Lisan: Aslinya Buat Menjaga Kehidupan

Di antara sekian banyak nikmat yang Allah SWT anugerahkan kepada manusia, lisan merupakan salah satu nikmat yang paling besar sekaligus paling berbahaya. Dengan lisan, seseorang dapat menyampaikan ilmu, menebarkan kasih sayang, menguatkan hati yang lemah, mendamaikan perselisihan, dan mengajak manusia menuju jalan kebaikan. Namun dengan lisan yang sama, seseorang juga dapat menyakiti hati, merusak persaudaraan, memecah belah masyarakat, bahkan menghancurkan kehidupannya sendiri.
Karena itu para ulama sering mengatakan bahwa banyak manusia masuk surga karena lisannya, tetapi tidak sedikit pula yang tergelincir ke dalam kesengsaraan akibat lisannya.
Allah SWT mengingatkan:
﴿مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ﴾
“Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.” (QS. Qaf: 18)
Ayat ini mengandung pesan yang sangat mendalam. Setiap kata yang keluar dari mulut kita tidak pernah hilang begitu saja. Ia tercatat. Ia menjadi saksi. Ia akan kembali kepada pemiliknya pada hari ketika manusia diminta mempertanggungjawabkan seluruh amal perbuatannya.
Karena itu seorang mukmin tidak hanya berhati-hati dalam bertindak, tetapi juga berhati-hati dalam berbicara.
Sesungguhnya lisan adalah cermin hati. Apa yang tersimpan di dalam hati biasanya akan tampak melalui ucapan. Hati yang bersih akan melahirkan kata-kata yang lembut. Hati yang dipenuhi kasih sayang akan melahirkan ucapan yang menenangkan. Sebaliknya, hati yang dipenuhi iri, dengki, dan kebencian akan mudah melahirkan kata-kata yang menyakitkan.
Rasulullah SAW bersabda:
«أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ»
“Ketahuilah, dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itulah hati.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Karena itulah menjaga lisan pada hakikatnya adalah menjaga hati. Semakin baik hati seseorang, semakin baik pula kata-kata yang keluar dari lisannya.
Salah satu ukuran kualitas keimanan seseorang dapat dilihat dari kualitas ucapannya. Rasulullah SAW bersabda:
«مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ»
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Hadis ini sangat sederhana, tetapi mengandung prinsip hidup yang luar biasa. Nabi hanya memberikan dua pilihan: berkata baik atau diam. Tidak ada pilihan untuk berkata kasar, mencela, memfitnah, merendahkan, atau menyakiti orang lain.
Dalam kehidupan sehari-hari, banyak persoalan sebenarnya dapat dihindari apabila manusia mampu mengendalikan lisannya. Persahabatan yang bertahun-tahun dibangun kadang hancur hanya karena satu ucapan. Rumah tangga yang harmonis dapat retak karena kata-kata yang tidak terjaga. Bahkan konflik sosial sering kali berawal dari kalimat yang diucapkan tanpa pertimbangan.
Di antara penyakit lisan yang paling berbahaya adalah dusta. Rasulullah SAW bersabda:
«إِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ، فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ، وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ»
“Jauhilah dusta, karena dusta membawa kepada kejahatan, dan kejahatan membawa ke neraka.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Kepercayaan adalah fondasi hubungan antarmanusia. Sekali kepercayaan itu rusak karena kebohongan, sering kali sangat sulit untuk mengembalikannya. Oleh sebab itu, kejujuran bukan sekadar akhlak yang baik, tetapi juga modal utama dalam membangun kehidupan yang kokoh dan bermartabat.
Selain dusta, penyakit lisan yang sangat merusak adalah ghibah atau menggunjing. Allah SWT menggambarkan keburukan ghibah dengan perumpamaan yang sangat keras:
﴿وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ﴾
“Janganlah sebagian kalian menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kalian memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentu kalian merasa jijik.” (QS. Al-Hujurat: 12)
Pada masa kini, ghibah tidak hanya terjadi dalam percakapan langsung. Ia berpindah ke layar telepon genggam. Ia muncul dalam grup percakapan, komentar media sosial, unggahan digital, dan berbagai ruang komunikasi modern. Jari-jari yang menekan tombol “kirim” sering kali lebih cepat daripada hati yang mempertimbangkan akibatnya.
Karena itu, di era digital, menjaga lisan tidak hanya berarti menjaga ucapan, tetapi juga menjaga tulisan, komentar, unggahan, dan seluruh jejak digital yang kita tinggalkan.
Imam Al-Ghazali pernah mengingatkan bahwa lisan adalah nikmat besar yang dapat menjadi sebab kebahagiaan atau sebab kebinasaan. Sementara Imam Syafi’i menasihatkan agar seseorang berpikir terlebih dahulu sebelum berbicara. Jika manfaatnya jelas, maka berbicaralah. Namun jika masih diragukan, diam adalah pilihan yang lebih selamat.
Nasihat yang sama disampaikan Hasan al-Bashri ketika beliau berkata bahwa lisan seorang mukmin berada di belakang hatinya, sedangkan hati orang yang lalai berada di belakang lisannya. Orang beriman berpikir dahulu baru berbicara, sedangkan orang yang tidak berhati-hati berbicara dahulu lalu menyesal kemudian.
Karena itu, marilah kita membiasakan beberapa hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari: berpikir sebelum berbicara, memperbanyak dzikir, mengurangi pembicaraan yang tidak bermanfaat, menghindari ghibah, menggunakan media sosial secara bijak, dan membiasakan kata-kata yang menyejukkan.
Betapa indahnya kehidupan apabila setiap hari kita memperbanyak ucapan salam, doa, terima kasih, maaf, penghargaan, dan nasihat yang baik. Keluarga akan menjadi lebih harmonis. Persahabatan akan semakin erat. Masyarakat akan lebih damai. Dan hati kita sendiri akan merasakan ketenangan.
Sesungguhnya menjaga lisan bukan sekadar menjaga kata-kata. Menjaga lisan adalah menjaga kehormatan diri, menjaga persaudaraan, menjaga kedamaian, dan menjaga masa depan kehidupan. Sebab sering kali nasib seseorang ditentukan bukan oleh apa yang dimilikinya, melainkan oleh apa yang diucapkannya.
Semoga Allah SWT membersihkan hati kita, menjaga lisan kita, memperindah akhlak kita, dan menjadikan setiap kata yang keluar dari mulut kita sebagai sumber kebaikan, kedamaian, dan keberkahan bagi sesama, Amin (Erfan Subahar).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *