Menjaga Nyala Hijrah Sepanjang Waktu
Muharram datang membawa suasana baru. Kita menyambutnya sebagai awal tahun Hijriah, mengingat perjalanan hijrah Rasulullah SAW, memperbanyak amal, serta menumbuhkan tekad untuk memperbaiki diri. Namun, waktu berjalan cepat. Muharram pun perlahan meninggalkan kita.
Di sinilah muncul pertanyaan penting: ketika Muharram berlalu, apakah semangat untuk berubah menjadi lebih baik juga ikut berlalu?
Jangan sampai pergantian bulan hanya mengubah angka dalam kalender, sementara kehidupan kita tetap berjalan dengan kebiasaan lama. Sebab, hakikat hijrah bukanlah semangat sesaat. Hijrah adalah perjalanan panjang untuk terus bergerak dari keadaan yang kurang baik menuju keadaan yang lebih baik.
Hijrah adalah Gerak Kehidupan
Allah SWT berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَٰئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللَّهِ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS. Al-Baqarah [2]: 218)
Ayat ini mempertemukan tiga kekuatan besar dalam kehidupan seorang mukmin: iman, hijrah, dan perjuangan.
Iman memberikan arah. Hijrah menggerakkan perubahan. Sementara perjuangan menjaga perubahan itu agar tidak berhenti di tengah jalan. Ketiganya mengantarkan manusia untuk mengharapkan rahmat Allah SWT.
Pada masa Rasulullah SAW, hijrah memiliki dimensi historis berupa perpindahan dari Makkah menuju Madinah. Namun, nilai hijrah melampaui perpindahan geografis. Hijrah juga merupakan transformasi spiritual dan moral: meninggalkan keburukan, memperbaiki kebiasaan, membersihkan hati, serta meningkatkan kualitas hidup.
Karena itulah, semangat hijrah tidak seharusnya berakhir bersama berlalunya Muharram. Selama kehidupan masih berjalan, selama itu pula manusia membutuhkan perubahan.
Meninggalkan yang Tidak Diridhai
Rasulullah SAW memberikan pengertian hijrah yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari:
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ، وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ
“Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya, dan seorang muhajir adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang Allah.”
(HR. al-Bukhari)
Hadis ini membuat makna hijrah terasa sangat aktual. Tidak semua orang harus berpindah kota atau negeri untuk menjadi seorang yang berhijrah. Kita dapat memulainya dari sesuatu yang jauh lebih dekat: meninggalkan apa yang tidak diridhai Allah.
Orang yang sebelumnya mudah marah lalu belajar menahan diri sedang berhijrah. Orang yang terbiasa menyakiti dengan perkataan kemudian mulai menjaga lisannya sedang berhijrah. Orang yang dahulu lalai beribadah lalu mulai menata shalatnya juga sedang berhijrah.
Bahkan ketika seseorang meninggalkan kebiasaan merendahkan orang lain, menyebarkan kabar yang belum jelas, atau memenuhi media sosial dengan kemarahan, sesungguhnya ia sedang menapaki jalan hijrah.
Dengan demikian, hijrah bukan sekadar peristiwa sejarah yang dikenang. Hijrah adalah pekerjaan batin yang harus dilakukan sepanjang kehidupan.
Muhasabah Menjaga Arah Hijrah
Perubahan tidak akan bertahan tanpa evaluasi. Karena itu, pergantian waktu semestinya menjadi kesempatan untuk memeriksa kembali perjalanan diri.
Sayyidina Umar bin Khattab RA memberikan nasihat yang sangat terkenal:
حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا، وَزِنُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُوزَنُوا
“Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, dan timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang.”
Muhasabah berarti keberanian untuk melihat diri sendiri dengan jernih. Apa yang sudah berubah? Apa yang masih perlu diperbaiki? Kebiasaan buruk apa yang seharusnya mulai ditinggalkan?
Kedewasaan spiritual justru tampak ketika seseorang lebih sibuk memperbaiki dirinya daripada mencari-cari kekurangan orang lain.
Muharram boleh berakhir, tetapi muhasabah tidak boleh berhenti. Sebab, orang yang rajin mengevaluasi dirinya akan lebih mudah mengetahui ke mana hidupnya sedang bergerak.
Hijrah dari Lisan hingga Kepedulian
Semangat hijrah dapat dimulai dari hal-hal sederhana yang kita jumpai setiap hari.
Pertama, hijrah lisan dan jari. Pada zaman digital, tangan dan jari dapat membawa manfaat, tetapi juga dapat melukai banyak orang. Sebelum menulis komentar, meneruskan berita, atau membagikan sesuatu, tanyakan terlebih dahulu: apakah benar, bermanfaat, dan menyejukkan?
Jika sebelumnya mudah memberikan komentar negatif, mari berhijrah menuju kalimat yang santun. Jika terbiasa meneruskan berita tanpa memastikan kebenarannya, mari belajar melakukan tabayun. Terkadang, memilih diam jauh lebih bernilai daripada memenangkan perdebatan yang tidak membawa manfaat.
Kedua, hijrah dalam kualitas ibadah. Jangan biarkan shalat hanya menjadi kegiatan untuk menggugurkan kewajiban. Kita dapat berhijrah dari shalat yang tergesa-gesa menuju shalat yang lebih tenang, dari ibadah sebagai beban menuju ibadah sebagai kebutuhan hati.
Ibadah yang berkualitas akan memberikan ruang bagi jiwa untuk kembali menemukan ketenangan di tengah kesibukan kehidupan.
Ketiga, hijrah sosial. Kesalehan tidak berhenti pada hubungan manusia dengan Allah. Kesalehan juga harus terasa manfaatnya bagi manusia lain.
Kita dapat memulainya dari lingkungan terdekat: memperhatikan tetangga yang sedang mengalami kesulitan, membantu saudara yang membutuhkan, menguatkan orang yang sedang kehilangan semangat, atau sekadar berbelanja di warung kecil tetangga agar rezeki dapat berputar di lingkungan sendiri.
Hijrah yang sejati perlahan membuat keberadaan kita semakin bermanfaat.
Muharram Berlalu, Kebaikan Berlanjut
Pada akhirnya, Muharram memang harus berlalu. Bulan demi bulan akan berganti, tahun demi tahun akan berjalan, dan umur manusia pun terus berkurang.
Namun, Allah yang kita sembah pada bulan Muharram adalah Allah yang sama pada Safar, Rabiul Awal, dan seluruh bulan sepanjang tahun.
Karena itu, jangan menjadikan kebaikan sebagai kegiatan musiman.
Hijrah adalah proses sepanjang hayat: dari lalai menuju sadar, dari kasar menuju santun, dari egois menuju peduli, dari sekadar beribadah menuju penghayatan, dan dari baik menuju lebih baik.
Tidak perlu menunggu perubahan besar. Mulailah dari satu kebiasaan kecil yang diperbaiki hari ini, kemudian jagalah dengan istiqamah.
Muharram boleh meninggalkan kita, tetapi jangan biarkan semangat hijrah ikut pergi. Biarkan nyalanya tetap hidup di dalam hati, menerangi langkah kita dalam keluarga, pekerjaan, kehidupan sosial, dan pengabdian kepada Allah SWT.
Sebab, keberhasilan hijrah bukan terutama diukur dari seberapa bersemangat kita ketika memulainya, melainkan seberapa istiqamah kita menjalaninya setelah momentum itu berlalu (Erfan Subahar).
