفرائض أفضل من طلب العلم.

Dalam kitab di atas, al-Nawawi sendiri tidak mengu-tip teks hadis dari Rasul saw. Akan tetapi, menyebutkan riwayat tentang orang yang menginginkan dunia dan akhirat dengan ilmu, sebagai perkataan yang dikemu-kakan oleh Imam al-Syafi‘i (w. 204 H).

Dari kenyataan di atas, jelas bahwa riwayat tersebut adalah pernyataan atau pandangan Imam al-Syafi’i; bukan hadis Nabi saw baik sebagian atau seluruhnya.

Kedua, Isma’il bin Umar bin Katsir al-Dimasyqi (w. 774 H) dalam Thabaqat al-Syafi‘iyyin, halaman 32 – 33 menyebutkan:

وعن الشافعي، رضي الله عنه، أنه قال: أقدر الفقهاء على المناظرة، من عود لسانه على الركض في ميدان الألفاظ، ولم يتلعثم إذا رمقته العيون واللألحاظ، وعنه أنه قال: بئس الزاد إلى المعاد: العدوان على العباد، وعنه قال: العالم يسأل عما يعلم وما لا يعلم، فيستثبت ما يعلم، ويتعلم ما لا يعلم، والجاهل يغضب من التعليم، ويأنف من التعلم. وعنه قال: ضياع الجاهل قلة عقله، وضياع العالم قلة إخوانه، وأضيع منهما من آخى من لا عقل له، وعنه قال: من استغضب فلم يغضب فهو حمار، ومن استرضى فلم يرض فهو شيطان، وعنه قال: إذا خفت على عملك العجب، فاذكر رضا من تطلب، وفي أي نعيم ترغب، ومن أي عقاب ترهب فحينئذ يصغر عندك عملك، وعنه قال: آلات الرسالة خمس: صدق اللهجة، وكتمان السر، والوفاء بالعهد، وإهداء النصيحة، وأداء الأمانة، وعنه قال: من أراد الدنيا فعليه بالعلم، ومن أراد الآخرة فعليه بالعلم.

Dalam kitab di atas, Ibn Katsir tidak mengutipnya dari Rasul saw. Riwayat tentang orang yang meng-inginkan dunia dan akhirat dengan ilmu, dikutipnya dari perkataan Imam al-Syafi‘i (w. 204 H). Maka riwayat ini bukanlah hadis, tetapi adalah perkataan Imam al-Syafi‘i.

Jadi riwayat di atas adalah tidak bersanad, sehingga nyata bahwa sanadnya tidak bersambung, tidak terhindar dari syadz (kejanggalan) dan ‘illat (cacat).

Ketiga, Yahya bin Syaraf al-Nawawi (w. 676 H) dalam al-Majmu‘ Syarh al-Muhadzdzab, Juz I, halaman 20 menyebutkan:

وَقَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ طَلَبُ الْعِلْمِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةِ النَّافِلَة وَقَالَ لَيْسَ بَعْدَ الْفَرَائِضِ أَفْضَلُ مِنْ طَلَبِ الْعِلْمِ وَقَالَ مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ

Dalam kitabnya, al-Nawawi tidak mengutip hadis dari Nabi saw, tetapi riwayat tentang orang yang meng-inginkan dunia dan akhirat dengan ilmu; adalah perkataan al-Syafi‘i (w. 204 H). Maka riwayat ini bukanlah hadis dari Rasul saw, tetapi adalah  perkataan Imam al-Syafi‘i.

Riwayat itu jelas tidak bersambung, tidak terhindar dari syadz (kejanggalan) dan ‘illat (cacat).

Setelah melakukan penelusuran di atas, berikut ini dilanjutkan untuk menelusuri hadis bagian keempat, dalam beberapa sumber.

 

  1. Hadis tentang Perumpamaan Mencari Ilmu di Masa  Kecil dan Masa Dewasa

 Hadis mengenai perumpamaan mencari ilmu di masa kecil dan masa dewasa, adalah berupa teks berikut:

طَلَبُ الْحَدِيثِ فِي الصِّغَرِ كَالنَّقْشِ فِي الْحَجَرِ

Atau, seperti redaksi:

حِفْظُ الْغُلَامِ الصَّغِيرِ كَالنَّقْشِ فِي الْحَجَرِ، وَحِفْظُ الرَّجُلِ بَعْدَ مَا يَكْبُرُ كَالْكِتَابِ عَلَى الْمَاءِ

Setelah ditelusuri rangkaian sanadnya, hadis dimaksud terdapat dalam beberapa kitab berikut ini.

Pertama, Ahmad bin al-Husain al-Baihaqi (w. 458 H) dalam al-Madkhal ila al-Sunan al-Kubra, halaman  375 menyebutkan:

وَأَخْبَرَنَا ابْنُ فِرَاسٍ، أبنا ابْنُ الضَّحَّاكِ، ثنا عَلِيٌّ، ثنا مُسْلِمُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، ثنا الْمُفَضَّلُ بْنُ نُوحٍ الرَّاسِبِيُّ، ثنا يَزِيدُ بْنُ مَعْمَرٍ الرَّاسِبِيُّ، قَالَ: سَمِعْتُ الْحَسَنَ، يَقُولُ: الْعِلْمُ فِي الصِّغَرِ كَالنَّقْشِ عَلَى الْحَجَرِ

Dalam riwayat di atas, dapat terlihat bahwa riwayat tersebut tidak disandarkan pada Rasul saw, tetapi kepada al-Hasan al-Bashri (w. 110 H) yang merupakan generasi tabi‘in. Dengan demikian, riwayat ini dapat dikategorikan hadis maqthu‘ (hadis yang disandarkan pada tabi‘in).

Di situ, ada lima periwayat yang dianggap majhul al-hal secara berturut-turut, yaitu Ibn Firas, ‘Ali, Muslim bin Ibrahim, al-Mufadldlal bin Nuh, dan Yazid bin Ma‘mar al-Rasi.

Dengan demikian, periwayat dalam sanad tersebut tidak seluruhnya tsiqah (‘adl dan dhabth), sanadnya tidak bersambung kepada Nabi saw, tidak terhindar dari syadz (kejanggalan) dan ‘illat (cacat).

Kedua, Muhammad bin Ahmad al-Dulabi al-Razi (w. 310 H) dalam al-Kuna wa al-Asma’, Juz II, halaman 639 menyebutkan:

أَخْبَرَنِي أَحْمَدُ بْنُ شُعَيْبٍ قَالَ أَنْبَأَ أَحْمَدُ بْنُ سُلَيْمَانَ الرَّهَاوِيُّ قَالَ حَدَّثَنَا زَيْدُ بْنُ الْحُبَابِ قَالَ حَدَّثَنِي مُفَضَّلُ بْنُ نُوحٍ أَبُو شُعْبَةَ الرَّاسِبِيُّ قَالَ أَخْبَرَنِي يَزِيدُ بْنُ عَمْرٍو الرَّاسِبِيُّ، عَنِ الْحَسَنِ قَالَ: الْعِلْمُ فِي الصِّغَرِ كَالنَّقْشِ فِي الْحَجَرِ

Dalam riwayat ini terlihat bahwa riwayat tersebut tidak disandarkan pada Rasul saw, tetapi kepada al-Hasan al-Bashri (w. 110 H) yang merupakan generasi tabi‘in. Dengan begitu, riwayat ini dikategorikan hadis maqthu‘. Periwayat dalam riwayat ini ada yang kualitasnya shaduq. Di samping itu, ada dua periwayat yang dianggap majhul al-hal secara berturut-turut, yaitu al-Mufadldlal bin Nuh dan Yazid bin Ma‘mar al-Rasi.

Dengan demikian, rawi dalam sanad tersebut tidak seluruhnya tsiqah (‘adl dan dlabth), sanadnya tidak bersambung kepada Rasulullah, tidak terhindar dari syadz (kejanggalan) dan ‘illat (cacat).

Ketiga, Yusuf bin ‘Abd Allah Ibn ‘Abd al-Barr al-Qurthubi (w. 463 H) dalam Jami‘ Bayan al-‘Ilm wa Fadhlihi, Juz I halaman 357 menyebutkan:

أَخْبَرَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ بْنُ سُفْيَانَ، نا قَاسِمُ بْنُ أَصْبَغَ، نا أَحْمَدُ بْنُ زُهَيْرٍ، حَدَّثَنَا أَبُو سُلَيْمَانَ الْبُخَارِيُّ، ثنا شَيْخٌ مِنْ أَهْلِ الْبَصْرَةِ عَنْ مَعْبَدٍ، عَنِ الْحَسَنِ قَالَ: «طَلَبُ الْحَدِيثِ فِي الصِّغَرِ كَالنَّقْشِ فِي الْحَجَرِ»

Dalam riwayat ini tampak bahwa riwayat tersebut tidak disandarkan pada Nabi saw, tetapi kepada al-Hasan al-Bashri (w. 110 H) yang merupakan generasi tabi‘in. Dengan begitu, riwayat ini dikategorikan hadis maqthu‘. Di samping itu, ada dua periwayat yang dianggap majhul al-hal secara berturut-turut, yaitu Abu Sulaiman al-Bukhari dan Syaikh dari Penduduk Bashrah.

Dengan demikian, periwayat dalam sanad tersebut tidak seluruhnya tsiqah (‘adl dan dlabth), sanadnya tidak bersambung kepada Rasulullah, tidak terhindar dari syadz (kejanggalan) dan ‘illat (cacat).

Keempat, ‘Abd Allah bin Muhammad al-Baghdadi Ibn Abi al-Dunya (w. 281 H) dalam al-‘Iyal, Juz II hlm. 800 menyebutkan:

حَدَّثَنِي الْحُسَيْنُ بْنُ مُحَمَّدٍ السَّعْدِيُّ، حَدَّثَنَا الْمُفَضَّلُ بْنُ نُوحٍ الرَّاسِبِيُّ، حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ مَعْمَرٍ، قَالَ: الْعِلْمُ فِي صِغَرٍ كَالنَّقْشِ فِي الْحَجَرِ

Dalam riwayat ini tampak bahwa riwayat tersebut tidak disandarkan pada Nabi saw, tetapi kepada Yazid bin Ma‘mar al-Rasi. Periwayat di dalam riwayat ini ada yang kualitasnya shaduq. Di samping itu, ada dua perawi yang dianggap majhul al-hal secara berturut-turut, yaitu al-Mufadldlal bin Nuh dan Yazid bin Ma‘mar al-Rasi.

Dengan demikian, rawi dalam sanad tersebut tidak seluruhnya tsiqah (‘adl dan dlabth), sanadnya tidak ber-sambung kepada Rasulullah, tidak terhindar dari syadz (kejanggalan) dan ‘illat (cacat).

Kelima, Ahmad bin ‘Ali al-Khathib al-Baghdadi (w. 463 H) dalam al-Jami‘ li Akhlaq al-Rawi wa Adab al-Sami‘, Juz I hlm. 310

أنا أَبُو طَالِبٍ عُمَرُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ بْنِ سَعِيدٍ الْفَقِيهُ، أنا مُحَمَّدُ بْنُ الْعَبَّاسِ الْخَزَّازُ، نا أَبُو الْعَبَّاسِ إِسْحَاقُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ مَرْوَانَ الْغَزَّالُ، نا أَبِي، نا إِسْحَاقُ بْنُ وَزِيرٍ، عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ مُوسَى، عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «حِفْظُ الْغُلَامِ الصَّغِيرِ كَالنَّقْشِ فِي الْحَجَرِ، وَحِفْظُ الرَّجُلِ بَعْدَ مَا يَكْبُرُ كَالْكِتَابِ عَلَى الْمَاءِ»

Tidak seperti kutipan yang sebelumnya, di sini  ter-lihat bahwa riwayat ini disandarkan kepada Nabi saw. Dalam riwayat ini, ada Ishaq bin Muhammad al-Ghazzal yang tidak dianggap riwayatnya dan ada perawi/peri-wayat yang majhul al-hal yaitu Ishaq bin Wazir.

Dengan demikian, periwayat dalam sanad tersebut tidak seluruhnya tsiqah (‘adl dan dhabth), sanadnya tidak bersambung kepada Rasulullah karena ada perawi yang majhul al-hal, tidak terhindar dari syadz dan ‘illat.

 

D. Pembahasan dan Implikasi Hasil

Dari pembahasan di muka jelaslah bagaimana corak lima kelompok hadis populer pendidikan, untuk kemudian dilihat dari sudut sanad dan matan sekaligus fiqh al-hadits-nya, sehingga dari analisis ini diperoleh pengertian yang luas dan utuh.

Pada bagian ini, analisis diarahkan untuk melihat kualitas sanad dan matan hadis. Analisis pertama diarahkan melihat teks hadis, biografi perawi/periwayat, serta penilaian ulama. Sedang berikutnya untuk melihat matan hadis dilihat dari sudut Al-Qur’an, hadis lain, rasio, dan cerminan redaksinya dengan kalam kenabian, sekaligus pemahaman hadisnya.

  1. Analisis Hadis tentang Perintah Mencari Ilmu di Negeri Cina

أَخْبَرَنَا أَبُو طَاهِرٍ الْفَقِيهُ، أبنا أَبُو حَامِدِ بْنُ بِلَالٍ، ثنا إِبْرَاهِيمُ بْنُ مَسْعُودٍ الْهَمَذَانِيُّ، ثنا الْحَسَنُ بْنُ عَطِيَّةَ الْقُرَشِيُّ، ثنا أَبُو عَاتِكَةَ الْبَصْرِيُّ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «اطْلُبُوا الْعِلْمَ وَلَوْ بِالصِّينِ، فَإِنَّ طَلَبَ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ» هَذَا حَدِيثٌ مَتْنُهُ مَشْهُورٌ، وَأَسَانِيدُهُ ضَعِيفَةٌ، لَا أَعْرِفُ لَهُ إِسْنَادًا يَثْبُتُ بِمِثْلِهِ الْحَدِيثُ وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Carilah oleh kalian ilmu walau di negeri Cina, karena sesungguhnya mencari ilmu adalah wajib bagi setiap Muslim.

Hadis di atas ini, apabila dianalisis sanadnya dapat dilihat sebagai berikut ini.

Kritik Sanad Hadis

Hadis yang ditakhrij oleh al-Baihaqi ini memiliki jalur sanad: Abu Thahir al-Faqih, Abu Hamid bin Bilal, Ibrahim bin Mas’ud al-Hamadani, al-Hasan bin ‘Athiy-yah, Abu ‘Athikah al-Bashri, dan Anas bin Malik.[1] Me-ngenai riwayat hidup tiap periwayat dan analisis keber-sambungan sanadnya dapat dilihat berikut ini.

  1. Abu Thahir al-Faqih (317-410 H)

Nama lengkap: Muhammad bin Muhammad al-Ziyadi al-Nisaburi

Gurunya a.l.: Abu Hamid bin Bilal, Abu al-‘Abbas al-Ashamm dan Muhammad bin al-Husain al-Qaththan

Muridnya a.l.: al-Baihaqi, al-Hakim dan al-Qusyairi

Penilaian kritikus: tsiqah imam

  1. Abu Hamid bin Bilal (240-330 H)

Nama lengkap: Ahmad bin Muhammad al-Nisaburi

Gurunya a.l.: al-Dzuhli, ‘Abd al-Rahman bin Bisyr dan Ahmad bin Yusuf

Muridnya a.l.: Abu Thahir, Abu ‘Ali dan Ibn Mandah

Penilaian kritikus: tsiqah ma’mun.

  1. Ibrahim bin Mas’ud al-Hamadani (267-270 H)

Nama lengkap: Ibrahim bin Mas‘ud bin ‘Abd al-Hamid

Gurunya a.l.: Abu Usamah, al-Qasim bin al-Hakam dan Ibn Numair

Muridnya a.l.: Ibn Abi Hatim, Abu ‘Awanah dan Ahmad bin Muhammad bin Aus

Penilaian kritikus: shaduq hasan al-hadits

  1. Al-Hasan bin ‘Athiyyah (w. 210 H)

Nama lengkap: Hasan bin ‘Athiyyah bin Najih al-Kufi

Gurunya a.l.: Abu ‘Atikah, Qais bin al-Rabi‘ dan Yahya bin Salamh

Muridnya a.l.: Ibrahim bin Mas‘ud, Ibrahim bin Ahmad dan Ibrahim bin Isma‘il

Penilaian kritikus: shaduq hasan al-hadits

  1. Abu Atikah al-Bashri (w. 164 H).

Nama lengkap: Tharif bin Sulaiman al-Bashri

Gurunya a.l.: Anas

Muridnya a.l.: al-Hasan bin ‘Athiyyah

Penilaian kritikus: munkar al-hadits

  1. Anas bin Malik (w. 93 H)

Nama lengkap: Anas bin Malik bin al-Nadlar al-Anshari

Gurunya a.l.: Rasulullah, Ubay bin Ka‘b dan Usaid bin Hudlair

Muridnya a.l. :Abu ‘Atikah, Aban bin Abu ‘Ayyasy dan Azhar bin Rasyid

Termasuk: golongan sahabat

Dari pemaparan biografi periwayat/perawi di atas, beberapa hadis dinilai tsiqah dan yang lainnya hanya sampai pada tingkatan shaduq. Namun, di dalam sanad tersebut terdapat nama Abu ‘Atikah al-Bashri (w. 164 H) yang dinilai munkar al-hadits. Dari sosok periwayat  ini, ditemukan nilai bahwa sanadnya dha‘if (lemah).

Dengan demikian, sanad hadis tersebut tidak seluruh-nya tsiqah (‘adl dan dlabth), sanadnya bersambung, tidak terhindar dari syadz (kejanggalan) dan ‘illat (cacat).

Dari analisis di atas, maka hadis tentang perintah mencari ilmu di negeri Cina merupakan hadis dhaif. Karena ada seorang periwayat, yaitu Abu Atikah al-Bashri yang terputus dengan yang lain. Dapat diduga juga bahwa Abu ‘Atikah al-Bashri yang melakukan pemalsuan hadis dengan cara yang halus tetapi cerdas.

Kritik Matan Hadis

Hadis tentang perintah mencari ilmu di negeri Cina, jika tertulis hanya sampai di bagian uthlub al-ilma walau bi al-Shin, tampak kelemahannya. Yakni kenyataan dari adanya seorang periwayat yang mungkar, yang bernama Abu ‘Atikah al-Bashri (w. 164 H). Selain adanya keter-putusan periwayat itu dengan masa Nabi saw, Islam pada masa Nabi saw belum berekspansi sampai di negeri Cina, sehingga sukar untuk menyandarkan potongan hadis ini kepada Nabi saw dari periwayat yang terputus ini.

Namun, karena potongan hadis disambung dengan sebuah potongan hadis shahih, yaitu fainna thalabal ‘ilm faridhatun ‘ala kulli muslim, maka potongan ungkapan yang asalnya tidak kuat, berubah kuat. Atau terangkat posisi matan itu menjadi lebih kuat. Hal ini bersesuaian dengan pernyataan al-Baihaqi, bahwa matan hadisnya masyhur tetapi sanadnya lemah.

Karena kemasyhurannya ditopang oleh suatu potong-an hadis shahih, maka dari sisi ini hadis ini menjadi terkesan masyhur. Dari sini pula, wibawa perintah dari kata “udhlubumenjadi suatu penopang yang kuat. Sekiranya tanpa topangan potongan “fainna thalabal ‘ilm faridhatun ‘ala kulli muslim” itu, maka kuat dugaan bahwa ia mustahil dapat dihubungkan dengan banyak sanad hadis hadis yang muttshil.

Dari sini dapat diduga kuat, bahwa hadis perintah mencari ilmu ke negeri Cina merupakan hadis palsu. Dengan demikian, dari sudut matannya hadis di atas tetap merupakan hadis palsu, namun dari segi sanadnya karena ia mengalami desain yang cerdas dari dalam seorang periwayatnya maka dapatlah menutup kekurangan di dalam kepalsuan.

Jadi dari sudut matan, hadis di atas adalah lemah sehingga diduga kuat bahwa ia adalah hadis maudhu.’

 

Fiqh al-Hadits

 Keadaan data di atas sudah sedemikian rupa menye- bar di kalangan Muslim. Lebih-lebih di Indonesia, yang dari sudut geografis memiliki letak lebih dekat dibanding Saudi Arabia ke negeri Cina. Kedekatan letak geografis tentu lebih dipermantap dengan realitas lain, yaitu banyaknya orang-orang Cina yang merantau lalu menjadi imigrasi ke Negara tercinta ini, yang banyak dari mereka menganut agama Islam.

Konon, orang-orang Cina Muslim yang pernah menghuni Nusantara ini bukan hanya menempati posisi-posisi kelas bawah, tetapi sudah menduduki posisi-posisi penting terutama di Jawa. Beberapa di antara mereka ada yang sudah menjadi orang berpengaruh di kalangan Walisongo, yang dengan pengaruhnya tentu memiliki arti yang tidak kecil bagi keberlangsungan banyak ajaran,  termasuk juga tentunya yang disebut hadis Nabi.

Namun, ungkapan Arab apapun kalau sudah lemah dari sudut sanad dan juga lemah dari sudut matan, maka data itu jelas bukan data yang meyakinkan adanya untuk disebut sebagai hadis Nabi saw sehingga data tersebut jelas memang bukan (hadis yang) berasal dari Nabi saw.

 

  1. Analisis Hadis tentang Mencari Ilmu Wajib bagi Muslimin dan Muslimat

Disebutkan pada Bab III bahwa pernyataan berikut ini diriwayatkan dengan tanpa menyebutkan sanad:

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مسلم ومسلمة

Nabi saw bersabda, “Mencari ilmu wajib atas muslim laki-laki dan muslim perempuan.”

Ungkapan di atas dikutip oleh penulisnya tanpa menyebut sanad. Oleh karena itu, pada kutipan di atas tidak diadakan pembuatan skema sebab memang tidak mungkin untuk membuat skema dari data sesuatu, dalam hal ini hadis yang tidak menyebutkan sanadnya. Dan mengadakan sanad pada suatu yang memang tidak ada, sama maknanya dengan mengada-ada, dan itu terma- suk perbuatan yang tidak boleh dilakukan.

Keadaan di atas menunjukkan, bahwa periwayatan yang tidak menyebutkan sanad itu memiliki kelemahan yang pokok; kelemahan demikian tidak saja berdampak pada sanad hadis ansich melainkan juga pada matannya.

 

Kritik Sanad Hadis

Hadis riwayat al-Baghawi di atas tidak menyertakan sanadnya. Keadaan ini bukan hanya karena sanadnya terputus, melainkan hadis ini memang tidak bersanad. Dengan demikian maka dapat dipastikan bahwa hadis ini memiliki ke-dha’ifan yang sangan parah, sehingga dari sudut sanadnya dapat dinilai bahwa ungkapan di atas adalah hadis palsu (maudhu’).

Kepalsuannya tampak dari jarak masa penerimaan hadis dari Nabi Muhammad saw. Al-Baghawi hidup pa-da abad VI H, sedangkan Rasul saw hidup pada abad I H, berjarak waktu hampir 600 tahun. Dari masa itu, sengat tidak mungkin al-Baghawi dapat langsung meriwayatkan hadis dari Rasulullah saw, yang sangat berjauhan rentang waktu kehidupannya. Jadi, dari sudut sanadnya hadis ini adalah jelas hadis palsu.

Kritik Matan Hadis

Dari sudut matan hadisnya, hadis di atas dekat matan dengan potongan hadis shahih yang diriwayatkan oleh Muslim yaitu:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مسلم

“Mencari ilmu itu wajib atas setiap muslim.”

Bedanya pada hadis di atas ini ada tambahan kata wa muslimatin. Yaitu tambahan kata yang tertulis setelah kata muslimin dalam rangkaian ungkapan tersebut.

Memang dengan adanya penambahan kata pada suatu ungkapan maka akan menjadikan ungkapan itu semakin jelas dari detail kalimatnya. Apa-apa yang tadinya me-merlukan penafsiran bagi memperjelasnya, yang bisa jadi diperlukan untuk menjelaskan keutuhan maksud, maka dengan penambahan kata dapat memperjelas konteks.

Namun, justru dengan adanya penambahan kata lain lah pada suatu hadis, dapat menyebabkan kepalsuan pada matan hadis itu. Dengan ungkapan lain, justru tambahan kata itulah yang menyebabkan satu hadis  yang semula shahih menjadi hadis maudhu’ atau hadis palsu.

Dengan demikian, maka hadis thalabul ‘ilmi faridha-tun ‘ala Kulli Muslimin wa Muslimatin merupakan hadis maudhu’. Kemaudhu’annya disebabkan olej adanya tambahan dari ungkapan yang memang tidak disabdakan oleh Nabi saw.

 

Fiqh al-Hadits

Mencari ilmu adalah wajib bagi semua Muslim di dalam kehidupan, karena mencari ilmu itu perintah ke-agamaan dari Allah Swt kepada semua umat Islam.

Siapapun yang telah mencarinya dengan sungguh-sungguh akan diangkat prestasinya oleh Allah beberapa derajat, seperti firman Allah dalam Al-Qur’an:

يرفع الله الذين آمنوا منكم والذين أوتوا العلم درجات

Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat (Q.S. Al-Mujadilah/58: 11).

Ayat ini menunjukkan dengan jelas bahwa derajat orang-orang beriman dan yang berilmu pengetahuan akan diangkat oleh Allah Swt beberapa derajat, selama mereka melakukan pencarian ilmu pengetahuan.

Di sini pencarian ilmu itu dialamatkan kepada kalangan orang Islam secara umum, meliputi semua jenis kelamin, baik laki-laki maupun perempuan. Dengan ung-kapan lain, bahwa mencari ilmu itu adalah kewajiban bagi semua kalangan orang beriman.

Hadis yang berfungsi menjelaskan ketentuan apa saja yang tertuang di dalam Al-Qur’an tentu tidak akan jauh dari fungsinya. Maka jika beberapa hadis lain secara  umum menyebutkan bahwa mencari ilmu itu wajib bagi segenap muslim, ketentuan itu sudah mencakup laki-laki dan sekaligus perempuan. Ketidakadaan pengecualian di sini, menunjukkan bahwa hal itu sudah berlaku umum. Kalau masih dianggap kurang lengkap, maka cukupkan dijejelaskan di dalam syarah hadis bagi kelengkapannya. Namun, dengan menambahkan ungkapan “muslimat” di dalam matan bukan malah menjelaskannya, tetapi telah menambahi suatu kebenaran dengan kedustaan baru. Itu jelas suatu hadis yang palsu (maudhu’).

 

  1. Analisis Hadis tentang Mencari Ilmu Dunia Akhirat

وعن الشافعي رضي الله عنه أنه قال:… من أراد الدنيا فعليه بالعلم، ومن أراد الآخرة فعليه بالعلم.

Dari Imam al-Syafi’i r.a. bahwa beliau berkata, “… siapa yang menghendaki kehidupan dunia maka wajib atasnya mencari ilmu, dan siapa yang menghendaki kehidupan akhirat maka wajib atasnya mencari ilmu.”

Pada teks di atas, setelah ditelusuri kelengkapan ung-kapannya untuk maksud menilai sebagai hadis atau bukan hadis, ternyata bahwa ungkapan itu tidak bersanad yang terhubung kepada Nabi saw seperti yang lazim di dalam ciri-ciri suatu hadis. Yang ada hanya ungkapan huruf (‘an al-Syafi’i) yang berarti bahwa teks itu berasal dari Imam al-Syafi’i.

Dari situ kuat dugaan bahwa ungkapan di atas me-mang tidak dibuat untuk menjadikan matan suatu hadis. Karena tokoh yang menyatakan ungkapan adalah pribadi yang jauh dari sebutan mudallis. Bisa jadi, ungkapannya adalah untuk memberi motivasi kepada segenap pemeluk agama agar memiliki gairah dan ketekunan yang kuat dalam mencari ilmu karena ilmu itu memiliki posisi penting dalam agama

 

Kritik Sanad Hadis

Dari kutipan di atas, yang kelengkap teksnya sudah disebutkan di muka jelas bahwa ungkapan di atas tidak mencantumkan rangkaian sanad. Yang disebutkan di situ hanyalah bahwa ia berasal dari Imam al-Syafi’i; tidak ada sebutan lain selain dari al-Syafi’i. Dan Imam al-Syafi’i di situ, sekalipun bisa dikutip oleh siapapun, tidak mengala-matkan pernyataannya untuk menjadi sanad. Akan tetapi, al-Syafi’i adalah tokoh yang selain ahli hadis juga sangat mumpuni di bidang sastra Arab. Karya monumentalnya berupa Diwan al-Syafi’i, mempertegas kenyataan itu.

Jadi keadaan ungkapan di atas nyata memang tidak ada sanadnya. Ungkapannya itu adalah ungkapan yang dinukil dari Imam al-Syafi’i, bukan dari selain al-Syafi’i dan bukan dimaksudkan sebagai periwayatan hadis.

Apabila sejauh ini dinyatakan oleh kalangan umum bahwa teks tersebut adalah hadis maka jelas di situ bahwa ia tidak bisa disandarkan kepada Nabi saw. Maka  jika itu dianggap suatu hadis, maka hadisnya memiliki kedha’ifan yang parah, sehingga dari sudut sanadnya hadis dimaksud  adalah hadis palsu (maudhu’).

Kepalsuannya tampak, karena al-Baghawi hidup pa-da abad VI H, sedangkan Rasul saw hidup pada abad I H, sehingga tidak mungkin al-Baghawi dapat langsung me-riwayatkan hadis dari Rasul saw.

 

Kritik Matan

Mencari ilmu memang diperintahkan di dalam Islam. Bahkan derajat orang akan diangkat oleh Allah Swt dalam beberapa derajat adalah  disebabkan juga karena ilmunya.[2] Hal itu tidak dibatasi berkenaan dengan ilmu-ilmu dunia atau ilmu akhirat. Dari sini, orang yang meng- inginkan kehidupan dunia yang optimal dan juga kehidup an akhirat yang optimal, maka prasyarat keilmuan adalah  utama yang harus dipenuhi.

Imam al-Syafi’i mengetahui benar tentang hal itu. Sebab hal itu sudah dipraktekkan oleh beliau di dalam mengebatkan diri, baik dalam ilmu keduniaan seperti dalam bidang sastra Arab yang menghasilkan kitab Diwan al- Syafi’i, atau ilmu-ilmu agama seperti bidang fiqih dengan alRisalah dan al-Umm; bidang hadis dengan Musnad al-Syafi’inya, dan lain.lain. Dari situ al-Syafi’i menjadi orang ‘alim dan tangguh dalam bidang keilmuan.

 

Fiqh al-Hadits

Dari keterangan di atas, al-Syafi’i selain hebat di bidang keilmuan, juga hebat dalam menuangkan ungkap-an-ungkapan yang menarik di bidang keilmuan. Tidak terkecuali, ungkapan yang membawanya terkenal seperti yang menantang kita mencari ilmu dunia dan ilmu akhirat tersebut.

 Namun, Imam al-Syafi’i dengan ungkapannya tidak bermaksud menjadikan apa yang dinyatakan oleh beliau sebagai hadis. Saya sangat yakin akan hal itu. Sebab al-Syafi’i adalah tokoh muslim, yang dikenal benar-benar sebagai pejuang bagi terhindarnya hadis-hadis dari kebo- hongan, sehingga beliau disebut Nashir al-Sunnah.

Kembali ke pokok masalah: tentu Imam al-Syafi’i tidak menghendaki ungkapannya itu untuk menjadi hadis atau agar siapapun di belakangnya menjadikannnya hadis. Karena hal itu bertentangan dengan Al-Quran, juga ber-tentangan dengan hadis. Jelas itu, jauh dari apa yang  dikehendaki oleh Iman al-Syafi’i.

Jadi, ungkapan di atas jelas bukan hadis, melainkan ungkapan Imam al-Syafi’i. Dengan itu pula, maka jika dihubungkan pada adanya sebutan sebagai hadis, maka jelas itu adalah hadis palsu (maudhu’).

 

  1. Analisis Hadis tentang Perumpamaan Mencari Ilmu di Masa Kecil dan Masa Dewasa

 

Melalui penelusuran dari sumber aslinya, teks dari ungkapan di atas berasal dari dua teks. Pertama, berasal dari pernyataan Hasan al-Bashri yaitu:

أَخْبَرَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ بْنُ سُفْيَانَ، نا قَاسِمُ بْنُ أَصْبَغَ، نا أَحْمَدُ بْنُ زُهَيْرٍ، حَدَّثَنَا أَبُو سُلَيْمَانَ الْبُخَارِيُّ، ثنا شَيْخٌ مِنْ أَهْلِ الْبَصْرَةِ عَنْ مَعْبَدٍ، عَنِ الْحَسَنِ قَالَ: «طَلَبُ الْحَدِيثِ فِي الصِّغَرِ كَالنَّقْشِ فِي الْحَجَرِ»

Mencari ilmu hadis pada masa kecil adalah seperti mengukir pada batu.

Kemudian disebutkan dalam kesempatan lain, yang masih di seputar mencari ilmu namun dalam konteks penghafalan ilmu sebagai berikut:

أنا أَبُو طَالِبٍ عُمَرُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ بْنِ سَعِيدٍ الْفَقِيهُ، أنا مُحَمَّدُ بْنُ الْعَبَّاسِ الْخَزَّازُ، نا أَبُو الْعَبَّاسِ إِسْحَاقُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ مَرْوَانَ الْغَزَّالُ، نا أَبِي، نا إِسْحَاقُ بْنُ وَزِيرٍ، عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ مُوسَى، عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «حِفْظُ الْغُلَامِ الصَّغِيرِ كَالنَّقْشِ فِي الْحَجَرِ، وَحِفْظُ الرَّجُلِ بَعْدَ مَا يَكْبُرُ كَالْكِتَابِ عَلَى الْمَاءِ»

 

Daya hafal keilmuan (belajar ilmu) pada masa kecil seperti mengukir di atas batu, dan daya hafalan (bela- jar ilmu) pada masa sudah besar seperti menulis di atas air.

 

Kritik Sanad

Hadis yang ditakhrij oleh al-Baghdadi tersebut me-miliki jalur sanad: Ahmad bin ‘Ali bin Tsabit bin Ahmad bin Mahdi, ‘Umar bin Ibrahim bin Sa‘id, Muhammad bin al-‘Abbas bin Muhammad bin Zakariyya bin Yahya, Ishaq bin Muhammad bin Marwan, Muhammad bin Mar-wan, Ishaq bin Wazir, Muhammad bin Muslim bin ‘Ubai-dillah, ‘Ubaidil lah bin ‘Abdillah bin ‘Umar bin al-Khat-tab, dan ‘Abdillah ibn ‘Abdillah bin ‘Abdul Muthalib bin Hasyim bin ‘Abdi Manaf.[3]

Mengenai riwayat hidup periwayat yang memperli-hatkan ada atau tidaknya persambungan sanadnya dapat dilihat berikut ini.

  1. Ahmad bin ‘Ali bin Tsabit bin Ahmad bin Mahdi (393-463 H)

Nama lengkap: Ahmad bin ‘Ali bin Tsabit bin Ahmad bin Mahdi

Gurunya a.l.: Muhammad bin Abdirrahman bin Abi Nashr, Abu ‘Ali al-Ahwazi, dan Abdurrahman bin Abi Nashr al-Tamimi.

Muridnya a.l.: Ali bin Makula, Abdullah bin Ahmad al-Samarqandi, Abu al-Husain al-Thuyuri, Muham-mad Marzuq al-Za’rani, Abu Bakar ibn al-Khadhibah, serta Abu al-Na’im Abi al-Narsi.

Penilaian para tokoh: bahwa ia adalah al-Hafizh

  1. ‘Umar bin Ibrahim bin Sa‘id:

Nama lengkap: Abu Thalib ‘Umar bin Ibrahim bin Sa‘id al-Faqih al-‘Allamah

Gurunya a.l.: Abu Bakar al-Qathi’i, Ibnu Masi, Isa bin Muhammad al-Rukhzi

Muridnya a.l.: al-Khathib

Penilaian para tokoh: menurutal-Khatib: ia tsiqqah

  1. Muhammad bin al-‘Abbas bin Muhammad bin Zakariyya bin Yahya

Nama lengkap: Abu Umar bin Khayyawaihi Muham-mad bin al-‘Abbas bin Muhammad bin Zakariyya bin Yahya al-Khuzzar

Gurunya a.l.: Muhammad bin Muhammad al-Baghandi, Muhammad bin Khalf bin al-Marzaban, ‘Abdullah bin Ishaq al-Madaini, dan Abu al-Qasim.

Muridnya a.l.: Abu Bakar al-Barqani, Abu al-Fath al- bin Abi al-Fawwaris, al-‘Atiqi, al-Khallal, ‘Ali bin al-Makhassini al-Tanawwikhi, dan Abu Muhammad al-Jau hari

Penilaian para tokoh: Menurut al-Khatib al-Baghdari: ia adalah tsiqah sepanjang hayatnya.

 

  1. Ishaq bin Muhammad bin Marwan

Nama lengkap: Abu al-‘Abbas Ishaq bin Muhammad bin Marwan al-Ghazzal

Gurunya a.l.: Ayahnya

Muridnya a.l.: Muhammad bin Ja’far zawj al-Harrah, Abdullah bin Musa al-Hasyimi, Muhammad bin al-Mazhfar, Muhammad bin Ismail al-Wariq, Abu ‘Umar bin al-Hayawaih, dan Muhammad bin ‘Ubaidil lah bin al-Syahir

Penilaian para tokoh: menurut al-Daruquthi laysa mimman yahujja bihaditsihi.

  1. Muhammad bin Marwan

Nama lengkap: Muhammad bin Marwan

Gurunya a.l.: tidak diperoleh datanya

Muridnya a.l.: tidak diperoleh datanya

Penilaian para tokoh: majhulul hal

  1. Ishaq bin Wazir

Nama lengkap: Abu Ya’qub Ishaq bin Wazir

Gurunya a.l.: tidak diperoleh datanya

Muridnya a.l.: tidak diperoleh datanya

Penilaian para tokoh:

Menurut Ibnu Hajar: La yudra man dza (tidak dikenal)

Menurut Abu Khatim: Majhul.

  1. Muhammad bin Muslim bin ‘Ubaidillah (52-124 H)

Nama lengkap: Abu Bakar Muhammad bin Muslim bin ‘Ubai-dillah bin ‘Abdilla bin Syihab bin ‘Abdillah bin al- Harits

Gurunya a.l.: Ibnu ‘Umar dan Jabir bin ‘Abdillah

Muridnya a.l.: ‘Atha bin Abi Zabah, ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz, ‘Umar bin Syu’aib, dan Qatadah bin Di ‘amah.

Penilaian para tokoh: al-Faqih al-Hafizh

 

  1. ‘Ubaidillah bin ‘Abdillah bin ‘Umar bin al-Khattab (106-…. H)

Nama lengkap: Abu Bakar ‘Ubaidillah bin ‘Abdillah bin ‘Umar bin al-Khattab

Gurunya a.l.: ‘Abdillah bin ‘Umar dan al-Shamaiyah al-Laitsiyyah

Muridnya a.l.: Abu Basyar Ja‘far bin Abi Wahsyiy-yah, Khalid bin Abi Bakar bin ‘Ubaidillah bin ‘Abdil- lah bin ‘Ashim bin al-Mundir bin al-Zubair.

Penilaian para tokoh: tsiqah

  1. ‘Abdillah ibn ‘Abdillah bin ‘Abdul Muthalib bin Hasyim bin ‘Abdi Manaf (68-… H)

Nama lengkap: Abul ‘Abbas ‘Abdillah ibn ‘Abdillah bin ‘Abdul Muthalib bin Hasyim bin ‘Abdi Manaf, yang dikenal dengan Ibnu ‘Abbas

Gurunya a.l.: Nabi saw, Ubai bin Ka‘ab, dan Usamah bin Zaid

Muridnya a.l.: Ibrahim bin ‘Abdillah bin Ma‘bad bin ‘Abbas, Arbadah al-Tamimi, Pengarang Tafsir A‘lam al-Nubala’, dan al-Arqam bin Syarahbil al-Audy.

Penilaian para tokoh: shahabi

Dari rangkaian sanadnya, pada rangkaian periwayat di atas jelas ada keterputusan. Satu sanad dinilai sebagai tidak ada orang yang berhujah dengan hadisnya, semen-tara penilaian untuk dua sanad lain, yang satu dinilai majhul sedangkan lainnya adalah tidak dikenal.

Jadi pada sanad teks tersebut jelas dalam keterputus-an yang cukup parah. Dari situ dapat ditarik kesimpulan langsung bahwa teks di atas adalah tepat untuk disebut sebagai hadis maudhu’.   

 

Kritik Matan

Dengan jelasnya keterputusan dari deretan rangkaian sanadnya, maka kondisi itu sangat berpengaruh untuk menilai bagaimanakan matannya.

Sekalipun telah banyak dari kalangan periwayat terbaik masuk di dalam rangkaian sanad, namun dengan adanya keterputusan pada tiga sanad lainnya dengan kon- disi yang bernilai majhul dan tidak dikenal, maka tetap dapat diduga keras bahwa teks di atas adalah termasuk hadis maudhu.

 

Fiqh al-Hadits

Akibat itu tidak mengharuskan kritik matan ini menjelaskan lebih detail lagi mengenai keadaan analisis matannya. Namun yang jelas, bahwa matan teks itu bukan matan teks dari suatu hadis Nabi saw.

Dugaan kuat penulisan ini adalah bahwa materi teks tersebut adalah ungkapan kebijakan dari seorang tokoh yang terpelajar. Dia menyatakan pendiriannya berkenaan dengan pentingnya belajar ilmu sejak kecil karena daya rekam otak ketika itu dalam menangkap ilmu pengetahu-an masih cukup kuat. Di situ diibaratkan, bagai mengukir di atas batu, sedang belajar pada masa besar yaitu di masa remaja, dewasa, apalagi sudah masa tua adalah seperti menuliskan suatu di atas air. Sukar melekat diingatan, dan dipatrikan di dalam diri seseorang.

Kata-kata bijak itu begitu mudah dicerna dalam sanubari penuntut ilmu, dan mudah digunakan bagi me- motivasi para pelajar ilmu. Namun, sekali lagi dapat di- tegaskan bahwa teks di muka memang bukan teks hadis, melainkan tetap merupakan ungkapan kebijakan tokoh di bidang keilmuan.

 

  1. Analisis Hadis tentang orang yang paling dahaga adalah orang yang mencari ilmu

 

Teks atau ungkapan yang juga cukup dikenal di dunia ilmu pengetahuan adalah tentang keadaan daha-ganya para penuntut ilmu. Teks itu adalah sebagaimana kutipan di muka adalah seperti berikut:

 

سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآ لِهِ وَسَلَّمَ ” أَيُّ النَّاسِ أَجْوَعُ؟ قَالَ: طَالِبُ الْعِلْمِ “، قَالَ: ” فَأَيُّهُمْ أَشْبَعُ؟ قَالَ: الَّذِي لَا يَبْغِيَنَّهُ

Nabi Muhammad saw ditanya tentang siapa diantara manusia yang selalu dahaga?Berliau menjawab, “Para pencari ilmu.” Ditanya lagi, Maka siapa yang selalu bisa merasa kenyang?Beliau menjawab, “orang yang tidak mencari ilmu.” 

 

Kritik Sanad

Hadis yang ditakhrij oleh Yahya bin al-Husain al-Jur-jani itu memiliki jalur sanad: Yahyabi bin al-Husain bin Ismail Zaid, Abdurrahman bin Muhammad bin Ahmad bin ‘Abdurrahman, ‘Abdullah bin Muhammad bin Ja‘far bin Hayan, Muhammad bin ‘Ali bin al-Jarud, Hasan bin al-Fadhlu bin al-‘Abbas, Hakam bin Aslam bin Salman, Muhammad bin al-Harits bin Ziyad bin al-Rabi‘, Muhammad bin ‘Abdurrahman bin al-Bailamani, dan Abdullah bin ‘Umar bin al-Khattab bin Nufail.

Jika dianalisis dari tiap-tiap periwayat hadis, maka akan terlihat masing-masing kualitas pribadinya dan kapasitas intelektualnya sebagai berikut ini.

 

  1. Yahya bin al-Husain bin Ismail bin Zaid,

Nama lengkap: Yahya (alMursyid Billah) bin al-Hu-sain (al-Muwaffiq) bin Ismail bin Zaid (412-499 H)

 Gurunya a.l.:  Tidak diperoleh datanya

Muridnya a.l.: Tidak diperoleh datanya

Penilaian para tokoh: ‘Aliman bi al-Hadits

  1. Abdurrahman bin Muhammad bin Ahmad bin ‘Abdurrahman (443-… H)

Nama Lengkap: Abu al-Qasim Abdurrahman bin Muhammad bin Ahmad bin ‘Abdurrahman

Gurunya a.l.: Tidak diperoleh datanya

Muridnya a.l.: Tidak diperoleh datanya

Penilaian para kritikus: Majhulul Hal

 

  1. Abdullah bin Muhammad bin Ja‘far bin Hayan

Nama Lengkap: Abu Muhammad ‘Abdullah bin Mu-hammad bin Ja‘far bin Hayan (369-274 H)

Gurunya a.l.: Abu Hulaifah al-Jamhi, Muhammad bin Yahya al-Marwazi, ‘Abdan, dan Qasim al-Mathruz

Muridnya a.l.: Ibnu Mandah, Ibnu Mardawaih, Abu Sa’d al-Malini, Abu Sa‘id al-Naqqasy

Penilaian para kritikus: Tsiqqah Hafizh

  1. Muhammad bin ‘Ali bin al-Jarud (325-… H)

Nama Lengkap: Abu Bakar Muhammad bin ‘Ali bin al-Jarud

Gurunya a.l.: Yunus bin Habib dan Ahmad bin Mu ‘awiyah

Muridnya a.l.: Abu Ishaq bin Hamzah, Abu Bakar ibn al-Maqri, dan Muhammad bin ‘Abdurrahman bin Makhlad

Penilaian para kritikus: Tsiqqah

 

  1. Hasan bin al-Fadhlu bin al-‘Abbas (?)

Nama Lengkap: Abu Muhammad Hasan bin al-Fadh-lu bin al-‘Abbas

Gurunya a.l.: Tidak diperoleh datanya

Muridnya a.l.: Tidak diperoleh datanya

Penilaian para kritikus: Majhulul Hal

  1. Hakam bin Aslam bin Salman (?)

Nama Lengkap: Abu Mu’adz Hakam bin Aslam bin Salman

Gurunya a.l.: Tidak diperoleh datanya

Muridnya a.l.: Tidak diperoleh datanya

Penilaian para kritikus: Shaduq hasan al-Hadits

 

  1. Muhammad bin al-Harits bin Ziyad bin al-Rabi‘

Nama Lengkap: Abu ‘Abdillah Muhammad bin al-Harits bin Ziyad bin al-Rabi‘

Gurunya a.l.: al-Haris bin bin ‘Umair al-Bashri, Syu’ bah al-Hujjaj, dan Abiz Zinad Abdillah bin Dzakwan

Muridnya a.l.: Ishaq bin Abi Israil, Hajjaj bin An-Nuk man, Zaid bin al-Habbab.

Penilaian para kritikus: Matruk al-Hadits

 

  1. Muhammad bin ‘Abdurrahman bin al-Bailamani (?)

Nama Lengkap: Muhammad bin ‘Abdurrahman bin al-Bailamani al-Kufi

Gurunya a.l.: Tidak diperoleh datanya

Muridnya a.l.: Tidak diperoleh datanya

Penilaian para kritikus: Munkar al-Hadits

 

  1. Abdurrahman bin Abi Zaid (85-…H)

Nama lengkap: Abdurrahman bin Abi Zaid

Gurunya a.l.: Tidak diperoleh datanya

Muridnya a.l.: Tidak diperoleh datanya

Penilaian para kritikus: Dha’f al-Hadits

 

Dari rangkaian periwayat di atas jelas, bahwa dari sudut sanadnya teks ungkapan di atas memiliki sanad yang terputus dengan kondisi yang sangat parah. Sebutan penilaian seperti majhul hal, matruk al-hadis, dan dha’f al-hadits menunjukkan keparahan dari kondisi keterpu-tusan sanad dalam suatu hadis. Dengan begitu diduga keras, bahwa sanad hadis ini adalah terputus. Dengan ungkapan lain, bahwa dilihat dari sanadnya ungkapan tersebut bukan suatu hadis, melainkan adalah hadis palsu atau hadis maudhu’.

 

Kritik Matan

Jika keadaan keterputusan sanad hadis sudah demi-kian parah, maka dapat diduga bagaimana keadaan matan nya dalam konteks untuk bisa atau tidaknya disebut hadis. Karena dari sanad yang sudah putus tidak mungkin bisa meyakinkan siapa pun untuk menyandarkan sesuatu sehingga terhubung kepada Nabi saw. Sebab keterputusan sanad  mengindikasikan faktor dustanya suatu periwa-yatan hadis.

Selanjutnya apabila dihubungkan dengan Al-Qur’an, memang teks di atas tidak ditemukan adanya perten-tangan dengan ayat Al-Qur’an. Karena Al-Qur’an, demi-kian besar perhatiannya kepada pembelajaran.

Sejak anak masih di dalam kandungan saja sudah di-perhatikan oleh Al-Qur’an. Seperti bagaimana proses ter- ciptanya manusia dari masa kandungan dalam rahim sang Ibu sampai pendidikan setelah dia dilahirkan. Semua itu dijelaskan di dalam Al-Qur’an.

Begitu juga dengan hadis, yang menjelaskan tentang kondisi fitrahnya anak yang lahir. Mereka dimuliakan oleh agama; diproses belajar melalui pembinaan orang tua di lingkungan keluarga, berlanjut ke lingkungan sekolah, dan dimatangkan di lingkungan masyarakat. Jelasnya, belajar yang tanpa dibatasi oleh usia dengan tepat adalah menunjukkan begitu besarnya perhatian Islam pada persoalan pembelajaran.  

Namun, kenyataan matan yang tidak bertentangan dengan Al-Qur’an maupun hadis tidak berarti bahwa teks yang redaksinya mirip hadis itu adalah hadis. Sebab buda ya tulis baca umat manusia bisa berkembang pesat sampai suatu kemampuan yang sukar diukur dengan alat ukur yang akurat.

Dari situ suatu ungkapan kebahasaan bisa timbul dan selalu dilahirkan sepanjang masih  ada kesempatan untuk membaca dan menulis, serta menyebarkan gagasan. Dengan demikian, maka ungkapan manusia yang paling selalu dahaga adalah bukanlah ungkapan hadis. Bisa jadi ia ungkapan kejijak seorang tokoh yang disampaikan di suatu forum atau majelis tertentu kepada kolega atau jamaahnya.

Dalam konteks hadis, suatu ungkapan yang bukan hadis Nabi saw sekalipun memiliki pengaruh kuat di dalam kehidupan tetap hanya berhenti sebagai ungkapan. Tidak bisa naik menjadi suatu hadis. Jadi, ungkapan dimaksud adalah bukan hadis Nabi atau seperti biasa disebut dengan hadis palsu, atau hadis maudhu’.

 

Fiqh al-Hadits

Kritik matan di atas memperkokoh keyakinan kita, yang sekaligus sebagai pemahaman yang jelas, bahwa Hadis tentang orang yang paling dahaga adalah orang yang mencari ilmu memang bukan hadis.

Pemahamannya adalah pemahaman ungkapan tokoh bijak yang menguasai banyak hal di bidang ungkapan- ungkapan hikmiyah yang banyak memberikan motivasi kepada orang-orang yang belajar untuk selalu tekun belajar sepanjang hayat. Berlaku sejak usia dini hingga di akhir kehidupan.

 

E. Penutup

 

  1. Hadis adalah segala hal yang disandarkan kepada Nabi Muhammad saw berupa perkataan, perbu-atan, penetapan dan hal-hal lain yang terhubung secara faktual dengan Nabi saw. Di antara fakta kenabian hadis itu,  ada yang layak disebut hadis populer pendidikan,  mengingat  pengaruhnya di kalangan luas terutama dunia pendidikan hingga nyaris seperti hadis masyhur. Namun, ia tidak sampai mencapai derajat masyhur mengingat hanya sekadar dikenal luas tetapi derajatnya lemah, bahkan juga ada yang palsu. Dalam hal yang terakhir, sebutan sebagai hadis Nabi saw dan data biasa baginya, mengingatkan antara hukum mesti, boleh, dan larangan penggunaan apa yang bukan hadis. Melalui pengetahuan hadis, ciri-ciri hadis, dan takhrij hadis, kenyataan fakta hadis yang muttashil sanad, dapat mencapai keniscayaan adanya hubungan antara suatu hadis dengan fakta periwayatan dari Nabi Muhammad saw.
  2. Melakukan takhrij hadis adalah identik dengan penelitian hadis, yang juga dikenal naqd al-hadis. Jika pada takhrij sederhana, aktivitasnya paling tidak sampai pada menemukan letak hadis pada pada kitab-kitab tertentu, maka pada takhrij hadis yang utuh aktivitasnya sampai pada meneliti ten-tang nilai kualitas hadis yang dideskripsikan datanya dan dilihat sanad dan matannya dari kitab-kitab karya para mukharrij.
  3. Ada empat model hadis populer pendidikan yang masing-masing menunjukkan segi nilai kualitasnya. Pertama, sanadnya relatif lengkap namun ada periwayat asing atau yang tak dikenal, sedang matannya berupa perintah dan atau informasi; Kedua, hadisnya tanpa menyebut rangkaian sanad, tetapi terhubung kepada tokoh yang jauh dari masa Nabi saw namun matannya baik; Ketiga, ada yang dalam periwayatan umum, matannya dinya-takan sebagai hadis, namun ternyata sanadnya adalah tokoh agama; kesalahannya terjadi karena salah persepsi (tahammul al-hadits), sedang sang tokoh sendiri tidak meriwayatkan ungkapannya sebagai hadis. Keempat, ada yang rangkaian sanad dan juga matannya terpisah dalam beberapa versi, tetapi tetapi disimpulkan sebagai.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Al-Qur’an al-Karim, [ttp.]: Angkasa, [tth.].

‘Abd al-Hadi, Abu Muhammad ‘Abd al-Muhdi  bin ‘Abd al-Qadir, Turuqu Takhrij Hadits  Rasulillah  Shallal-lahu  ‘Alaihi  wa Sallam, [ttp.]: Dar al-I’ ti-sham, [tth].

Abu Rayyah, Mahmud, Adwa ‘ala  al-Sunnah al-Muham-madiyyah aw Difa’an al-Hadits, Mesir: Daral-Ma’rifah,[tth.].

al-Adlabi, Shalah al-Din bin Ahmad, Manhaj Naqd al-Matn, Beirut: Dar al-Aflak al-Jadidah, 1403/1983.

al-Albani, Muhammad Nashir al-Din, Silsilat al-Ahadits al-Dla’ifah wa al-Mawdlu’ah wa Atsaruha al-Sayyi` fi al-Ummah, Beirut: al-Maktab al-Islami, 1398.

al- ‘Asqalani, Ahmad   bin ‘Ali bin  Hajar,  Fath  al-Ba- ri,  [ttp.]: Dar al-Fikr wa Makta-bah  al-Sala-fiyyah, [tth.].

—–, Tahdzib al-Tahdzib, India:  Majlis Dairat  al-Ma’a- rif  al-Nizhamiyyah, 1325.

—–, Lisan al-Mizan, ditahqiq oleh Da’irah al-Ma‘arif al-Islamiyyah, Bei-rut: Mu’assasah al-A‘lami li al-Mathbu‘at, 1971, Cet. II.

—–, Kitab al-Ishabah fi Tamyiz al-Shahabah, Jilid I, Beirut: Dar al-Fikr, 1398/1978.

—–, Ahmad bin ‘Aliy bin Hajar, Tahdzib al-Tahdzib, Le-banon, Beirut : Dar al-Kotob Al-Imiyah: 2004, Jilid I, II.

al-A’zhami, Muhammad  Mushthafa,  Dirasah  fi al-Ha-dits al-Nabawi, [ttp]: Ja’ad al-Riyad, 1396.

—–, Manhaj al-Naqd ‘inda al-Muhadditsin, Riyad: Syir kat al-Thiba‘ah al-‘Arabiyyah al-Sa’udiyyah, 1410/ 1990.

al-Baghawi, Husain bin Mas’ud, Ma’alim al-Tanzil fi Tafsir al-Qur’an, Juz II, [ttp]:[tpn], [tth].

al-Baghdadi, Abu  Bakr Ahmad  bin al-Tsabit  al-Khatib, Kitab al-Kifayah fi ‘Ilm al-Riwayah, Mesir: Mathba ‘ah al-Sa’adah, 1972.

—–, al-‘Iyal, Juz II, [ttp]: [tpn], [tth].

—–, Ahmad bin ‘Ali al-Khathib, al-Jami’ li Akhlaq al-Rawi wa Adab al-Sami’, Juz I, [ttp]: [tpn], [tth].

al-Baihaqy, Ahmad bin al-Husain, al-Madkhal ila al-Sunan al-Kubra, [ttp]: [tpn], [tth].

—–, Abu Bakr Ahmad  bin ‘Ali  bin Tsabit al-Khathib, Taqyid al-’Ilm, [di-tahqiq dan di-ta’liq oleh Yusuf al-’Isy],[ttp.]:Dar Ihya`al-Sunnah al-Nabawiy- yah,1974.

—–, Ahmad bin ‘Ali al-Khathib, Tarikh Baghdad, [ditahqiq oleh Basysyar ‘Awwad Ma‘ruf], Beirut: Dar al-Gharb al-Islami, 2002.

al-Bukhari, al-Ju’fi, Abu ‘Abdillah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim  ibn  al-Mughi-rah  bin  Bar-diz-bah, Shahih al-Bukhari, Juz I-IV, Beirut: Dar al-Fikr, 1414/1994.

al-Darimi, al,Abu Muhammad ‘Abdullah ibn ‘Abd al-Rahman, Sunan al-Darimi, Kairo: Dar al-Fikr, 1978.

—–, Masfar ‘Azm Allah, Maqayis Naqd Mutun al-Sun-nah, Riyad: [tpn.], 1404/1984.

al-Dimasyqy, Isma’il bin Umar bin Katsir, Thabaqat al- Syafi’iyyin, [ttp]: [tpn], [tth].

al-Dzahabi, Muhammad bin Ahmad, Siyar A‘lam al-Nubala’, [di-tahqiq oleh Tim Syu‘aib al-Arna’uth], Kairo: Dar al-Hadits, 2006.

—–, Muhammad bin Ahmad, Tarikh al-Islam wa Wafa-yat al-Masyahir wa al-A‘lam, [di-tahqiq oleh Basy-syar ‘Awwad Ma‘ruf], Beirut: Dar al-Gharb al-Isla-mi, 2003, Cet. I.

al- Fairuzzabadi, Muhammad bin Ya’qub, Bashair Dzawi al-Tamyiz fi Lathaif al-Kitab al-‘Aziz, Juz I, [ttp]: [tpn], [tth.].

al-Farasi, Muhammad  Shalih Muhammad,  Fashl  al-Khi-thab fi Mawaqif al-Ashhab, [ttp.]: Dar al-Salam, 1416/1996.

Ibn ‘Asakir,  ‘Ali bin al-Hasan, Tarikh Dimasyq, ditahqiq oleh ‘Amr bin Gharamah, Beirut: Dar al-Fikr, 1995.

Ibn Faris bin  Zakariyya, Abu  al-Husain  Ahmad, Mu’jam Maqayis  al-Lughah, Jilid  I-VI, Mesir: Mushthafa al-Babi al-Halabi wa Syarikah,1392/1972.

al-Fasi, Muhammad bin Ahmad bin ‘Ali, Dzayl al-Taqyid fi Ruwah al-Sunan wa al-Asanid, [di-tahqiq oleh Ka-mal Yusuf al-Hut], Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiy yah, 1990, Cet. I.

Ibn Hanbal, Abu ‘Abdillah Ahmad, Musnadal-Imam Ahmad ibn Hanbal, Beirut: Dar al-Fikr, [tth.].

Ibn Katsir, Isma‘il bin ‘Umar, Thabaqat al-Syafi‘iyyin, [di-tahqiq oleh ‘Umar Hasyim dan M.Z.M ‘Azab], [ttp.]: Maktabah al-Tsaqafah al-Diniyyah, 1993.

Ibn Majah, Abu Abdillah Muhammad ibn Yazid, Sunan Ibn Majah, Kairo: Isa al-Babi al-Halabi, [tth].

Ibn al-Shalah, Abu ‘Amr ‘Utsman ibn ‘Abd al-Rahman, Muqaddimah  ibn  Shalah fi‘Ulum al-Hadits, Beirut: Dar al-Kutub al-’Ilmiyyah, 1978.

Ismail, M.Syuhudi, Kaedah  Kesahihan Sanad Hadis: Telaah Kritis dan Tinjauan dengan Pendekatan Ilmu Sejarah, Jakarta : PT. Bulan Bintang, 1995.

—–, Metodologi Penelitian  Hadis  Nabi, Jakarta: Bulan Bintang, 1413/1992.

al-Jurjani, Yahya bin al-Husain, Tartib al-Amali al-Khu- maisiyyah, Juz I, [ttp]: [tpn], [tth].

al-Maushili, ‘Abdullah bin Mahmud, al-Ikhtiyar li Ta’lil al-Mukhtar, Juz IV, [ttp]: [tpn], [tth].

al-Mizzi, Yusuf bin ‘Abd al-Rahman, Tahdzib al-Kamal fi Asma’ al-Rijal, [di-tahqiq Basysyar ‘Awwad Ma‘ ruf], Beirut: Mu’assasah al-Risalah, 1980, Cet. I

Muhammad Khalid,  Khalid,  Rijal  Hawl  al-Rasul,  Bei-rut: Dar al-Fikr, [tth.].

—–, Ushul  al-Hadits ‘Ulumuh wa Mushthalahuh, Bei-rut: Dar al-Fikr,1395/1975.

Muslim, Shahih Muslim, Juz II,Bandung: Syirkat al-Ma’arif li al-Thab’i wa al-Nasyr,  [tth].

al-Nasa`i, Abu ‘Abd al-Rahman Ahmad ibn Syu’ayb, Sunan al-Nasa`i, Beirut: Dar al-Fikr, 1980.

al-Nawawi, Yahya bin Syaraf, Tahdzib al-Asma’ wa al- Lughat, Juz I, [ttp]: [tpn], [tth].

—–, al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, Juz I, [ttp]: [tpn], [tth].

Qasim bin Quthlubugha, Taj al-Tarajum, [di-tahqiq oleh M.Khair Ramadlan Yusuf], Damaskus: Dar al-Qa-lam, 1992, Cet. I.

al-Qurthubi, Yusuf bin ‘Abdullah ibn ‘Abd al-Barr, Jami’ al-Bayan al-‘Ilm wa Fadhlihi, Juz I, [ttp]: [tpn], [tth].

—–, Jami’ al-Bayan al-‘Ilm wa Fadhlihi, Juz I, [ttp]: [tpn], [tth].

al-Razi, Muhammad bin ‘Umar Fakhr al-Din, al-Mahshul, Juz VI, [ttp]: [tpn], [tth].

al-Razi, Muhammad bin Ahmad‘Umar al-Dulabi, al-Kuna wa al-Asma’, Juz II, [ttp]: [tpn], [tth].

al-Sakhawi, Muhammad bin ‘Abd al-Rahman, al-Maqashid al-Hasanah fi Bayan Katsir min al-Ahadits al-Musytahirah ‘ala Alsinah, [di-tahqiq oleh M. ‘Utsman al-Khasyt], Beirut: Dar al-Kutub al-‘Arabi, 1985.

al-Sarakhsi, Muhammad bin Ahmad, al-Mabsuth, Juz I, [ttp]: [tpn], [tth].

al-Siba’i, Mushthafa, al-Sunnah wa Makanatuha fi al-Tasyri’ al-Islami,  Beirut: al-Mak tab al-Islami, 1398/ 1978.

al-Subki, Taj al-Din ‘Abd al-Wahhab bin Taqi al-Din, Manhaj al-Naqd fi‘Ulum al-Hadits, Damaskus: Dar al-Fikr, 1981.

—–, [di-tahqiq oleh Mahmud Muhammad dan ‘Abd al-Fattah Muhammad], [ttp.]: Hijr li al-Thiba‘ah wa al-Nasyr wa al-Tauzi‘, 1413 H, Cet. II.

al-Suyuthi, ‘Abd al-Rahman bin Abu Bakr, al-Durar al-Muntatsirah fi al-Ahadits al-Musytahirah, [di-tahqiq Muhammad bin Luthfi], Riyadh: Jami‘ah al-Malak Sa‘ud, [tth.].

al-Thahhan, Mahmud, Taisir Mushthalah al-Hadits, Beirut: Dar al-Qur’an al-Karim, 1399/1979.

al-Turmudzi, Abu‘Isa Muhammad bin ‘Isa bin Surah, Sunanm al-Turmudzi, Juz I-IV, Kairo: Mushthafa  al-Babi  al-Halabi, 1937.

al-Zirikli, Khair al-Din bin Mahmud, al-A‘lam, [ttp.]: Dar al-‘Ilm li al-Malayin, 2002, Cet. XV.

[1]Ahmad ibn al-Husain ibn ‘Ali ibn Musa Abu Bakar al-Baihaqi, al-Madkhal ila al-Sunan al-Kubra, Juz VIII, Mekkah: Dar al-Bazz, 1994,  hlm. 241.

[2]Lihat Q.S. Al-Mujadilah/58: 11 yang seperti juga dijadikan landas- an pembahasan sebelumnya.

[3]Ahmad bin ‘Ali al-Khathib al-Baghdadi,  al-Jami‘ li Akhlaq al-Rawi wa Adab al-Sami‘, Juz I,  hlm. 310

5243

5,243 thoughts on “Menyeminarkan Hasil Penelitian dari Visiting Professor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *