Perkuliahan S2: Berjalan dengan Tetap Layak Menjaga Keselamatan Jiwa

Mengajar program S2 di Era Pandemi 2020-2021 ini perguruan tinggi tetap dituntut memiliki perencanaan yang matang berkenaan dengan keberlangsungan perkuliahan mahasiswa S2. Baik yang dilaksanakan di FITK UIN Walisongo Semarang, maupun yang dilaksanakan di IAIN Pekalongan, tempat dimana semester ini saya mengajar, perencanaan pembelajran di PT tetap diberi peluang adanya alternatif metode perkuliahan. Sekalipun akhir-akhir ini sudah ada gelagat untuk membuka peluang bagi kuliah luring atau offline, tetapi selalu saja tidak bisa ditutup bahwa kuliah bisa saja tetap layak untuk berjalan secara daring.

Berada di Kondisi Menjelang Level Dua
Program S2 FITK yang sudah diberi peluang kuliah offline di Kampus 2 FITK UIN Walisongo, dalam proses pelaksanaannya tidak bisa sepenuhnya serta merta bersegera offline benar dan benar-benar dilaksanakan secara offline sejak Oktober 2021 ini. Sekalipun sudah tiga semester ini pandemi Covid 19 berlangsung, ternyata tidak semua mahasiswa siap untuk diberlakukan sama untuk kemungkinan merealisasi kuliah mereka secara offline. Mungkin, soal keselamatanlah yang tidak boleh tidak mesti diprioritaskan, sebab mahasiswa S2 selain berasal dari banyak kota atau kabupaten di Jawa, juga banyak darinya berasal dari luar jawa seperti Sumatera, Kalimantan, Nusa Tenggara, bahkan dari luar negeri seperti Thailand dan Libia. Aspek keselamatan, atau perlindungan jiwa adalah menjadi penyaring yang bijak dalam perkuliahan di Semester ini. Dan kita belum tahu persis, kapan kondisi ini akan berlangsung.

Guru Mesti Memikirkan Keselamatan Murid
Untuk program S2, tentu bukan hanya mahasiswa kita yang perlu dipertimbangkan seperti di atas, melainkan segenap murid mereka (peserta didik S2) dimana para guru (yang saat ini sedang kuliah S2 di FITK yang dipertimbangkan), akan tetapi segenap murid dimana para guru itu juga mengajar di tempat tugas masing-masing (yang gurunya kini kuliah S2), ya yang demikian juga harus menjadi bahan pertimbangkan lebih jauh. Jiwa manusia, yang terkadang berlapis seperti itu, tidak bisa diabaikan dalam mempertimbangkan keselamatannya.

Sampai kapan kondisi demikian akan berlanjut, tidak ada yang tahu persis dari segi waktu  riilnya. Kita tetap perlu sama bersabar, adalah ungkapan yang tetap layak untuk dipegangi bersama bagi keberlangsungan hal ini (Erfan Subahar).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: