Bersyukur: Rahasia Awal Hati Kita Bahagia
Di zaman yang serba cepat ini, banyak orang memiliki lebih banyak fasilitas dibanding generasi sebelumnya. Rumah lebih nyaman, kendaraan lebih mudah diperoleh, teknologi semakin canggih, dan akses informasi terbuka tanpa batas. Namun anehnya, tidak sedikit orang yang justru merasa hidupnya kurang bahagia.
Mereka memiliki pekerjaan, tetapi merasa terbebani.
Mereka memiliki keluarga, tetapi kurang menikmati kebersamaan.
Mereka memiliki harta, tetapi tetap merasa kekurangan.
Seolah-olah kebahagiaan selalu berada di depan sana, belum berhasil diraih, dan terus menjauh ketika dikejar.
Di tengah kondisi seperti itu, Islam mengajarkan sebuah rahasia besar yang sering terlupakan: syukur.
Syukur bukan sekadar ucapan “Alhamdulillah” yang keluar dari lisan. Syukur adalah cara memandang kehidupan. Syukur adalah kemampuan melihat cahaya nikmat di tengah berbagai keterbatasan. Syukur adalah seni menikmati karunia Allah yang sering kali dianggap biasa karena terlalu dekat dengan keseharian kita.
Allah SWT berfirman:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu.” (QS. Ibrahim: 7)
Ayat ini mengandung janji yang luar biasa. Allah tidak hanya memerintahkan kita untuk bersyukur, tetapi juga menjanjikan tambahan nikmat bagi orang-orang yang bersyukur. Tambahan itu tidak selalu berupa harta atau materi. Kadang berupa ketenangan hati, kesehatan, keluarga yang harmonis, sahabat yang baik, kemudahan dalam urusan, atau keberkahan umur yang membuat hidup lebih bermakna.
Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa syukur memiliki tiga tingkatan. Pertama, hati yang menyadari bahwa semua nikmat berasal dari Allah. Kedua, lisan yang memuji Allah atas nikmat tersebut. Ketiga, anggota tubuh yang menggunakan nikmat untuk kebaikan.
Karena itu, syukur bukan hanya pengakuan, melainkan juga tindakan.
Orang yang bersyukur atas ilmunya akan menggunakan ilmu itu untuk memberi manfaat.
Orang yang bersyukur atas hartanya akan menggunakannya untuk membantu sesama.
Orang yang bersyukur atas kesehatannya akan memanfaatkannya untuk bekerja, beribadah, dan berkarya.
Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali kita lebih sibuk menghitung apa yang belum kita miliki daripada mensyukuri apa yang sudah Allah berikan. Kita melihat rumah yang lebih besar milik orang lain, tetapi lupa mensyukuri rumah sederhana yang masih melindungi keluarga kita. Kita melihat kesuksesan orang lain, tetapi lupa mensyukuri kesehatan, keluarga, dan kesempatan yang masih kita miliki.
Padahal jika kita berhenti sejenak dan merenung, nikmat Allah sungguh tidak terhitung jumlahnya.
Allah SWT berfirman:
وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا
“Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.” (QS. An-Nahl: 18)
Coba bayangkan.
Berapa harga mata yang masih dapat melihat?
Berapa harga jantung yang masih berdetak?
Berapa harga udara yang kita hirup setiap saat?
Berapa harga keluarga yang masih menemani?
Berapa harga iman yang membuat kita mengenal Allah?
Semua itu tidak dapat dibeli dengan harta sebanyak apa pun.
Rasulullah SAW memberikan resep yang sangat indah untuk menjaga rasa syukur:
انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ
“Lihatlah orang yang berada di bawah kalian, dan jangan selalu melihat orang yang berada di atas kalian.” (HR. Muslim)
Hadis ini bukan mengajarkan kita berhenti berusaha. Bukan pula mengajarkan kita puas dengan kemalasan. Hadis ini mengajarkan cara menjaga kesehatan hati.
Jika dalam urusan dunia kita terlalu sering melihat ke atas, hati mudah merasa kurang. Tetapi ketika sesekali melihat ke bawah, kita akan menyadari betapa banyak karunia yang selama ini kita nikmati.
Orang yang mudah bersyukur biasanya memiliki hati yang lembut. Ia mampu menemukan alasan untuk bersyukur dalam hal-hal yang sederhana. Secangkir teh hangat di pagi hari, udara yang segar, senyum pasangan, tawa cucu, kesempatan membaca Al-Qur’an, atau kesehatan yang masih diberikan Allah menjadi sumber kebahagiaan yang tidak ternilai.
Sebaliknya, orang yang sulit bersyukur sering kali terjebak dalam perbandingan yang tidak ada ujungnya. Media sosial kadang memperparah keadaan. Kita melihat foto-foto kebahagiaan orang lain, perjalanan mereka, rumah mereka, kendaraan mereka, lalu tanpa sadar membandingkan semuanya dengan kehidupan kita sendiri.
Padahal setiap orang memiliki ujian yang berbeda. Tidak semua yang tampak bahagia benar-benar hidup dalam ketenangan.
Syukur juga melahirkan kekuatan saat menghadapi ujian.
Rasulullah SAW bersabda:
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ
“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Jika mendapat nikmat ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika mendapat musibah ia bersabar, maka itu juga baik baginya.” (HR. Muslim)
Di sinilah letak keindahan seorang mukmin. Ketika memperoleh nikmat ia bersyukur. Ketika menghadapi kesulitan ia bersabar. Dalam kedua keadaan itu ia tetap dekat dengan Allah.
Akhirnya, syukur bukanlah tentang banyak atau sedikitnya nikmat yang kita miliki. Syukur adalah tentang bagaimana hati memandang nikmat itu.
Orang yang bersyukur akan menemukan kebahagiaan dalam kesederhanaan.
Orang yang bersyukur akan menemukan ketenangan di tengah kesibukan.
Orang yang bersyukur akan menemukan harapan di tengah ujian.
Karena sesungguhnya kebahagiaan tidak selalu datang dari bertambahnya apa yang kita miliki. Sering kali kebahagiaan hadir ketika kita mulai menyadari betapa banyak nikmat yang telah Allah berikan.
Maka marilah kita membiasakan diri mengucapkan “Alhamdulillah”, bukan hanya dengan lisan, tetapi juga dengan hati dan perbuatan. Sebab syukur bukan sekadar ungkapan, melainkan jalan menuju kehidupan yang lebih tenang, lebih berkah, dan lebih bahagia.
Dan mungkin, di antara banyak rahasia kebahagiaan yang dicari manusia sepanjang hidupnya, salah satu yang paling dekat adalah kemampuan sederhana untuk bersyukur (Erfan Subahar).
