Menyimak Harga Waktu: Untuk Yang Sia-sia Atau Untuk Berbuat Yang Manfaat

Waktu adalah hadiah Allah untuk semua manusia dan makhluk di dunia ini yang akan berlanjut nanti di akhirat. Bagi manusia di dunia ini, waktu secara individual dianugerahkan dalam saat-saat terbatas, sedang di akhirat dianugerahkan begitu panjang. Baik bagi mereka yang menggunakan waktu di dunia secara sia-sia maupun bagi yang menggunakannya di dunia secara benar dan baik untuk hal yang manfaat. Bobot waktu di dunia dan di akhirat sudah ditentukan bagi manusia, dan ketentuan itu sudah merupakan sunnatullah yang tidak bisa diubah oleh siapapun, baik oleh orang yang ingkar maupun oleh orang yang taat. Kecuali oleh orang yang taat, maka waktu itu dapat secara istimewa diaturnya sesuai dengan garis-garis ketentuan Allah.

Waktu untuk Maksiat: Waktu Rapuh
Yang layak dipahami, bahwa waktu itu sebenarnya bukan untuk berbuat yang melanggar Allah. Karena semua mereka yang melanggarnya tidak akan ada yang terbebas dari Kehendak Allah, di akhirat. Tanpa terkecuali, Jin kafir atau pun setan yang seolah-olah banyak kehebatannya di dunia ini dari kacamata kesesatan akan terbukti pada waktunya, bahwa waktu untuk tidak taat, adalah waktu yang rapun. Tidak ada sebenarnya bobot kualitas waktu bagi waktu-waktu tidak taat itu, yang darinya maksiat dilakukan secara berkelanjutan. Berikut ini dapat dilihat waktu-waktu yang rapuh bagi pembuat kemaksiatan itu:
1- Mereka sang penikmat nafsu zina: ketika berbuat zina bisa jadi dia menikmati kenikmatan dari kelamin cipataan Allah itu. Bagi kaum lelaki yang memiliki alat kelamin yang sepanjang 13-17 cm dalam bobot sekitar dua one ini, umurnya bisa sekian tahun menjalani kenikmatan jasad dan birahi, tapi yang mesti diingat bahwa suatu ketika setrum kelaminnya itu di suatu ketika akan dicabut oleh Allah dan atau terkena penyakit sepilis atau lainnya yang menyebabkan rusaknya kelamin itu. Akan terlihat rapuhnya waktu birahi lelaki itu. Begitu pula bagi perempuan, bahwa Miss V, alat yang dipenuhi syaraf-syaraf kenikmatan untuk berhubungan itu merupakan organ yang mengagumkan sehingga jika diterapkan kepada jalan yang benar seperti berkomunikasi dengan sang suami  maka ia bisa menjadi sedekah baginya. Namun,  bila digunakan untuk keburukan misalnya hubungan intim yang berbau zina baik itu berzina dengan mereka yang memang berhidung belang ataupun sudah bersuami namun masih selingkuh dengan laki-laki lain, maka mesti diingat bahwa anggota alat kelamin itu ada di dalam yang jika tidak dirawat dengan baik mudah tertular oleh berbagai virus, yang selain bisa memorak-porandakan kelamin juga bisa menjadikannya rusak secara permanen seperti terkena kanker maupun terkena penyakit-penyakit kelamin yang terkadang begitu mengerikan.
2- Mereka sang peneguk minum-minuman terlarang. Bahwa minuman itu dapat merusak akal yang pada gilirannya mengarah kepada kerusakan badan. Minuman yang memabukkan saja dapat menjadikan para pelakunya selain mudah diketahui pribadinya seperti ketika dia mabuk, juga dapat menjadikan otak atau organ pikirannya menjadi korban. Apalagi yang sudah terkena resiko minuman memabukkan itu.
3- Mereka yang suka pemer buah dada atau anggota badan. Banyak dari kalangan ini, memamerkan anggota badannya yang masih mulus, lebih terlihat indah dari badan orang lain sehingga diperlihatkan tidak saja aurat di paha, di dada, lekuk-lekuk badan, namun hingga aurat-aurat dan buah-buah terlarang dan paling terlarang diperlihatkan seperti alat kelamin dengan selingkangan yang mentilis yang menitikkan air liur syahwat, hingga nyata-nyata berupa alat vagina yang hanya diberi celana dalam yang separuhnya ditutup sedang selebihnya terbiar kelihatan agar bisa dikonsumsi oleh penikmat-penikmat seks.
Waktu bagi kalangan ini tentu yang patut diingat, akan terbatas kemampuannya, kulitnya dalam waktu sekitar 60an sudah mulai menurun, mengeriput, dan seterusnya dalam batas-batas menghilangnya suasana muda.

Waktu Manfaat: Waktu Berkualitas
Waktu untuk berbuat yang bermanfaat adalah waktu yang berkualitas. Adakah contoh nyata sehingga waktu yang manfaat bisa disebut yang berkualitas. Waktu nyata dapat digunakan untuk melakukan amal-amal seperti menunaikan salat, mengeluarkan zakat, atau mengerjakan ibadah puasa, atau melaksanakan ibadah haji ke Baitullah. Semua waktu untuk amal-amal itu jika berniat melaksanakan saja dan belum ditunaikan, sudah terhitung berbobot satu perbuatan. Namun, jika kita melakukannya dalam keadaan ikhlas, maka kualitas keikhlasan ketika melakukan amal-amal itu dapat membawanya diberi pahala berlipat, 10 kali lipat, atau 100 kali lipat, bahkan hingga 700 kali lipat tergantung kualitas ikhlas kita dalam beramal, sehingga menjadikan kita selamat dunia dan selamat.

Tinggalkan yang Sia-Sia
Jalan yang selamat itulah yang tepat ditempuh, tentu yang memiliki landasan jelas. Yang diatur oleh sang Pencipta alam semesta ini, yang akan menjadikan kita jelas arah dalam kehidupan ini. Orang-orang selamat dari zaman ke zaman, atau dari waktu ke waktu telah meninggalkan rekam jejaknya bagi kita, sehingga tinggal kita yang diberi peluang untuk memilihnya, untuk mendapatkan yang menyelamatkan atau menguntungkan kehidupan sekarang dan di masa depan (Erfan Subahar).

Leave a Reply

Your email address will not be published.