Haji Musta’in: Da’i Dermawan itu Telah Meninggalkan Kita (2)

Kabar Keluarga tentang Bapak Haji Mustain
Sempat dibuat gembiran benar keluarga Haji Mustain pada hari Sabtu itu. Sedari Pagi tanda-tanda menyenangkan bagi keluarga itu sudah ada. Sebelum ajal beliau benar-benar dipastikan datangnya oleh Sang Penguasa Jagat yang Maha Menguasai Rahasia itu, ada suasana menggembirakan yang tak lama kemudian segera disusul dengan suasana duka itu.

1-Gembira?
Ada kegembiraan yang sudah sama dinikmati oleh Pak Haji Mustain menjelang wafat beliau. Pada pagi itu, beliau setelah merasa enak dan segar, beliau minta diantar pada anggota keluarga untuk BAB di ruang khusus dimana beliau biasa melalukannya. Setelah beliau buang air besar, lalu diikuti seperti biasa dengan mengambil air wudu untuk melakukan salat dhuha dan mengaji al-Qur’an.
Setelah suasana itu, beliau melakukan salat dhuha beberapa salam seperti yang beliau lakukan dalam keadaan seperti hari-hari biasa. Tidak hanya hingga di situ. Beliau melanjutkannya dengan membaca al-Qur’an dengan suara kuat, dibaca banter, tiru Ibu Haji Mustain.
Membaca Al-Qur’an dengan suara nyaring itu sempat didengar baik oleh semua anggota keluarga. Mereka sama menyambutnya, bahwa bacaan Al-Qur’an  beliau ketika itu lebih terang dari biasanya.

2-Senang dan Duka
Soal rokh memang sepenuhnya di genggaman Allah Swt.  Tidak ada satu pun diantara kita yang benar-benar tahu total tentang urusan ini. Tidak terkecuali keluarga Bapak Haji Mustain, yang dua di antara puterinya adalah seorang dokter.
Ternyata tanda-tanda dapatnya membaca al-Qur’an dengan suara banter itu bukanlah tanda bahwa beliau sudah benar-benar sembuh. Itu baru benar-benar indikator dari tanda-tanda kehidupan. Bisa jadi, kita harus bisa membacanya dari pemaknaan lain. Bisa jadi itu adalah tanda bahwa orang yang wafatnya husnul khatimah itu, dipermudah oleh Allah dalam wafatnya, hingga suara Al-Qur’an itu sudah menjadi penyambung beliau dari alam dunia dimana beliau berada dengan alam akhirat dimana beliau akan memasukinya setelah memasuki alam barzah yang oleh Allah dipastikannya terjadi pada Pukul 11.00 di hari Sabtu bulan Agustus 2021 itu.

Akhirnya, sang Da’i yang Dermawan itu meninggalkan kita selama-lamanya. Beliau ternyata bulan sekadar muslim biasa. Saya lebih suka menyebut beliau itu Da’i yang Dermawan, karena beliau nyata-nyata berdakwah di hadapan umat itu melalui fokum-forum agama yang banyak, di MUI, di Masjid, di Mushalla, dan di berbagai tempat lainnya. Dalam pelbagai dimana beliau berjuang itu jelas tanda-tanda juangnya yang Islami. Namun, mengapapa disebut da’i, kan beliau tidak berdakwah dengan lisan? Ya beliau tidak berdakwa dengan lisan, tetapi dengan Arkan, berdakwah. Beliu membawa profil Islam dalam penampilannya dengan memakai baju putih, tidak banyak memakai lisan dalam dakwahnya, melainkan dengan memakai pakaian sunnah yaitu putih dari bawah hingga seluruh badannya. Namun, wajah ke Indonesiaannya tidak beliau tutupi dengan tetap memakai kopian hitam dalam tampilan keagaamannya atau kadang dengan tidak memakai kopiah ketika beliau menghadiri undangan seperti di Pektot Semarang atau tempat-tempat forum ilmu lainnya (Erfan Subahar).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: