Kucing: Hewan Jinak Interaktif

Tidak sukar kita mendapatkan piaraan kucing. Lebih-lebih kucing yang keluar masuk hutan. Kucing itu berkeliaran di mana-mana. Jumlahnya juga tidak sedikit, sehingga mudah kita mendapatkannya.

Di tempat saya, Beringin Semarang,  banyak kucing yang keluar-masuk rumah. Jika diberi makanan yang menjadi kesukaannya maka ia mudah ingat akan jasa pemberi makan, sehingga akan mudahlah ia mengenang tempat yang “bos”nya sudah memperhatikannya. Bila kita tahu kelemahan kucing seperti itu, maka tidak sukar kita untuk memilikinya. Atas pikiran seperti itu, di tempat saya yang dulu sisa-sisa makanan selalu dikitari tikus, yang membuat kita tidak nyaman dengan kesukaan tikus yang selalu merusak, akhirnya didatangi oleh kucing, yang kita suguhi makanan sesuai seleranya.

Lalu dipeliharalah kucing, yang entah dari mana itu. Bertahun-tahun ia berada di tempat saya. Namun, karena banyak space di sekitar rumah sudah direhab menjadi bangunan, maka tanah untuk membuang beol (kotoran)nya tinggal sedikit. Di situlah kucing lalu berulah, membuang kotoran seenaknya. Mungkin, yang penting bisa dan tidak diapa- apakan oleh tuan rumahnya.

Wah, najis kencing dan beol kucing menjadi tidak nyaman. Ketika akan salat, dan biasa melaksanakan salat, akhirnya jauh ibadah kita dari nyaman. Hari demi hari, terus begitu. Sampai beberapa bulan masih kita tolerir; diatasi dan diatasi lagi. Namun, akhirnya perulangan dalam kelahiran demi kelahiran sang kucing Momon membuat kami kerepotan dengan perkara najis. Ibunya yang dulu open memeliharanya, juga saya, diam-diam sudah mulai mengeluh dengan si Momon dan anak-anaknya, yang biasa melahirkan empat itu.

Ada yang memicu kita tidak sreg lagi dengan yang namanya si kucing ini. Di tempat saya kebetulan, ada kucing berbulu tiga. Atas ulahnya yang macem-macem, pernah diungsi kan dari rumah sampai radius 2,5 km masih bisa pulang ke rumah lagi. Lalu, karena hari-harinya selalu dikerubungi kucing-kucing jantan, yang mengendus-endus si kucing momon yang ayu itu. Begitu lah bergantian antar kucing tiap hari, akhirnya membawa kucing-kucing berdatangan. Dan tentu saja sampai terjadi pertengkaran antar kucing.

Yang pernah merisaukan: ada dua kucing jago. Dua kucing ini, yang mungkin karena makanannya bergizi tinggi hari-hari datang saja ke rumah. Untuk apa lagi, ya iyalah….. Anehnya dua kucing jantan ini berhari-hari ke rumah dan selalu saja bertengkar. Akhirnya ia bertengkar sambil melompat-lompat dan membuat genthen mushalla jebol. Musim hujan lagi. Padahal di situ, baru usai pembuatan langit-langit gipsun.

Pantas saja, bila gypsun terpaksa dibenahi lagi. Dicet lagi, sebelumnya ditata baik gentengnya maupun posisi gypsunnya.

Soal kucing, akhirnya dicari solusi, siapa tahu ada orang di sekitar perumahan SD Kampus Ngaliyan itu ada yang suka kucing.

Tepat Rabu bakda subuh. Dua anak kucing plus induknya dengan diberi manakan, kita antar ia untuk bisa hidup di Ngaliyan. Siapa tahun di sekitar warung-warung makan SD dan rumah-rumah bagus itu, si momon dan anaknya beroleh nasib baik. Lebih baik dari kehidupan di desa. Dan keluarga kami, sudah mencoba memelihara kucing Persi, yang dibeli dengan harga Rp 800.000,-. Kucingnya gantheng, jinak, manja. Sangat menye- nangkan pemiliknya. Disiplinnya juga bagus, sejak waktu makan, buang kotoran, hingga tidurnya yang nyenyak, dan pintar memikat pemiliknya.

Si Bone. Inilah pengganti si Momon, yang baru dialihkan rumah, di sekitar rumah-rumah bergengsi. Kita sayang binatang, terutama yang bisa didisiplin dengan baik, dan tidak terlalu menyebar najis, juga tidak membahayakan bagi pemiliknya. Semoga ikhtiar kami dalam lindungan-Nya, dan sedikit-sedikit mendapatkan pahala dari sedekah bagi hewan piaraan kami (Erfan S.)

Leave a Reply

Your email address will not be published.