Tetap Menjadi Pribadi Pintar yang Tawadhu’ di Tahun 2022

Menjadi pribadi pintar adalah idaman dari semua orang yang berakal sehat dan suka kemajuan. Namun, pada orang yang disebut pintar kerap ditemukan pada pikirannya yang kadang mau menang sendiri, merasa hebat sendiri, merasa mencuat sendirian yang seakan tak tertandingi. Bahkan, yang sering menonjol, pribadinya terkesan tidak mau dikalahkan. Orang pun menyebut yang demikian dengan orang angkuh, yang sok menang sendiri. Nah, orang pintar yang demikian tentu bisa tidak disuka dalam pergaulan. Sekarang: bagaimana cara bahwa kita menjadi pintar tetapi komunikatif, yang tetap nyambung atau tetap disuka di dalam pergaulan?

Enam hal berikut, berdasarkan rekaman bacaan dari banyak sumber dapat dipegangi sebagai hal yang perlu ada untuk terjelmanya kita menjadi pribadi yang pintar, yaitu pintar elegan yang diterima dalam pergaulan, karena tetap bisa tawadhu atau rendah hati.

1. Berbicara sepanjang perlu atau pendek tetapi cukup

Orang pintar yang tawadhu ketika bicara dia memegang batas-batas pembicaraan. Dia jauh dari memikirkan menang-menangan dalam berbicara, sehingga ketika bicara dia berpegangan sepanjang perlu, jauh dari bertele-tele. Namun, ketika ingin bicara pendek, ungkapannya tetap memadahi. Sedikit pun tetap cukup untuk menjelaskan kesan dari apa yang dibicarakan, karena kalimat yang diungkapkan mengandung pesan yang jelas yang mudah ditangkap.

2. Suka menyimak dan mendengarkan 

Orang yang pintar namun tidak membusungkan dadanya, dia biasa disebut tawadhu. Selalu suka merendah hati, namun bukan rendah diri. Ketika berbicara, dia tetap dengan pegangan seperti yang pertama. Terhadap lawan bicara, dia selalu mengincar waktu untuk menyimak penuturan kawan bicara, karena banyak lebih banyak mendengarkan daripada berbicara. Kalau dipandang perlu, malah dia sering memancing uraian lawan bicara dengan mengajukan pertanyaan yang menggelitik untuk dijawab kawan bicara. Mereka mau mendengarkan orang lain dan menunggu saat yang tepat untuk berbicara. Lalu di saat berbicara, mereka tidak suka mendramatisir pembicaraan, dan jauh dari kesan melebih-lebihkan atas orang lain dengan keunggulanya.

3. Mau menerima masukan

Semakin bijak akal budi seseorang, maka akan rasa tawadhu akan terbaca dari sifatnya. Pribadinya tidak merasa didekte ketika ada pihak lain yang memberi masukan padanya atau menasihatinya, karena disadari bahwa agama yang dianutnya juga menyebutkan bahwa agama adalah nasihat. Disadari oleh pribadinya, meskipun memiliki banyak kelebihan tetap disadari bahwa mereka bukan pemilik total kebenaran. Ketika dalam kebenaran pun, dia sadar bahwa pada kebenaran pun selalu ada peluang dari melakukan kesalahan.

4. Jauh dari Sombong dan pamer kelebihan

Meskipun manusia cerdas itu punya kelebihan, namun ia tidak menjadikan dirinya sombong dan pamer dengan kelebihan yang dimilikinya. Karena sifat sombong itu hanya milik sang Pencipta Alam Raya ini, dan pamer pun bukan sikap yang elegan bagi sang cerdas. Dari situ, pribadi yang pintar lebih suka dengan memberi dan mengeshere pengalamannya bagi sesama, agar ilmunya membuat dirinya tawadhu. Yang ibarat padi, dia semakin hebat semakin merunduk atas kelebihan yang dimilikinya..

5. Sadar Berdakwah dan Menyebarkan ilmunya buat kehidupan

Karena orang pintar itu suka belajar, maka banyak ilmu yang dimilikinya namun tidak membuat silaunya dengan komitmen dirinya. Yaitu, suka berdakwah dan menyebarkan ilmu yang dimiliki ke tengah-tengah pentas kehidupan. Karana pada manusia itu kebanyakannya sukar menjadi pribadi yang seimbang. Pada satu sisi dia telah melakukan kebaikan, namun pada sisi lain misalnya masih suka menuruti kemauan syahwatnya sehingga dirinya masih terombang-ambing oleh kemaksiatan yang dilihat dari lingkungan yang ada di sekitarnya, atau dunia maya via internet yang menjajagan auratnya secara berulang-ulang ke tengah-tengah dunia pergaulan.  Pada saat melihat orang lain dalam kekurangan, oang cerdas yang pintar ini merasa hadir diri, untuk berdakwah dan share ilmu yang dimilikinya, dalam kerangka berbuat manfaat dan maslahat bagi lingkungan dekat dan lingkungan luas yang dapat diikhtiarkannya.

6. Sadar Tahu, Mau dan Punya Keterbatasan

Orang yang pintar dan tawadhu seperti yang digambarkan di atas sebenarnya adalah sederet kelebihan yang dimiliki oleh personal-pernonal dari pelbagai kalangan di dalam kehidupan ini. Pribadinya adalah banyak memiliki ketahuan karena suka membaca dan belajar, mau terus maju karena kemajuan adalah tuntuan bagi nya. Namun dirinya tetap sadar dengan adanya keterbatasan. Dari situ, dirinya memiliki pilihan hidup: yakni memilih hidup tetap sederhana –pintar, mau, terbatas– namun dia juga hebat. Maka mereka pun sering suka dengan sebutan pribadi sederhana yang mempesona (Erfan Subahar).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.