Santri Berilmu, Berakhlak, dan Bermanfaat
Setiap tanggal 22 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Santri. Berbagai kegiatan diselenggarakan, mulai dari upacara, pengajian, hingga pertemuan para santri dan alumni pesantren. Namun, di balik kemeriahan itu, terdapat pertanyaan yang jauh lebih penting: apakah nilai-nilai kesantrian telah benar-benar hidup dalam masyarakat?
Menjadi santri bukan sekadar mengenakan sarung, peci, atau pernah belajar di pesantren. Identitas santri sesungguhnya tercermin dari kecintaan terhadap ilmu, kemuliaan akhlak, kesungguhan beribadah, dan kepedulian terhadap sesama.
Pesantren sejak lama menjadi tempat tumbuhnya tradisi keilmuan Islam. Di dalamnya, para santri belajar Al-Qur’an, hadis, fikih, akhlak, dan berbagai disiplin ilmu. Mereka juga dibiasakan hidup sederhana, disiplin, menghormati guru, serta membangun kebersamaan.
Namun, pendidikan pesantren tidak berhenti ketika seseorang meninggalkan ruang belajar. Justru setelah kembali ke masyarakat, ilmu dan nilai-nilai yang diperoleh menghadapi ujian sesungguhnya.
Di sinilah santri memikul dua amanah besar: menjaga ilmu agar tetap benar dan bermanfaat, serta merawat umat agar kehidupan semakin damai dan bermartabat.
Menjaga Ilmu, Memelihara Kebenaran
Dalam Islam, ilmu mempunyai kedudukan yang sangat mulia. Ilmu bukan hanya sarana memperoleh pekerjaan, gelar, atau penghormatan, melainkan cahaya yang membimbing manusia memahami kehidupan dan menjalankan tanggung jawab.
Allah SWT berfirman:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
“Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah [58]: 11).
Ayat ini menegaskan kemuliaan iman dan ilmu. Menariknya, ayat tersebut juga mengajarkan adab dalam majelis. Artinya, keilmuan tidak dapat dipisahkan dari kerendahan hati, penghormatan terhadap sesama, dan kesediaan mendengarkan.
Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
“Barang siapa dikehendaki Allah memperoleh kebaikan, Dia akan memberinya pemahaman yang mendalam tentang agama.” (HR. al-Bukhari, no. 71; Muslim, no. 1037).
Hadis ini mengingatkan bahwa ilmu agama tidak cukup hanya dihafalkan. Ilmu harus dipahami secara mendalam, dikaji sumbernya, diteliti maksudnya, kemudian diamalkan secara bertanggung jawab.
Tradisi sorogan, bandongan, musyawarah, dan bahtsul masail dalam pesantren merupakan kekayaan pendidikan yang perlu terus dipelihara.
Imam Muhammad bin Sirin, ulama generasi tabiin, mengingatkan:
إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ، فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ
“Sesungguhnya ilmu ini adalah agama. Karena itu, perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.” (Mukadimah Sahih Muslim).
Pesan tersebut semakin penting pada zaman ketika informasi agama dapat diperoleh melalui internet, media sosial, dan kecerdasan buatan. Tidak setiap kutipan berbahasa Arab merupakan hadis sahih, dan tidak semua informasi yang tersebar dapat dipertanggungjawabkan.
Santri masa kini harus mampu memeriksa sumber, memahami konteks, dan menjaga kejujuran ilmiah.
Ilmu Menjadi Cahaya Melalui Akhlak
Pengetahuan yang luas merupakan karunia. Namun, pengetahuan belum tentu membawa manfaat apabila tidak disertai akhlak yang baik.
Seseorang mungkin menguasai banyak kitab, memiliki gelar akademik tinggi, atau pandai menyampaikan ceramah. Akan tetapi, apabila perilakunya merendahkan dan menyakiti orang lain, ilmunya belum sepenuhnya menghadirkan pencerahan.
Allah SWT berfirman:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.” (QS. Al-Ahzab [33]: 21).
Rasulullah SAW memberikan keteladanan tentang kesatuan ilmu, iman, dan akhlak. Beliau mengajarkan kejujuran sekaligus mempraktikkannya, mengajarkan kasih sayang sekaligus memperlihatkannya.
Dalam hadis disebutkan:
إِنَّ مِنْ خِيَارِكُمْ أَحْسَنَكُمْ أَخْلَاقًا
“Sesungguhnya di antara orang-orang terbaik kalian adalah mereka yang paling baik akhlaknya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Karena itu, ukuran keberhasilan pendidikan santri tidak cukup dilihat dari kemampuan membaca kitab atau menjelaskan persoalan agama. Keberhasilan juga terlihat dari kejujuran, kesantunan, kedisiplinan, dan kesediaan membantu sesama.
Dalam tradisi pendidikan Islam dikenal ungkapan:
تَعَلَّمِ الْأَدَبَ قَبْلَ أَنْ تَتَعَلَّمَ الْعِلْمَ
“Pelajarilah adab sebelum engkau mempelajari ilmu.”
Ilmu menunjukkan jalan kebenaran, sedangkan adab membimbing bagaimana kebenaran disampaikan dengan bijaksana.
Semakin luas ilmu seseorang, seharusnya semakin besar kerendahan hati dan tanggung jawab sosialnya.
Merawat Umat dengan Kepedulian
Amanah santri berikutnya adalah merawat umat. Artinya, menghadirkan ilmu agama sebagai sumber kedamaian, persaudaraan, dan jalan keluar bagi persoalan masyarakat.
Allah SWT berfirman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. Karena itu, damaikanlah antara kedua saudaramu yang berselisih.” (QS. Al-Hujurat [49]: 10).
Persaudaraan bukan sekadar ungkapan, melainkan tanggung jawab yang harus diwujudkan.
Ketika masyarakat berbeda pendapat, santri hendaknya menjadi penyejuk, bukan penyulut pertengkaran. Ketika muncul kesalahpahaman, santri berusaha menjernihkan. Ketika ada keluarga mengalami kesulitan, santri terdorong membantu.
Rasulullah SAW bersabda:
يَسِّرُوا وَلَا تُعَسِّرُوا، وَبَشِّرُوا وَلَا تُنَفِّرُوا
“Permudahlah dan jangan mempersulit. Berilah kabar gembira dan jangan membuat orang menjauh.” (HR. al-Bukhari, no. 69; Muslim, no. 1734).
Hadis ini mengajarkan dakwah yang bijaksana, proporsional, dan penuh kepedulian. Memudahkan bukan berarti mengabaikan prinsip agama, melainkan menyampaikan tuntunan secara benar dengan mempertimbangkan keadaan manusia.
Santri Menghadapi Tantangan Zaman
Sejarah mencatat peran ulama dan santri dalam perjuangan bangsa. Peringatan Hari Santri setiap 22 Oktober berkaitan dengan Resolusi Jihad yang diserukan KH. Hasyim Asy’ari pada 1945, dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Kini, tantangan santri berbeda. Selain menjaga tradisi keilmuan pesantren, santri perlu mengembangkan kemampuan berpikir kritis, literasi digital, komunikasi, dan penguasaan teknologi.
Allah SWT mengingatkan:
فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ
“Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan.” (QS. Al-Baqarah [2]: 148).
Semangat berlomba dalam kebaikan dapat diwujudkan melalui pendidikan, penelitian, pelayanan masyarakat, dan pemanfaatan teknologi secara bertanggung jawab.
Santri dapat memulainya dengan tiga langkah nyata: memeriksa kebenaran hadis sebelum menyebarkannya, menjadi penengah ketika masyarakat berbeda pendapat, dan mengembangkan kegiatan pendidikan serta pelayanan sosial di lingkungan sekitarnya.
Tidak semuanya memerlukan dana besar. Banyak kebaikan dapat dimulai dengan pengetahuan, waktu, tenaga, dan kemauan bekerja sama.
Menghidupkan Warisan, Menyiapkan Masa Depan
Hari Santri semestinya tidak berhenti pada peringatan tahunan. Momentum ini perlu menjadi kesempatan memperbarui komitmen untuk terus belajar, menjaga akhlak, memperkuat persaudaraan, dan mencintai tanah air.
Santri tidak harus selalu tampil di depan. Di mana pun berada, kehadirannya hendaknya membawa manfaat.
Di pesantren, ia menjaga tradisi ilmu. Di keluarga, ia menjadi teladan. Di masyarakat, ia menghadirkan kedamaian. Di ruang digital, ia menjaga kebenaran. Dalam kehidupan berbangsa, ia ikut merawat persatuan.
Pada akhirnya, santri menjaga ilmu agar kebenaran tetap hidup, merawat umat agar persaudaraan terus tumbuh, dan mengabdi kepada bangsa agar kemajuan berjalan bersama akhlak dan kemanusiaan.
Itulah makna kesantrian yang melampaui ruang dan waktu: menjaga warisan keilmuan, sekaligus menyiapkan masa depan yang lebih baik [Erfan Subahar].
