Menelisik Tentang Puasa Ramadhan yang Berhasil

Puasa adalah tugas suci orang beriman yang diberi pahala khusus oleh Allah. Puasa Ramadhan, itulah yang dimaksud di sini, adalah puasa yang kita nanti-nanti, karena ia datang hanya sekali dalam setahun. Waktunya hanya sebulan, sedang pahalanya hanya Allah yang Maha Tahu seperti apa besarnya. Jika pada bulan-bulan yang lain tidak ada puasa yang diwajibkan (kecuali puasa qadha dan nadzar), maka di bulan Ra­madhan puasanya diwajibkan oleh Allah Swt. Jelasnya, puasa ini ada pertanda rahmat Allah Swt kepada kita.

Puasa Ramadan syari’atnya ditegaskan dalam Al-Qur’an dan Hadis yang telah dipraktekan para sahabat dan segenap  mukmin yang muttaqin. Yakni mukmin yang nyata taqwanya kepada Allah. Maka berbahagialah mereka yang berpuasa yang telah mengikuti jalan yang ditunjuki Nabi saw; lebih dari yang dicerna dengan nalarnya sendiri.

Karena melaksanakan puasa yang tidak dikehendaki-Nya dapat membawa puasa hanya menahan lapar atau dahaga, tidak sampai beroleh pahala yang mantap yang besar dari Allah Swt.

 

Puasa: Niat dan Mantap Menahan

Puasa Ramadan yang tepat kita laksanakan hanyalah yang memenuhi syarat dan rukun. Apabila orang yang berpuasa ini disyaratkan harus muslim, maka berangkat dari diri muslim itulah kita penuhi prasyarat diri bagi melaksanakan ibadah puasa. Manakala sudah memenuhi syarat itu, tinggal memenuhi rukun dan etika ibadah puasa itu sendiri.

Amaliah orang berpuasa telah bernilai manakala ia telah berniat. Niatnya shaim, ‘orang yang puasa’, memiliki daya dorong , yang menyebabkan orang memiliki daya tahan, kuat, dan mampu menunaikan puasa. Jelasnya, niat yang benar, berenergi kemauan yang berdaya bagi meraih sukses puasa dari sehari ke sehari sampai berlangsung baik dan selesai.

Soal niat ini — bagi sukses puasa — tidak bisa ditawar, karena niat yang tulus adalah penentu keberhasilan puasa. Nabi saw bersabda, “Siapa saja yang tidak melakukan niat puasa di malam hari Ramadan maka sia-siala puasanya.” Pendeknya, puasa seseorang jika tanpa niat tidak sah.

Dari uraian di atas, maka puasa mesti diperhatikan betul-betul sempurnanya. Dalam kerangka itu, kita selain perlu niat puasa ketika saur, juga perlu memenuhi rukun kedua puasa.

Rukun kedua puasa adalah menahan diri. Para ahli fiqih menjelaskan, bahwa puasa itu ialah menahan diri dari segala yang membatalkan puasa seperti makan minum dan melakukan perbuatan maksiat waktu berpuasa, yakni sejak terbitnya fajar sampai terbenam matahari. Jadi, menahan yang dimaksud mencakup latihan menahan secara fisik juga psikis yang terus dibiasakan.

Dari keterangan ini jelas, bahwa puasa tidak bermaksud menjadikan orang lapar dan sulit. Akan tetapi, untuk menyi­ap­kan kita menjadi orang yang terdidik dan terlatih. Yaitu terdidik hidup berangkat dari niat yang tepat dan benar untuk dapat hidup teruji, sehingga bila berhadapan dengan lapar dan dahaga kita tidak mudah patah arang, dan tetap kuat kemauan menuju keberhasilan dalam kehidupan. Dengan terus melatih daya tahan, seseorang tidak mudah menyerah oleh kesulitan; tidak mudah putus asa ketika kepadanya dihadapkan suatu persoalan rumit dalam hidup ini. Sukses mudah diraihnya.

Dengan berpuasa, orang memiliki grafik mentalitas naik. Yaitu mental kuat, daya tahan, sabar atas segala apa yang meng­hadang ketika akan mencapai tujuan. Jangankan hanya menghadapi atau melihat orang lain makan dan minum, dan mengajak ngobrol dengan kata-kata tidak senonoh. Terhadap yang mengajak ghaibah, ber­tengkar, atau nyombong pun  akan sanggup menahan diri. Puasa telah membentengi kita dengan sikap sabar.

Maka sabar adalah perisai shaimun. Puasa memiliki daya tangkal: yaitu sikap dan etika pegangan diri. Tidak mau hanya puasa dengan tanpa bersaur. Tidak mau ngelantur bicara yang berbau maksiat, karena sadar bahwa dirinya tengah puasa. Dirinya hanya memegangi panduan puasa yang nyata diajarkan atau ditunjuki oleh Nabi saw, karena sifat sabarnya punya jaminan surga.

 

Ukuran Keberhasilan

Dari uraian di atas jelaslah  mengenai gambaran praktek ibadah puasa dalam corak yang utuh. Apa saja pengukur keberhasilan ibadah puasa kita? Dan adakah petunjuk lain untuk mengatasinya: terutama bagi yang tidak kuat berpuasa?

Pengukur keberhasilan puasa paling tidak dapat dilihat dari empat hal bagi shaimun, yaitu: Pertama, puasa dapat menjadikan shaimun semakin kokoh keimanan dan kedekatan hubungan dengan Allah Swt. Segenap  shaimun sudah memi­liki kemampuan menjaga diri secara baik, baik dalam hu­bungan vertikal dengan Penciptanya maupun dalam hubung­an horizonlal. Perbuatannya mencerminkan indikator beriman kepada yang ghaib, mendirikan salat, mengeluarkan zakat, suka berinfak, dan berkeyakinan keimanan mantap pada kehidupan akhirat. Pendek kata, shaimun dapat mematri jiwa taqwallah dalam kehidupannya.

Kedua, pelaksanaan puasanya telah memenuhi syarat dan rukunnya. Selain terbukti dirinya muslim, puasanya di samping dilakukan dengan niat yang tepat dan memenuhi aktivitas menahan diri secara phisik dan psikhis, juga dilakukan sesuai petunjuk Nabi saw. Karena petunjuk Nabi saw adalah berisi bukan saja menyentuh aspek fisik pelaku puasa, me­lainkan juga menyangkut psikhisnya, sehingga shaimun yang benar puasanya, akan sehat lahiriah dan sehat bathiniah.

Ketiga, puasa dilaksanakan dengan amalan sunnah secara ikhlas selama sebulan penuh. Puasa yang berhasil tidak berisi ungkapan takwa di lisan, tetapi memenuhi syarat-rukun dalam amaliah, juga dilaksanakan secara sempurna dari awal sampai akhir Ramadan. Di sini, tidak disebut lengkap ibadah puasa seseorang, manahala hanya berisi di awal dan di akhir bulan (puasa kendang). Jelasnya, puasanya sempur nasebulan dilaksanakan sesuai dengan kemampuan kita masing-masing.

Keempat, puasa dipungkasi dengan mengeluarkan zakat. Selain mengeluarkan zakat mal sebagai bukti kemuslimannya juga mengeluarkan zakat fitrah. Zakat fitrah adalah zakat yang ditunaikan sunnahnya di akhir ramadan setelah waktu fajar sebelum salat Idul Fitri, sedang kewajibannya sudah bisa diselesaikan sejak awal bulan Ramadhan. Cukup 2,5 kg beras, dengan niat yang mantap ketika menyerahkannya.

Dari semua keterangan di atas, maka puasa yang berhasil sebenarnya dapat dicapai oleh siapa pun orang-orang mukmin yang telah ber­tekad kuat untuk menyelesaikan puasanya. Puasa Ramadan, bulan monopoli orang-orang hebat tertentu, tetapi juga hak orang-orang mukmin yang memiliki tekad yang sungguh-sungguh untuk memperoleh anugerah Allah atas para hamba-Nya, Sang ar-Rahman ar-Rahim, Yang hanya kepada-Nyalah kita semua layak memohon pertolongan (Erfan Subahar).

Leave a Reply

Your email address will not be published.