Kasan Bisri Mengkaji, “Syarah Hadis Ulama Nusantara Abad XX: Menelaah Kitab Syarah Bulugh Maram oleh 3 Tokoh”

Pendahuluan
Pada kesempatan Ujian Tertutup di hari Kamis belum lama ini, 23 Desember 2021, saudara Kasan Bisri Bisri mengkaji kitab syarah hadis Ulama Nusantara Abad Ke-XX. Paparan ringkas dari kajiannya dapat dilihat bersama berikut ini.

Syarah (commentary) hadis pada dasarnya bukan sekadar praktik memahami teks hadis, tetapi juga berbicara tentang realitas yang terjadi dan dihadapi oleh pensyarah.
Syarah hadis yang ditulis ulama Nusantara abad 20 memiliki keterkaitan dengan kondisi sosio kultur masyarakat pada waktu itu dan ideolog pensyarahnya. Dengan demikian syarah hadis merupakan representasi dari identitas kelompok masyarakat muslim tertentu.

Tiga Kitab Syarah
Disertasi ini mengkaji tiga kitab syarah Bulug al-Maram yang ditulis oleh ulama Nusantara pada abad dua puluh. Tiga buku tersebut adalah Tarjamah Bulughul Maram Ibnu Hajar al-Asqalani Terjemahan Beserta Keterangannya karya Ahmad Hassan, Sullam al-Afhäm karya Bisri mustofa, dan Misbah al-Anam karya
Ahmad Subki.
Penelitian yang berangkat dari permasalahan pokok: mengapa syarah hadis ulama Nusantara Abad Ke-20 sangat kental dengan muatan ideologis dan konteks sosial dalam pembuatannya ini dalam pelacaran datanya, dirinci fokusnya kepada aspek detail yang berfokus pada empat rumusan masalah yaitu (1) bagaimana metode syarah hadis yang ada pada ketiga syarah Bulug al-Maram tersebut; (2) bagaimana teknik interpretasi hadis yang digunakan pada ketiga pensyarah; (3) bagaimana nilai lokal Nusantara yang ada dalam ketiga syarah Bulūg al-Marām; dan (4) bagaimana pemahaman hadis ketiga pensyarah.

Kajian Kepuatakaan
Penelitian ini adalah penelitian kepustakaan dengan paradigma kualitatif; selain menggunakan dokumen tertulis, data penelitian ini diperkaya dengan wawancara.
Metode analisis data yang digunakan adalah kualitatif-interpretatif.

Temuan disertasi ini yaitu:
1) Metode syarah hadis pada tiga kitab syarah tersebut dapat dikate gorikan menjadi dua yakni syarh wasit (syarah scderhana) dan syarh wajiz (syarah ringkas). Kitab yang menggunakan metode syarh wasil adalah Tarjamah Bulughul Maram dan Misbah al-Anām. Sementara kitab yang mengguna kan metode syarh
wajiz adalah Sullam al-Afham.
2) pendekatan syarah hadis yang digunakan tiga pensyarah sangat beragam. Hassan menggunakan pendekatan tekstual dan intertekstual. Hassan menggunakan teknik interteks yang berbasis pada al-Quran dan Sunnah dimana ini merupakan ciri khasnya sebagai tokoh Islam modernis dengan semangat pada al-Qur’an dan sunnah.Selanjutnya Bisri menggunakan pendekatan syarah tekstual yang dikombinasikan dengan pendapat hukum ulama mazhab.
Semantara Subki menggunakan tiga pendekatan; tekstual kontekstual dan intertekstual. Teknik intertekstual Subki tidak hanya berbasis al-Qur’an dan hadis tetapi juga menggunakan kitab-kítab terdahulu yang berhaluan fikih Syafî iyah dan tasawuf Sunni.
3) Ketiga karya syarah hadis di atas memiliki keterikatan dan keterkaitan dengan kondisi sosio kultural pensyarahnya. hal itu dibuktikan adanya nilai lokal Nusantara yang berupa ciri khas kedaerahan, sosial politik, dan nilai lokal sosial budaya yang adopsi olch pensyarah dan kemudian dicantumkan dalam ketiga kitab syarah.
4) Ketiga kitab syarah Bulug al-Maram ini tidak bisa dilepaskan dari ideologi dan kepentingan penyusunnya. Kitab Bulug al-Maram menjadi medan pergulatan
pemikiran pensyarahnya. Pertarungan idcologi kelompok Islam modernis dan Islam tradisionalis sangat terlihat dari bagaimana pemahaman hadis Hassan, Bisri dan Subki tentang sentuhan kulit lawan jenis, talkın mayit, dan tawasul. ldeologi puritan dan modernis sangat kentara pada pemahaman hadis dan sikap Ahmad Hassan. Di lain sisi, Bisri dan Subki kental akan ideologi Islam tradisionalis sufistik yang mengakomodir pendapat-pendapat ulama mazhab dalam syarahnya.
Kata kunci: syarah, nusantara, ahmad hassan, bisri mustofa, ahmad subki (Erfan Subahar).

Leave a Reply

Your email address will not be published.