Tangguh dalam Diri, Bermanfaat bagi Sesama

Hidup tidak selalu bergerak sesuai rencana. Ada masa ketika kesehatan terjaga, pekerjaan berjalan lancar, keluarga membahagiakan, dan cita-cita tercapai. Namun ada pula saat ketika sakit datang, usaha mengalami kesulitan, rencana berubah, atau jalan kehidupan membawa kita menuju keadaan yang sama sekali tidak pernah dibayangkan.
Di tengah perubahan itulah kualitas seorang Muslim diuji. Islam tidak hanya mengajarkan bagaimana menjadi orang baik ketika keadaan menyenangkan, tetapi juga bagaimana tetap teguh ketika keadaan berubah, lalu tetap mampu menghadirkan manfaat bagi orang lain. Inilah dua sisi penting kehidupan seorang Muslim: tangguh ke dalam dirinya dan bermanfaat keluar dirinya. Pasted text

Ketangguhan Bukan Hidup Tanpa Masalah
Orang tangguh bukanlah orang yang tidak pernah sedih, kecewa, atau gagal. Ketangguhan justru terlihat dari kemampuan seseorang mengelola keadaan tersebut. Ia boleh sedih, tetapi tidak membiarkan kesedihan menguasai seluruh hidupnya. Ia boleh gagal, tetapi tidak berhenti mencoba. Ia dapat mengalami kekecewaan, tetapi tidak kehilangan harapan kepada Allah.
Al-Qur’an menggambarkan keteguhan semacam ini melalui firman Allah:
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah,’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka seraya berkata, ‘Janganlah kamu merasa takut dan janganlah bersedih hati; dan bergembiralah dengan memperoleh surga yang telah dijanjikan kepadamu.’” (QS. Fuṣṣilat [41]: 30).
Kata penting dalam ayat tersebut adalah ثُمَّ اسْتَقَامُوا—kemudian mereka istiqamah. Istiqamah bukan berarti kehidupan selalu mudah. Istiqamah adalah kemampuan untuk tetap berada di jalan yang benar ketika kehidupan sedang tidak mudah. Pasted text

Menjadi Mukmin yang Kuat
Rasulullah Saw. memberikan pedoman yang sangat lengkap tentang ketangguhan:
الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ، احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ، وَلَا تَعْجَزْ
“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada masing-masing terdapat kebaikan. Bersungguh-sungguhlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan jangan merasa lemah.” (HR. Muslim, no. 2664).
Hadis ini setidaknya mengajarkan tiga hal penting. Pertama, bangunlah kekuatan. Bukan hanya kekuatan fisik, tetapi juga kekuatan iman, ilmu, mental, kemauan, kesabaran, dan kemampuan menghadapi perubahan.
Kedua, احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ—bersungguh-sungguhlah mengerjakan sesuatu yang bermanfaat. Waktu terlalu berharga untuk dihabiskan dalam pertengkaran yang tidak perlu, iri hati, dendam, atau kesibukan yang tidak membawa kebaikan.
Ketiga, وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ، وَلَا تَعْجَزْ—mintalah pertolongan kepada Allah dan jangan menyerah. Di sinilah Islam mempertemukan ikhtiar dan tawakal: bekerja sungguh-sungguh sekaligus menyandarkan hasil akhirnya kepada Allah. Pasted text

Tangguh Tidak Sama dengan Keras
Ada kekeliruan yang terkadang muncul ketika kita memahami kekuatan. Orang yang keras belum tentu kuat. Orang yang mudah marah belum tentu tegas. Bahkan, seseorang yang selalu ingin memenangkan pendapatnya sendiri boleh jadi sedang menunjukkan kelemahan dalam mengendalikan diri.
Ketangguhan dalam Islam justru melahirkan ketenangan. Teguh dalam prinsip, tetapi lembut terhadap manusia. Berani mengambil keputusan, tetapi terbuka terhadap nasihat. Mampu menghadapi persoalan tanpa kehilangan kasih sayang.
Kekuatan yang matang tidak selalu membutuhkan suara keras. Terkadang, kekuatan terbesar justru tampak ketika seseorang mampu menahan amarah, menerima kenyataan, memaafkan kesalahan, dan memilih jalan yang lebih maslahat.

Kekuatan Harus Menjadi Manfaat
Lalu, untuk apa seseorang menjadi kuat?
Kekuatan seorang Muslim tidak boleh berhenti pada keberhasilan pribadi. Ilmu, harta, jabatan, pengalaman, keterampilan, bahkan panjangnya usia semestinya berkembang menjadi sumber kemanfaatan.
Ada ungkapan hadis yang sangat populer:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.”
Sebagaimana dicatat dalam naskah asal, riwayat ini memiliki pembicaraan pada sanadnya, meskipun diriwayatkan melalui beberapa jalur yang oleh sebagian ahli hadis dinilai saling menguatkan. Pesan moralnya selaras dengan ajaran Islam mengenai menolong, mengajar, bersedekah, dan meringankan kesulitan sesama. Pasted text
Karena itu, pertanyaan kehidupan tidak seharusnya hanya, “Apa yang bisa saya dapatkan?” Ada pertanyaan yang lebih luhur: “Manfaat apa yang dapat dirasakan orang lain karena keberadaan saya?”
Tidak harus terkenal untuk menjadi bermanfaat. Seorang guru memberi manfaat melalui ilmu. Pedagang melalui kejujuran. Dokter melalui keahlian. Orang tua melalui pengalaman dan kebijaksanaan. Anak muda melalui tenaga, kreativitas, dan gagasannya.

Tetap Bertumbuh di Zaman Berubah
Ketangguhan juga berarti kemampuan menghadapi perubahan zaman. Kita sekarang hidup bersama derasnya informasi, media sosial, teknologi digital, dan kecerdasan buatan. Cara bekerja berubah. Cara belajar berubah. Cara manusia berkomunikasi juga berubah.
Muslim yang tangguh tidak cukup hanya mengatakan, “Zaman sekarang sudah berbeda.” Justru karena berbeda, kita perlu terus belajar.
Teknologi tidak perlu dimusuhi, tetapi harus digunakan dengan bijaksana. Media sosial dapat menjadi jalan menyebarkan pengetahuan dan kesejukan. Kecerdasan buatan dapat membantu belajar, menulis, meneliti, dan bekerja—selama digunakan secara kritis dan bertanggung jawab.
Medianya boleh berubah, tetapi nilai dasarnya tidak: kejujuran tetap kejujuran, amanah tetap amanah, adab tetap adab, dan iman tetap menjadi fondasi. Pasted text

Mulailah dari Kebaikan Terdekat
Menjadi manusia bermanfaat tidak harus menunggu mempunyai kedudukan besar. Rumah adalah tempat pertama untuk memulainya.
Suami dapat menguatkan istrinya. Istri menenangkan suaminya. Orang tua mendengarkan anak. Anak memperhatikan orang tua. Kakek dan nenek mewariskan pengalaman kepada cucu. Ketika tetangga sakit, kita menjenguk. Ketika seseorang kesulitan, kita membantu sesuai kemampuan.
Demikian pula ketika mengalami kegagalan. Jangan terburu-buru menyimpulkan bahwa semuanya telah berakhir. Tenangkan diri, evaluasi penyebabnya, mintalah nasihat kepada orang yang lebih berpengalaman, berdoa, kemudian mulailah kembali.
Kegagalan bukan selalu tanda berakhirnya perjalanan. Terkadang ia justru menjadi ruang pendidikan yang membuat seseorang lebih matang. Pasted text

Selama Hidup, Teruslah Bermanfaat
Pada akhirnya, menjadi Muslim tangguh bukan berarti tidak pernah lemah. Kita tetap manusia: bisa lelah, sedih, kecewa, dan membutuhkan pertolongan.
Perbedaannya terletak pada cara kita meresponsnya.
Ketika jatuh, kita belajar bangkit. Ketika gagal, kita mengambil pelajaran. Ketika berhasil, kita tidak menjadi sombong. Ketika mempunyai ilmu, kita membagikannya. Ketika mempunyai harta, kita berbagi. Ketika memiliki pengalaman, kita mewariskannya kepada generasi berikutnya.
Dan selama Allah masih memberikan umur, ada satu pertanyaan yang layak diajukan setiap pagi:
“Kebaikan apa lagi yang masih dapat saya kerjakan hari ini?”
Sebab bertambahnya usia tidak seharusnya hanya berarti bertambahnya tahun. Ia semestinya berarti bertambahnya kematangan, kebijaksanaan, dan manfaat.
Pesan Rasulullah Saw. tetap menjadi pegangan yang sangat kuat:
احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ، وَلَا تَعْجَزْ
“Bersungguh-sungguhlah melakukan sesuatu yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan menyerah.”
Di situlah ketangguhan memperoleh maknanya yang utuh: kuat menghadapi kehidupan, dekat kepada Allah, terus bertumbuh, dan membuat keberadaan kita semakin berarti bagi sesama (Erfan Subahar).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *