Harkat Kemanusiaan, Kemampuan Bersinergi, dan Kehidupan Bermakna Dalam Bingkai Dakwah Walisongo

Membicarakan seputar nilai-nilai yang telah diwariskan oleh Walisongo, terutama dalam kaitan dengan dakwah yang diperjuangkannya, sesungguhnya banyak nilai yang telah ditinggalkan bagi kita, yang layak  diwarisi buat mengarungi kegidupan. Nilai-nilai dimaksud sekarang begitu banyak muatannya, sehingga tidak mungkin dikupas satu demi satu secara lengkap dalam satu kali pengkajian bagi para pembaca. Sehubungan dengan itu, pada kesempatan ini, uraian hanya menyuguhkan tiga untaian nilai berkenaan dengan kemanusiaan, kemampuan bersinergi, dan kehidupan berbangsa.

Dakwah Ilallah dan Dakwah Sesat
Menyimak ungkapan tentang dakwah kajian tentu akan memasuki paparan yang luas. Akan tetapi, jika kita ingin memetakan pembicaraan lalu kita mencoba menemukan fokus ke arah pembicaraan relevan, maka dakwah dalam Al-Quran itu sebenarnya dapat dibagi menjadi macam; pertama, dakwah Ilallah, kedua dakwah setan dan kroni-knoni setan, serta dakwah yang sesat.
Segala hal yang berisi seruan ke arah kebaikan, petunjuk ke jalan yang benar, melakukan amar makruf dan nahi munkar seperti yang dibawakan oleh para Nabi, para auliya, serta orang-orang saleh yang ikhlas dilakukan karena Allah, dapatlah disebut sebagai dakwah al-Hak, dakwah Ilallah, dan biasa disebut dengan dakwah yang lurus. Dakwah jenis ini termasuk golongan pertama, yang akan menjadi fokus pembicaraan ini.
Berikutnya, ada juga seruan yang mirip-mirip dengan ajakan kepada kebenaran, yang di dalamnya disampaikan suatu pesan dan kesan seperti memberi petunjuk,  namun begitu ditelusuri di situ ada momen-momen pemalingan dari jalan yang benar, yang terjadi tanpa disadari atau ketika seseorang sedang tidak fokus, yang dapat membuat orang terpelanting dari kebenaran ke kesesatan. Nah, dakwah seperti ini jelas adalah dakwah setan dan kroni-knoni setan, yang licik,  yang sering membuat manusia terperangkap, dan memakan korban banyak manusia. Dakwah ini termasuk jenis dakwah yang kedua, yang akhir-akhir ini begitu gencar bergema di seantro dunia, dilakukan oleh setan dan kroni-kroni setan baik berupa manusia, tiruan manusia, maupun benda-benda yang dapat ditumpanginya untuk menyesatkan umat manusia.
Selanjutnya, ada jenis ajakan atau seruan yang mungkin awalnya ada pengaruh setan lalu diam-diam dakwahnya menjerumuskan begitu banyak orang untuk jauh dari Allah dan sesembahan Allah. Lalu diam-diam misinya terus berkembang menyesatkan manusia seperti menjadikan manusia lain menyembah sang tokoh, meninggalkan sesembahan kepada Tuhan tapi diubah fokus menyembah sosok sang tokoh, menggunakan ilmu-ilmu hitam yang mematikan, atau mendirikan bahdar-bandar yang membuat manusia tidak bertuhan, tdak mengakuhi kehidupan yang akan datang. Semuanya tergolong dakwah yang sesat.

Kategori dakwah sebagaimana disebutkan di atas, dalam praktek di lapangan bagi yang sudah terbiasa berdakwah secara lurus, sudah biasa dipahami dan sekaligus dikakukan. Namun, dalam praktek sering terjadi bercampuraduk. Yakni, yang mestinya dengan melakukan versi yang pertama, maka yang pertama lah yang perlu berfokus dalam berdakwah. Tetapi yang terjadi sering mencampurkan pegertian dan praktek-praktek licik, sehiggga antara dakwah ilallah dengan lainnya sering terlihat abu-abu. Tidak jelas kategorinya.

Manusia: yang lemah, berani, dan berharkat
Pada dasarnya manusia itu lahir dalam kondisi belum berdaya. Namun lingkunganlah yang telah membawa mereka berubah. Mereka perlahan-lahan diberdayakan oleh lingkungannya, dari belum banyak tahu menjadi manusia yang berilmu, memperoleh petunjuk, berkemampuan. Dengan diperemukannya dengan sifat-sifat yang memberdayakannya maka manusia berkembangan dari sederhana menjadi hingga tanpa batas. Ada yang berangkat sesuai dengan bakatnya, namun ada yang berangkat dengan keberaniannya menjadi maju ke depan, dan ada pula yang dengan kesadarannya membakali dirinya dari pura-pura seperti bisa lalu terus melatih seperti berbakat itu menjadi benar-benar laksana orang berbakat.
Walisongo dalam berdakwah menyadari tentang potensi dasar manusia yang bisa berkembang hingga menjadi manusia berharkat, melalui aktualisasi potensi dasar manusia itu. Seruannya tidak disampaikan dengan menyerukan mereka berubah dengan melalui penyamaian demi penyampaian ayat dan hadis-hadis yang meyentuh akal langsung, melainkan disampaikan dengan sentuhan-sentuhan kalbu, dengan menggunakan bahasa-bahasa yang mudah dicerna denga pikiran yang menangkap jelas, dan sentuhan- sentuhan bahasa sederhana yang mudah mengetuk kalbu. Bahasa-bahasa Al-Quran yang kebanyakan bersifat umum dan global, begitu juga hadis yang dirasakan sukar, ditemukan lebih dahulu padanannya dengan menyimak bahasa-bahasa populer di masyarakat, untuk kemudian diaktualkan di masyarakat dengan menggunakan bahasa yang benar-benar dekat dengan pengertian umum masyarakat.
Sunan Mudia misalnya. Menyajikan …… dengan …..

Sunan Kalijogo

Kemanusiaan menjadi perhatian yang tanpa henti dari dakwah para Walisongo. Perhatiannya dilakukan secara sinambung antara satu tokoh dengan tokoh yang lain

Hidup Berempati, Beretika dan Siap Bersinergi

Hidup Berbangda dan Bernegara

Leave a Reply

Your email address will not be published.