Balasan Mantu ke Kediri

Setelah Hari Raya Idul Fitri 1434/2013, kami membalas lamaran ke Kediri. Tepatnya, ke Ngadiluwih, sekitar 10 km dari Kota Kediri.  Diperkirakan dari Bondowoso, perjalanan ke Kediri memakan waktu 6 atau 7 jam. Namun, dalam praktek, perjalanan hari Jum’at Subuh, 9 Agustus 2013 itu memakan waktu lebih 12 jam.

Dari Bondowoso ke Pasuruan, perjalanan cukup lancar. Hanya makan siang, tidak semudah hari-hari biasa, sebab warung makan yang lumayan, di sekitar Probolingga, sama belum buka. Rombongan, akhirnya mampir di rumah makan sederhana, yang berselera pas-pasan. Saya, Ibunya Nia, Nora dan 2 cucu, dan Naily semobil, sama-sama di Rush. Sementara Bak Has, dik Zar dan Istrinya dik Visi beserta seluruh bawaan yang 11 macam, berada di mobil satunya Grand Livina. Disupiri dik Zarkasyi.

Kondisi sulit, mengingatkan kami pada soal makan. Mestinya, sesulit apapun jangan sampai menyepelekan soal makan. Juga jangan sampai salah makan. Atau jangan sampai terlambat atau salah makan. Soal perut jika kurang diurus, kadang menyulitkan bagi para supir atau penumpang dalam jarak jauh.

Setelah mandi sore di suatu masjid, suasana segar sama dirasakan. Seluruh rombong an, tiba-tiba sama berhenti di suatu masjid, di situ bisa sama mandi dan semuanya sama bisa salat ashar. Kebutuhan mandi yang menyegarkan tubuh sama terpenuhi. Hanya makan, yang belum sempat terpenuhi semua. Saya misalnya, setelah salat jum’at tidak sempat makan siang. Perut ketika itu hanya diisi dengan jus apel. Diperkirakan di tengah perjalanan, masih akan sempat makan.

Ternyata, setelah salat jum’atan dan minum jus apel, kendaraan tidak lancar. Hanya sekitar 5 km setelah salat jum’at lancar. Setelah melintasi Kota Jombang, sampai menje lang sampai ke Kediri, jalan yang lebar itu macet. Dari kondisi itu dapat dipahami, bila kami datang terlambar. Sekitar 15 menit sebelum Maghrib, rombongan baru tiba di Ngadiluwih. Begitu kendaraan diparkir di depan rumah. Kami pamit salat maghrib dulu. Baru, kami sama salat maghrib. Acarapun dapat dimulai.

Acara pun berlangsung. Sebelum dahar, semua tamu dan keluarga misan sama ketemu di kamar tamu. Saya mohon bisa memulai acara. Menyampaikan maksud ke datangan. Juga hasil rembuk di Semarang dengan tamu dari Jakarta. Juga tawaran kami. Akhirnya untuk kamipun ada balasan ungkapan dari Keluarga Kediri.

Setelahnya kesepakatan pun diketemukan. Yaitu mengenai hari Sabtu, 21 Desember 2013/18 Sofar 1434. Di situ sebuah momentum kita rembug. Acara lain, makan dan macam-macam, berlangsung setelah itu. Sekitar pukul 21.00 kami pamit untuk pulang ke Semarang dan ke Bondowoso. Kendaraan kami, sepulangnya ditemani dengan oleh-oleh berupa tahu Kediri. Semoga proses kekeluargaan ini diridhai Allah, berman- faat dan mendapat berkah yang berkelanjutan.

Sebuah pelajaran. Di perjalanan pulang ke Semarang, supir mendapat pelajaran. Kelemahan perut mesti diingat-ingat. Terlambat makan; masuk angin; perlunya diimbangi dengan istirahat; ini pelajaran yang sangat berharga. Kalau di tengah jalan, setelah macet dialami terutama ketika di Saradan, aku masuk angin. Lalu diare. Lalu keroan; adalah pelajaran hari hari yang dulu aku pernah mengalaminya semasa aku masih sekolah di SMP. Pelajaran ini, tidak layak diulangi lagi.

Maka nyangu nasi hangat, adalah pelajaran terbaik bagi orang yang bepergian jauh. Karena dimana pun saja, kita bisa langsung makan. Termasuk dalam kondisi perjalanan macet. Makanan pedas berlauk terong godok , juga layak dipertimbangkan. Juga yang dikombinasikan dengan kopi ala Bondowoso, pantas dipertimbangkan untuk kunjungan yang memakan perjalanan jauh. Allahu a’lam bis Shawab (Erf).

 

 

163 thoughts on “Balasan Mantu ke Kediri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *