Ketika Perjalanan Hidup Menjadi Warisan Ilmu: Refleksi atas Peluncuran Biografi 70 Tahun Prof. Erfan Soebahar
Ada satu pertanyaan sederhana yang sesungguhnya layak direnungkan oleh setiap orang yang memasuki usia senja: apa yang akan ditinggal ketika suatu hari kita tidak lagi berada di tengah-tengah mereka yang kita cintai?
Sebagian orang meninggalkan harta. Sebagian lagi meninggalkan jabatan. Ada pula yang dikenang karena kekuasaan atau pengaruhnya. Namun sejarah menunjukkan bahwa yang paling panjang usianya justru adalah ilmu, keteladanan, dan nilai-nilai kehidupan yang diwariskan kepada generasi berikutnya.
Barangkali itulah makna terdalam yang saya rasakan ketika memasuki Ruang Teater KH. Sholeh Darat UIN Walisongo Semarang pada Senin, 6 Juli 2026. Hari itu bukan sekadar peluncuran sebuah buku biografi yang menandai usia tujuh puluh tahun perjalanan hidup saya. Lebih dari itu, hari itu menjadi ruang syukur, ruang refleksi, dan ruang untuk mengingat kembali betapa panjang jalan yang telah Allah SWT bentangkan sejak masa kanak-kanak hingga hari ini (Senin, 6 Juli 2026).
Buku biografi yang diluncurkan sesungguhnya bukan kisah tentang seorang individu. Ia adalah kisah tentang bagaimana Allah menuntun langkah seorang anak kampung yang tumbuh bersama keluarga sederhana, dididik oleh para guru yang ikhlas, ditempa oleh pesantren, dibesarkan oleh perguruan tinggi Islam, lalu diberi kesempatan mengabdi melalui pendidikan, dakwah, penelitian, dan pelayanan kepada umat.
Tidak ada perjalanan yang ditempuh sendirian.
Di balik setiap halaman kehidupan, selalu ada tangan-tangan yang mengangkat ketika lelah, ada doa yang menguatkan ketika rapuh, ada guru yang membimbing ketika belum mengerti, dan ada keluarga yang tetap setia ketika amanah semakin berat. Karena itu, biografi ini sejatinya bukan hanya milik saya, melainkan milik semua orang yang selama puluhan tahun berjalan bersama dalam jalan pengabdian.
Suasana seminar dan peluncuran buku berlangsung hangat sekaligus penuh penghormatan terhadap tradisi keilmuan. Para guru besar, ulama, pimpinan perguruan tinggi, pejabat pemerintah, mahasiswa, sahabat, serta keluarga hadir bukan semata menghadiri sebuah seremoni, tetapi ikut merayakan pentingnya menjaga ingatan kolektif tentang perjalanan seorang pendidik. Di tengah derasnya arus digital yang sering menjadikan segala sesuatu serba cepat dan mudah dilupakan, lahirnya sebuah buku biografi merupakan pengingat bahwa pengalaman hidup juga merupakan sumber ilmu yang layak diwariskan.
Yang membuat saya semakin terharu adalah perhatian luas dari berbagai media massa. Puluhan media nasional, regional, media kampus, hingga media organisasi memberitakan seminar dan peluncuran buku tersebut dari berbagai sudut pandang. Ada yang menyoroti perjalanan akademik, ada yang mengangkat kiprah dakwah, ada yang menekankan pentingnya regenerasi ulama, dan ada pula yang melihatnya sebagai inspirasi bagi dunia pendidikan. Saya memandang semua perhatian itu bukan sebagai penghormatan kepada pribadi, melainkan sebagai penghormatan kepada tradisi ilmu yang selama ini menjadi ruh perguruan tinggi Islam.
Dalam kesempatan tersebut, berbagai tokoh menyampaikan pandangan yang sangat berharga. Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, mengajak generasi muda menjadikan sosok ulama sebagai teladan. Pesan itu sesungguhnya melampaui diri saya. Ia merupakan ajakan agar ilmu tidak berhenti di ruang kelas, tetapi menjelma menjadi akhlak, pengabdian, dan tanggung jawab sosial. Bangsa ini membutuhkan lebih banyak orang yang bukan hanya pandai berpikir, tetapi juga mampu menghadirkan manfaat bagi masyarakat.
Rektor UIN Walisongo pun memberikan refleksi yang menyentuh. Beliau menempatkan buku biografi ini sebagai bagian dari upaya merawat memori akademik kampus. Perguruan tinggi tidak hanya menghasilkan lulusan dan penelitian, tetapi juga melahirkan tradisi keteladanan yang perlu didokumentasikan agar menjadi inspirasi bagi generasi berikutnya. Saya sepenuhnya sependapat. Sebuah universitas besar bukan hanya dibangun oleh gedung-gedung yang megah, melainkan oleh karakter orang-orang yang menghidupinya.
Selama lebih dari empat puluh tahun berada di dunia pendidikan tinggi, saya semakin meyakini bahwa tugas seorang dosen tidak berhenti pada mengajar. Seorang pendidik sesungguhnya sedang menanam pohon yang mungkin baru berbuah puluhan tahun kemudian. Ada mahasiswa yang kelak menjadi guru, hakim, peneliti, ulama, birokrat, pemimpin masyarakat, bahkan mungkin melampaui capaian gurunya sendiri. Di situlah letak kebahagiaan seorang pendidik: melihat murid-muridnya tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.
Begitu pula dalam dakwah. Ceramah yang selesai disampaikan akan segera berlalu, tetapi nilai yang tertanam di hati pendengarnya dapat terus hidup. Buku yang selesai ditulis mungkin hanya terdiri atas ratusan halaman, tetapi gagasan yang terkandung di dalamnya dapat melintasi batas ruang dan waktu. Karena itu, saya semakin percaya bahwa umur biologis manusia memang terbatas, tetapi umur pengabdian dapat terus berlanjut melalui ilmu yang bermanfaat.
Pada usia tujuh puluh tahun ini, saya tidak melihatnya sebagai garis akhir. Saya justru memandangnya sebagai babak baru. Setelah purnabakti dari tugas administratif di kampus, masih terbentang begitu banyak pekerjaan yang menunggu untuk diselesaikan: menulis buku, membimbing generasi muda, memperkuat literasi Islam, mengembangkan kajian hadis, mendampingi lembaga-lembaga umat, serta menyiapkan warisan intelektual yang mudah diakses oleh masyarakat luas.
Saya percaya, setiap orang memiliki kesempatan meninggalkan jejak kebaikan. Tidak harus menjadi guru besar, ulama, pejabat, ataupun tokoh masyarakat. Seorang ayah yang mendidik anak-anaknya dengan baik telah meninggalkan warisan. Seorang ibu yang membesarkan keluarga dengan penuh kasih telah menorehkan sejarah. Seorang guru yang mengajar dengan ikhlas telah membangun masa depan bangsanya. Yang terpenting bukan seberapa besar nama kita dikenal, melainkan seberapa besar manfaat yang dapat terus dirasakan setelah kita tiada.
Karena itu, saya menerima terbitnya buku biografi ini bukan sebagai penghargaan atas masa lalu, tetapi sebagai pengingat bahwa amanah di masa depan justru semakin besar. Selama Allah masih memberikan umur, kesehatan, dan kesempatan, saya ingin tetap berada di jalan ilmu, jalan dakwah, dan jalan pengabdian.
Dari lubuk hati yang paling dalam, saya menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah menjadikan Seminar dan Launching Biografi 70 Tahun ini berlangsung dengan begitu baik. Terima kasih kepada pimpinan UIN Walisongo Semarang beserta seluruh sivitas akademika, tim penyusun dan editor buku, para narasumber, panitia pelaksana, Majelis Ulama Indonesia Kota Semarang, para sahabat, murid, keluarga besar, seluruh tamu undangan, serta media massa yang telah menyebarluaskan semangat acara ini kepada masyarakat.
Secara khusus, saya menghaturkan terima kasih kepada istri tercinta, anak-anak, menantu, cucu, keluarga besar, para guru, para kiai, dan seluruh sahabat seperjalanan. Tanpa doa, cinta, kesabaran, dan dukungan mereka, perjalanan panjang ini tentu tidak akan sampai pada titik sekarang.
Semoga Allah SWT menerima setiap amal baik yang telah dipersembahkan oleh semua pihak, melipatgandakan pahalanya, serta menjadikan buku biografi ini bukan sekadar catatan tentang masa lalu, melainkan mata air inspirasi yang terus mengalir bagi dunia pendidikan, dakwah, dan peradaban Indonesia.
Pada akhirnya, manusia akan pergi, tetapi ilmu yang diamalkan, keteladanan yang diwariskan, dan kebaikan yang ditanamkan akan tetap berbicara melampaui usia pemiliknya. Itulah warisan yang sesungguhnya. Itulah cita-cita yang ingin terus saya jaga hingga akhir hayat (Erfan Subahar).
