Menata Fondasi Untuk Hidup Bahagia

Kehidupan bahagia adalah corak hidup yang mesti dipersiapkan. Sejak awal manusia mengarungi kehidupan, Allah sudah menganugerahkan bagi mereka untuk hidup berhasil yang ditandai adanya rasa bahagia dalam diri manusia. Maka rasa tenang, rasa tenteram, dan rasa plong di dada atau di hati adalah anugerah Allah Swt bagi yang mengikhtiarkannya selama hidup  di negeri dunia yang akan berlanjut di negeri akhirat. Sekalipun relatif, rasa bahagia itu nyata adanya dalam diri, sekalipun tidak semua manusia berhasil merasakan, karena tergantung pondasi yang dibangun di dalam diri.

Dengan begitu, hidup bahagia bisa diperoleh dengan merasakannya di hati kita masing-masing di saat menjalani kehidupan melalui tindak kita, ucapan kita, dan keyakinan kita. Tiga hal ini, akan disampaikan pada kesempatan yang akan datang. Pada bagian ini, uraian sekarang memokuskan telaah hanya pada pondasi bahagia, yang berfokus merenovasi pondasi kehidupan bahagia yang mungkin sebelumnya tidak menjadi bagian dari konsentrasi kita untuk mewujudkannya.

Apa saja fondasi dari kehidupan bahagia? Dapatkan pondasi itu direnovasi bagi proses kelanjutan kehidupan agar hidup ini berlangsung tenang, tentram, dan bahagia?

Prasyarat Bahagia

Bahagia tidak lepas dari sang Pencipta, karena itu anugerah-Nya di dalam kehidupan. Untuk bahagia, manusia mesti melakukan sesuatu yang darinya dapat memperoleh kebahagiaan. Pertama, bahagia diperoleh melalui perilaku, baik dalam hubungan vertikal dan horizontal. Dengan melakukan aktivitas baik dalam ibadah, maka ibadah kita diterimadan doa-doa kita dikabulkan Allah, sehingga rasa tenang dan bahagia diperoleh. Juga dengan berlaku baik kepada sesama dalam kehidupan, seperti melalui sedekah,  sharing ilmu, serta suka berbuat yang tidak menyakitkan hati, membawa kita dapat pertolongan Allah dari arah yang tiada terduga. Kedua, bahagia diperoleh melalui jalan yang halal. Jalan halal adalah jalan yang memudahkan kita memperoleh ketenangan dan kesenangan hidup yang mempermudah kita mendapat bahagia. Umpamanya, dengan memakan harta dari sumber halal yang secukupnya dan tidak tabdzir, badan kita mudah melahirkan sikap-sikap positif. Sebab dari sel-sel yang tumbuh di badan, tidak ditemukan kontras dengan rokh, sehingga memperlancar bagi proses bahagia. Dan dengan adanya sel-sel yang tumbuh subur tanpa campuran sel-sel yang tidak baik dan kontras maka tubuh sehat dan badan mudah memperoleh kesenangan. Akan tetapi, manakala badan kita mengkonsumsi makanan yang haram, maka sel-sel yang tumbuh di badan kita terjadi pertumbuhan tidak sehat. Bisa jadi sel-sel yang tumbuh pun terlalu cepat, sehingga berakibat menumpuk terlalu cepat yang lama-kelamaan membusuk, menjadi awal tumbuhnya penyakit kangker. Hal ini disinyalir dari hadis Nabi, bahwa suatu yang tumbuh dari yang haram akan membawa madharat, yakni mendatangkan neraka bagi orang itu. Alias, tidak disukai Allah. Ketiga, perintang bahagia sebab badan tidak bersih atau tidak suci, pakaian yang kotor, serta memakan makanan yang tidak halal.  Badan yang tidak bersih terlihat kotor, menebar aroma tidak sedap yang tidak  disuka dalam pergaulan. Untuk berhubungan dengan sesama saja, tidak disuka maka apatah lagi  akan berhubungan dengan sang Pencipta. Pakaian yang kotor atau lama tidak dicuci, tidak akan membawa orang direspon baik dalam komunikasi. Dan di dalam berhubungan dengan Allah, hal ini sukar untuk disukai-Nya. Salat  pun bisa  batal karenanya. Akhirnya, makanan yang tidak halal yang masuk ke tubuh kita, menjadi perintang bagi senangnya tubuh dan akibatnya cukup jauh, yaitu tidak akan mampu  membawa kesenangan dalam pergaulan. Kondisi yang tidak jelas dari tiga hal tersebut di atas tidak akan menjamin bagi diperolehnya kebahagiaan dalam diri seseorang.

Menyusul di Paragraf berikutnya (Erfan S).

835 thoughts on “Menata Fondasi Untuk Hidup Bahagia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *