Tradisi Mapati dan Mitoni Dalam Kehidupan Masyarakat Islam di Indonesia

Ada tradisi yang sejauh ini biasa dilestarikan di kalangan umat Islam Indonesia, terutama yang berkembang secara berkelanjutan di Pulau Jawa dan beberapa pulau lain. Tradisi ini berkenaan dengan kepercayaan perlunya suatu keluarga berusaha untuk memiliki keturunan yang selamat, bagi penganten yang baru membina mahligai keluarga, atau bagi orang yang sudah berkeluarga atau lama berkeluarga dimana sang wanita atau sang ibu sedang dalam kondisi hamlah, atau sedang hamil di atas usia tiga bulan. Menjelang masuk usia kehamilan empat (4) bulan atau tujuh (7) bulan, berlakulah tradisi yang disebutkan dalam judul kita di atas.

Mapati dan Mitoni
“Memperoleh keturunan yang sehat, cerdas, dan selamat,” adalah tujuan yang umum kita dengar dari upacara-upacara adat yang berlangsung di kalangan umat Islam di Pulau Jawa atau di beberapa pulau lain di Indonesia. Dengan melakukan upacara bagi keselamatan wanita yang hamil menjelang hamil di bulan keempat dan/atau hamil di bulan ketujuh, maka tetap diharapkan beroleh keturunan seperti yang diharapkan, dan bukan sebaliknya yakni jauh dari harapan atau hampa dari buah kehamilan sang Ibu yang kini dalam keadaan sedang berubah dari apa yang dikandungnya, yakni proses kehamilan yang semakin lama semakin membesar sampai nanti akan tiba waktunya kapan sang ibu melahirkan.

Acara Khusus
Pada kesempatan ini acaranya tidak selalu sama antara satu tempat dengan tempat yang lain, antara satu kota dengan kota lainnya. Namun, tetap ada titik-titik kesamaannya, yaitu pada acara dimaksud ada pembacaan surah-surah Al-Qur’an pilihan. Dengan harapan bahwa dengan membaca surah-surah Al-Qur’an pilihan dimaksud maka ada harapan bahwa bayi yang sedang berada dalam hamil sang wanita atau ibu itu beroleh keturunan yang memiliki harapan, yaitu memperoleh berkah dari surah-surah Al-Qur’an yang dibacakan dalam peristiwa selamatan mapati atau mitoni itu.
Banyak surah yang menjadi pilihan. Misalnya, yang dipilih pada acara yang diadakan oleh keluarga Moh Nabiel Erfan dan Imel (Melati Ayuningtyas Pambudi) adalah (1) Surah Yasin, (2) Surah Thoha, (3) Surah Muhammad, (4) Surah Al-Fath, (5) Surah Maryam, (6) Surah Ar-Rahman, (7) Surah al-Waqi’ah, dan (8) Surah Lukman. Dengan membaca surah-surah dimaksud, maka ada harapan sosok-sosok tokoh yang dimaksud dalam surah itu membekas dan sekaligus memberi berkah dari Allah Swt kepada jabang bayi yang tengah kita selamati.

Living Hadis
Gambaran upacara seperti diilustrasikian di atas, sebenarnya bukan tanpa dasar.  Hal itu berangkat dari dasar nash hadis Nabi yang disampaikan kepada kita. Misalnya, bahwa dalam suatu riwayat begitu sperma bertemu dengan ofum, maka terjadilah suatu gumpalan darah dalam masa 40; lalu menjadi gumpalan daging dalam masa 40 hari kemudian, dan memasuki mau empat bulan berikutnya, terjadi peristiwa penentuan Malaikat yang dititahkan oleh Allah Swt. Selain macam-macam ketentuan yang disebutkan dalam hadis itu. Di situ ada ketentuan berkenaan dengan peniupan rokh pada janin yang sedang berada dalam hamil sang Ibu. Padahal, dalam menjelasan banyak nash, menjelaskan kepada kita bahwa peristiwa peniupan rokh itu selain merupakan pemberi tanda-tanda kehidupan, juga merupakan pertanda anugerah kedigdayaan jasad makhluk dari sekalian makhluk Allah Swt, terutama umat manusia.
Di situlah esensi pengadaan acara mapati dan mitoni ini diadakan di dalam tradisi umat Islam (Erfan Subahar).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: