Puasa Ramadhan: Mendongkrak Grafik Kesabaran Mukmin

Puasa Ramadhan adalah puasa yang hadir ke tengah-tengah dunia ini pada setiap tahun. Momentumnya adalah penuh berkah, karena bagi mereka yang melaksakan memperoleh peluang meraih pahala yang melimpah. Jauh nilainya dibanding dengan pahala-pahala amalan lain pada bulan-bulan di luar puasa Ramadhan. Jika amalan puasa Ramadhan dilakukan, maka pahalanya bukan hanya berlipat 10 kali, atau 100 kali lipat, hingga 700 kali lipat pahala amalan yang tulus di luar Ramadhan, melainkan lebih dari itu. Saking besarnya pahala, ia menjadi rahasia abadi Tuhan yang hanya Beliaulah yang Maha Tahu kerahasiaan ibadah puasa hamba-Nya.

Latihan puasa adalah latihan mengendalikan nafsu tahunan. Semua yang berupa gejola nafsu syaitaniah dikendalikan oleh setiap orang beriman ketika berpuasa. Baik nafsu yang suka bergolak dalam dirinya maupun nafsu, yang berasal dari luar dirinya yakni bisikan jin — yang senantiasa menggoda tidak habis-habisnya diri manusia; semua dikendalikan dengan penuh kekuatan oleh tiap-tiap manusia yang berpuasa. Maka latihan berpuasa yang dilakukan dengan serius, benar-benar besar dampaknya bagi kehebatan mukmin di saat sekarang dan ke depan.

 

Puasa Intensif

Puasa intensif, yang sering kita anggap latihan peningkatan diri (tarbiyah) tahunan secara terus menerus selama satu bulan, sarana yang emas menuju peningkatan prestasi muslim. Dari itu, mereka yang disebut mukmin, begitu sungguh-sungguh dalam melaksanakannya. Karena puasa yang dilaksanakan dengan serius dan tulus, akan jelas dampaknya. Indikatornya paling tidak terbaca dalam tiga hal. ‘Frequensi’ puasa yang dijalankannya dari hari ke hari. Jika terus berjalan dengan perseneleng yang stabil, maka tentu dapat dinilai dengan baik. Begitu pula ‘kesungguhan’ yang diperlihatkannya, yang lebih terlihat dari segi pencerapan batiniyahnya ketika berpuasa. Tentu semua berlangsung atas dorongan ‘niat atau motivasi’ atau tujuan yang diperjuangkannya untuk dicapai dari waktu ke waktu.

 

Semakin Penyabar?

Dari puasa yang terlatih, maka buka hanya pengendalian diri ke dalam yang dimiliki, melainkan juga kaitannya dengan sukses ketika menangani karakter menjadi diri yang sabar. Karena hidup itu ternyata tidak ada yang mudah. Tidak mudahnya hidup, sebab hidup itu berlangsung di dunia perjuangan guna memperoleh manfaat terbesar, yang akan diterima nanti di alam balasa di akhirat. Maka untuk itu ketika hidup, sabar adalah tantangan yang mesti diwujudkan dalam proses meraih tujuan hidup.

Sabar, yang tak lain dari perilaku yang untuk memperolehnya secapa optimal dengan dampak akhirat mesti memperlihatkan banyak kelebihan diri ketika menjalankannya. Dengan ungkapan lain bahwa orang sabar yang benar itu, bisa terlihat ketika melakukannya dengan sejumlah indikator misalnya seperti berikut. Tampil ‘tidak mengeluh’. Orang mengeluh adalah orang yang dalam melakukan aktivitas jauh dari unsur ketulusan, sehinga perilaku mengeluh adalah sia-sia yang jauh dari sebutan sabar. Selain itu, orang sabar jelas ‘tidak berputus asa’, sebab putus asa itu lebih terbaca dirinyalah yang terlalu dieman-eman dalam melakukannya, sehingga jauh dari sebutan melakukan sesuatu yang diimbangi dengan ketulusan. Maka yang menjadi pilihan orang yang sabar selain tidak mengeluh dan tidak putus asa adalah dirinya terus ‘melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya’ karena hal itu menjadi penjelas kehadiran diri seseorang terutama yang disebut sebagai orang yang sabar.

Selain tiga hal di atas, perilaku sabar dapat dibaca dari tampilan ‘mampu menahan emosi dan amaran’. Di mulanya, selalu terlihat cermin rauh muka teduh, karena dari lisannya hanya keluar kata-kata lancar yang menyenangkan kawan-kawan lain yang menjadi sasaran pembicaraannya, baik dalam forum kecil, forum sederhana, maupun forum yang lebih besar, hingga yang tak terhingga besarnya.

 

Prilaku Energik

Tidak ditutup kemungkinan, bahwa orang sabar itu banyak faktor yang mempengaruhinya. Namun, faktor ini umumnya bisa diperoleh jika orang beriman itu berpuasa dengan sungguh- sungguh. Pertama, faktor keberanian (syaja’ah); ia adalah faktor yang tidak bisa dipungkiri yang memiliki pengaruh pada lahirnya kesabaran. Mengingat, di dalam kenyataan, orang yang berani, sering berjumpa dengan keuntungan antara lain, kejeniusan, atau juga kekuatan, atau keajaiban. Kedua, faktor kekuatan (Quwwah); ¬†yaitu faktor yang dengan memilikinya apa yang terasa berat bagi orang lain memperolehnya menjadi mudah bagi orang yang sabar untuk menunaikannya. Dan selain keberanian dan kekuatan, maka faktor kesadaran dan pengetahuan, adalah faktor ketiga yang tidak bisa ditinggalkan. Faktor ini adalah yang tidak bisa ditinggalkan dalam menghasilkan energi bagi realisasi perilaku yang kita kenal dengan kesabaran.

 

Dari uraian di atas, maka berpuasa yang terlatih meralisasikannya dari waktu ke waktu selama sebulan Ramadhan dalam kehidupan, memiliki kemampuan untuk mendongkrak grafik keimanan kita dalam hidup yang baik guna memperoleh predikat mukmin yang sabar yang naik nilai grafik dalam rangka menjadi mukmin yang muttaqin. Maka puasa yang dilaksanakan dengan kesabaran yang tinggi, meningkatkan intensitas keislaman kita dalam mewujudkan apa yang kita sebut memperoleh ridha Allah dan surga-Nya (Erfan Subahar).

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *