Berziarah di Seputar Kota Madinah (2)

Sambungan tulisan sebelumnya, yang pertama, adalah bagian ini. Pada untaian tulisan yang kali ini,  diharapkan dapat melengkapi untaian penyambung aktivitas. Berturut-turut, mengenai berziarah di seputar kota Madinah, cara terkini memasuki Raudhah, serta berihram untuk Umrah dari Bir Ali.

Ahad dan Senin yang Menyenangkan
Hari Ahad,15 Mei 2022 yang lalu, yang diiringi dengan hari berikutnya Senin dinihari, 16 Mei 2022, dapat dipandang sebagai dua hari yang disebut menarik yang sekaligus menyenangkan, sehingga masing-masing dari anggota umrah yang mengalaminya mungkin memiliki segudang kenangan khas  yang menarik, salah satunya yang dapat diungkap dalam tulisan ini.
Pada hari Ahad, pukul 8.00 pagi waktu Madinah sampai dengan satu seperempat jam menjelang tibanya waktu salat zhuhur, seluruh anggota rombongan perjalanan keagamaan umrah Pemkot Semarang sama bepergian alias ziarah dengan mengendarai Bus, yaitu berziarah di seputar kawasan kota Madinah sebagaimana sama diimpikan dapatnya terlaksana sesuai dengan rencana-rencana yang diungkap dalam keinginan lisan di antara peserta, ketika berada di tanah air tercinta hingga berada di kendaraaan menuju kota Madinah al-Munawwarah atau Madinatur Rasul.

         Foto di Masjid Kuba’ setelah salat dua rakaat
Banyak tempat yang diziarahi bersama, yang dalam tulisan ini dijelaskan dengan dua pendekatan. Ada yang diziarahi dengan menjelaskannya hanya di atas Bus yang membawa kita ke tempat-tempat ziarah dengan berdasar data dari bahan yang sudah tertulis di buku-buku sejarah serta plot kisah-kisah masa lalu yang relevan, yang diketahui dari dokumen sejarah; juga ada yang disempatkan dan sekaligus dipertemukan kepada kita tempat yang dituju itu oleh Tim Muthawif khas dari CV Fatimatus Zahrah.
Tempat kunjungan pertama, dicukupkan dengan menjelaskannya di atas Bus, adalah Masjid Ijabah.
Ia konon hingga sekarang masih dalam posisinya, yang tampak asli. Format masjidnya terkesan sederhana namun tampak jelas daru atas kendaraan karena terletak di pinggir jalan raya. Yaitu berada beberapa meter dari pinggir jalan, tetapi kendaraan besar dilarang parkir di bangunan itu, sehingga para pengunjung tidak dapat singgah dengan menghentikan kendaraan, maka bus lalu dicukupkan dengan berjalan pelan-pelan samping menjelaskan sosok masjid itu, lalu melanjutkan perjalanan menuju tempat penting yang akan diziarahi berikutnya.
Kunjungan kedua, dapat dinikmati dengan lebih intensip, adalah ke Masjid Quba’. yaitu masjid yang dibangun pertama kali oleh Rasulullah Muhammad saw bersama para sahabat. Tempat itu dipilih, me- nurut sejarahnya atas pertimbangan Nabi saw — yang mengarahkan dipilih sesuai dengan kecenderu- ngan dimana unta Qaswa yang dikendarai Nabi saw berhenti itu — dikunjungi oleh semua peserta.
Di tempat ini, mereka yang sudah mempunyai wudu bisa langsung melakukan salat dua rakaat di dalam masjid, sedang yang belum mempunyai wudu, dipersilakan lebih dahulu untuk mengambil air wudu, untuk kemudian melakukan salat dua rakaat, yang tentu saja karena salat di tempat ini, memiliki pahala yang fantastis. Pahala seperti apa? Dikutip sarinya oleh Ustaz Amru, sang Muthawif, dengan mensitir hadis Nabi, bahwa melakukan salat dua rakaat di Masjid Quba’ pahalanya disamakan dengan pahala melakukan ibadah Umrah, yaitu ibadah yang berangkat dari mikat tertentu, lalu bertawaf dan ber-sai dengan berpakaian ihram dari mikat seperti di Tan’im, atau Ji’ranah dan semacamnya.
Dari situ, semua peserta kunjungan menyempatkan diri untuk melakukan salat dua rakaat dan serta berdoa, sebelum mereka melakukan aktivitas lain termasuk berfoto bersama di sebelah kiri masjid Quba. Bagi yang suka menemukan rahasia di balik kunjungan ke tempat bersejarah seperti ini, mereka kadang menyempatkan diri mencari sela, dimana sebenarnya masjid asli yang dibangun oleh Nabi saw, yang konon itu lebih mudah diijabahi doa-doa kita.

Ke Kebun Kurma
Selain berziarah atau melakukan kunjungan, segenap peserta disempatkan mampir hampir setengah jam untuk menyepatkan diri berbelanja di kawasan khas yang di sekelilingnya ditanam banyak kurma, atau dikelilingi pohon-pohon kurma yang saat ini masih banyak yang buahnya menghijau dan banyak juga yang sudah matang. Dan di situ juga para peserta ziarah dipersilakan  berbelanja berbagai jenis kurma, baik kurma Ajwa yang khas Madinah maupun jenis lainnya, yang di sana-sini juga disertai dengan jenis jualan lain seperti kismis, manisan, dan makanan-makanan yang aneka ragam, termasuk jenis-jenis oleh lain baik baju, tasbih, dan detail-detail lainnya.  
Kunjungan ketiga, ditujukan ke Jabal Uhud, yaitu suatu tempat atau yang di Indonesia disebut bukit, dimana di situ dimakamkan sejumlah syuhada muslim yang telah wafat di Medan Perang Uhud, di antara beliau adalah paman Nabi Muhammad saw, Sayyidina Hamzah, dan puluhan sahabat Nabi Muhammad saw.
Setelahnya, kunjungan dilanjutkan ke Khandak. Yaitu tempat yang dulunya pernah dibuat galian parit di seselilingnya dalam rangka menyiasati serangan musuh orang kafir Qurash yang datang ke tempat itu untuk menaklukkan para serdadu Islam yang sama berada di bawah kendali Rasulullah saw.
Di tempat ini, dalam kondisinya yang sekarang, sudah banyak yang berubah. Misalnya, paritnya sudah tidak kelihatan lagi, dan beberapa di antaranya sudah berwujud bangunan, walau sudah tidak utuh seperti tujuh masjid yang sekarang sudah tinggal lima masjid. Di samping itu, parit yang pernah digali dulu, sudah tidak ditemukan lagi bentuk aslinya, karena sudah berujud lain. Nah, di masa ini, mungkin masih di-edialisasi struktur ke depan, dimana banyak hal di Saudi Arabia, dibangun menyambut tahun 2030-an, bagi era ke depan dengan tetap mengekalkan wujud jejak sejarahnya.
Kunjungan keempat, ke Masjid Qiblatain. Masjid ini, karena keterbatasan waktu, sempat dijelaskan sosoknya di atas kendaraan, namun, ia tidak sempat disinggahi secara fisik. Misalnya, bahwa di masjid ini pernah terjadi, bahwa Nabi Muhammad saw, ketika melakukan salat zhuhur, oleh Allah Swt diperintahkan berubah arah menghadap kiblatnya dari, menghadap Baitul Makdis, ke menghadap kiblat di Baitullah, Masjidil Haram Mekkah, yaitu Masjid dimana bagi yang beribadah di dalamnya oleh Allah Swt diberkahi dengan pahala 100.000 kali dibanding dengan lainnya. Ditempat penting lain, yaitu di Masjid Madinah diberi pahala 1.000 kali, seperti disabdakan Nabi Muhammad saw.  
Mengingat kita masih harus melakukan salat lima waktu yaitu salat zhuhur pada hari ziarah itu di Masjid Nabawi, maka kunjungan agak dipercepat, namun kisah lengkapnya sudah sama dapat kita simak secara memuaskan di atas kendaraan dua Bus Terhal, yang sama dinaiki oleh jamaan perjalanan keagamaan Umrah Pemkot Semarang.   

Leave a Reply

Your email address will not be published.