Kisah Umat Dahulu dan Akibat Kekufurannya di Yaumul Hisab

Setelah menyelesaikan bulan Syawwal, maka kajian kita pada kesempatan ini, akan diisi dengan kutipan ayat di Surah Thaha ayat 99-104. Arti dan penjelasannya dapat diikuti berikut ini.

Allah Swt berfirman dalam Surah Thaha ayat 99:

كَذٰلِكَ نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ اَنْۢبَآءِ مَا قَدْ سَبَقَ ۚ وَقَدْ اٰتَيْنٰكَ مِنْ لَّدُنَّا ذِكْرًا
“Demikianlah Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) sebagian kisah (umat) yg telah lalu, dan sungguh, telah Kami berikan kepadamu suatu peringatan (Al-Qur’an) dari sisi Kami.” (QS. Ta-Ha 20: Ayat 99)
Setelah menurunkan kitab Zabur kepada Nabi Daud a.s., kitab Taurat kepada Nabi Musa a.s., dan kitab Injil kepada Nabi Isa a.s., kemudian Allah Swt menurunkan al-Quran kepada Nabi Muhammad saw. Kitab al-Qur’an itu adalah mencakup : hukum, pergaulan, ekonomi, akhlak, dll.  al-Qura’n juga merupakan mukjizat terbesar kepada Nabi Muhammad saw, yang mencakup hal-hal yang bermanfaat bagi kemaslahatan manusia/makhkuk di dunia akhirat.

Selanjutnya pada ayat 99 Allah SWT berfirman:

مَنْ اَعْرَضَ عَنْهُ فَاِنَّهٗ يَحْمِلُ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ وِزْرًا
“Sesiapa yg berpaling darinya (Al-Qur’an), maka sesungguhnya dia akan memikul beban yg berat (dosa) pada hari Kiamat,” (QS. Ta-Ha 20: Ayat 100)
Yang berpaling dr Al Quran, semata2 krn memperturutkan nafsu; takut kehilangan pengaruh; kedudukan dsb.
Ia wajar diaebut keras kepala, sesat dan tidak mau menerima kebenaran. Maka Allah tidak akan mengampuni pd hari Kiamat nanti. Krn memikul dosa keingkaran dan kesombongan, dosa yg paling berat memi kulnya. Meŕeka dilempar ke neraka jahannam.

Pada ayat 101 Allah SWT berfirman:

خٰلِدِيْنَ فِيْهِ ۗ وَسَآءَ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ حِمْلًا
“…mereka kekal di dalam keadaan itu. Dan sungguh buruk beban dosa itu bagi mereka pada hari Kiamat,”
(QS. Ta-Ha 20: Ayat 101)

Allah SWT berfirman pada ayat 102:

يَّوْمَ يُنْفَخُ فِى الصُّوْرِ وَنَحْشُرُ الْمُجْرِمِيْنَ يَوْمَئِذٍ زُرْقًا
“Pada hari (Kiamat) sangkakala ditiup (yg kedua kali) dan pada hari itu Kami kumpul kan orang-orang yang berdosa dg (wajah) biru muram,” (QS. Ta-Ha 20: Ayat 102)
Pada tiupan sangkakala yang kedua dimana para ahli kubur sama dibangkit dari alam kuburnya mereka sama berkumpul di Padang Makhsyar untuk menerina perhitungan amal baik dan catatan aktivitas usahanya sewaktu mereka berada di dunia.
Pada waktu itu Allah mengumpulkan amal orang-orang yang berdosa, sedang fisik mereka memperlihatkan tanda-tanda kekecewaan akibat perilakunya semasa di dunia yaiti mereka bermata biru dan berwajah pucat lesi. Penampakan demikian adalah akibat mereka tidak mau menerima kebenaran dan memperturutkan nafsu dan kemauan setan sewaktu mereka berada di dunia dahulu.

Allah SWT menampakkan kemampuan yang masih tersisa dari apa yang disampaikan dalam menuturkan kekecewaan itu seperti difirman dalam ayat 103:

يَّتَخَافَـتُوْنَ بَيْنَهُمْ اِنْ لَّبِثْتُمْ اِلَّا عَشْرًا
“mereka saling berbisik satu sama lain, Kamu tinggal (di dunia) tidak lebih dari sepuluh (hari).” (QS. Ta-Ha 20: Ayat 103)
Mereka saling berbisik  dan saling bertanya denga suara yang hampir-hampir tdk terdengar, karena sangat merasa takut dan khawatir.
“Kita baru 10 hari saja hidup di dunia bukan?” bisiknya kepada yang lain yang sama mengalami nasib serupa di Padang Makhsyar. “Mengapa kita sudah dikumpulkan di Padang Makhsyar seperti sekarang? ” sebutnya lagi.

Ungkapan tersebut berisi bayangan akan siksa pedih seperti apa yang akan mereka hadapi, dari liku-liku kehidupan yang dialami semasa berada di dunia, dibanding dengan masa sangat panjang ketika mereka berada di akhirat.

Allah SWT berfirman:

نَحْنُ اَعْلَمُ بِمَا يَقُوْلُوْنَ اِذْ يَقُوْلُ اَمْثَلُهُمْ طَرِيْقَةً اِنْ لَّبِثْتُمْ اِلَّا يَوْمًا
“Kami lebih mengetahui apa yang akan mereka katakan, ketika orang yang paling lurus jalannya mengatakan, Kamu tinggal (di dunia), tidak lebih dari sehari saja.” (QS. Ta-Ha 20: Ayat 104)
Padahal sudah tidak ada gunanya lagi mereka berkata-kata begitu, baik berupa perasaan sehari ataupun sehari, karena  sebenarnya mereka semua telah diberi kesempatan yang lterbentang cukup semasa hidupnya untuk kemudian kembali kepada Allah, tetapi kesempatan itu tidak mereka pergunakan secara sungguh-sungguh.

Akhirnya: Allah SWT berfirman:

وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ كَاَنْ لَّمْ يَلْبَثُوْۤا اِلَّا سَاعَةً مِّنَ النَّهَارِ يَتَعَارَفُوْنَ بَيْنَهُمْ ۗ قَدْ خَسِرَ الَّذِيْنَ كَذَّبُوْا بِلِقَآءِ اللّٰهِ وَمَا كَانُوْا مُهْتَدِيْنَ
“Dan (ingatlah) pada hari (ketika) Allah mengumpulkan mereka, (mereka merasa) seakan-akan tidak pernah berdiam (di dunia) kecuali sesaat saja pada siang hari, (pada waktu) mereka saling berkenalan. Sungguh rugi orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Allah dan mereka tidak mendapat petunjuk.” (QS. Yunus 10: Ayat 45)

Pada akhirnya, dari kehidupan dunia yang dirasakan sedikit dibanding siksaan yang akan dialami di akhirat ini,beberapa hal dapat ditegaskan di bawah ini:
1- Allah menceritakan kisah Nabi-nabi terdahulu kepada Nabi Muhammad saw untuk menghibur hatinya yang sedih, karena kebanyakan kaumnya tidak juga mau beriman, bahkan selalu menganiaya dan menyakiti hatinya. Dan juga untuk menjadi pelajaran bagi kaum muslimin.
2- Orang-orang yang berpaling dari ajaran al-Qur’an akan memikul dosa yang amat berat di hari Kiamat nanti dan ditimpa azab yang pedih dlm nsraka Jahannam.
3- Karena beratnya penderitaan pada hari Kiamat bagi orang kafir, menyebabkan mereka merasa hidup di dunia hanya sebentar saja sehingga tidak ada kesempatan bagi mereka untuk bertobat dan beramal salih. (Erfan Subahar)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.