Membumikan Al-Qur’an, Mencerahkan Kehidupan
Oleh: Prof. Dr. KH. Moh. Erfan Soebahar, M.Ag.
Refleksi Momentum MTQ Nasional ke-31, September 2026
Al-Qur’an yang indah bukan hanya Al-Qur’an yang merdu ketika dibacakan, melainkan juga Al-Qur’an yang keindahannya terpancar dalam perilaku manusia. Kejujuran, kasih sayang, keadilan, kesantunan, dan kepedulian sosial merupakan sebagian bukti bahwa pesan-pesan Al-Qur’an benar-benar hidup di tengah masyarakat.
Momentum Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional ke-31 pada September 2026 mengajak kita merenungkan kembali hubungan antara Al-Qur’an dan kehidupan. Lantunan ayat suci, kefasihan para qari dan qariah, serta ketangguhan hafalan para hafiz dan hafizah merupakan pemandangan yang membanggakan.
Namun, di balik kemeriahan tersebut, terdapat pertanyaan yang jauh lebih mendasar: Sudahkah keindahan Al-Qur’an yang kita dengarkan berubah menjadi keindahan akhlak dalam kehidupan sehari-hari?
Pertanyaan inilah yang semestinya menjadi perhatian kita. Sebab, Al-Qur’an tidak diturunkan sekadar untuk diperdengarkan, tetapi untuk dipahami, direnungkan, diamalkan, dan dijadikan pedoman dalam membangun kehidupan yang bermartabat.
Al-Qur’an sebagai Kompas Kehidupan
Allah Swt. berfirman:
إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ
“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada jalan yang paling lurus.” (QS. Al-Isrā’ [17]: 9).
Ayat tersebut menegaskan bahwa Al-Qur’an merupakan petunjuk yang mengarahkan manusia menuju kehidupan terbaik. Ia tidak hanya menyampaikan pengetahuan, tetapi juga memberikan pedoman untuk menentukan pilihan dan mengambil keputusan.
Ketika seseorang memperoleh kekuasaan, Al-Qur’an mengajarkan keadilan. Ketika mendapatkan kekayaan, Al-Qur’an mengingatkan pentingnya berbagi. Ketika menghadapi kegagalan, Al-Qur’an menumbuhkan kesabaran dan harapan.
Dengan demikian, kedekatan seseorang dengan Al-Qur’an seharusnya tercermin dalam kematangan berpikir, kejernihan mengambil keputusan, dan kebijaksanaan dalam bertindak.
Hubungan dengan Al-Qur’an perlu terus berkembang, mulai dari membaca, memahami, menghayati, mengamalkan, hingga menghadirkan kemaslahatan bagi sesama.
Menghadirkan Cahaya di Tengah Kehidupan
Allah Swt. menjelaskan tujuan diturunkannya Al-Qur’an:
كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَىٰ صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ
“(Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu agar engkau mengeluarkan manusia dari berbagai kegelapan menuju cahaya dengan izin Tuhan mereka, yaitu menuju jalan Tuhan Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji.” (QS. Ibrāhīm [14]: 1).
Menarik direnungkan, Al-Qur’an menggunakan kata al-ẓulumāt (berbagai kegelapan) dalam bentuk jamak, sedangkan al-nūr (cahaya) dalam bentuk tunggal.
Kegelapan kehidupan memang beraneka ragam: kebodohan, kesombongan, kebencian, ketidakadilan, kerakusan, hingga penyebaran fitnah dan informasi palsu melalui teknologi digital.
Sebaliknya, cahaya Al-Qur’an mengarahkan manusia menuju kebenaran dan kemaslahatan.
Orang yang memperoleh pencerahan Al-Qur’an semestinya semakin santun, terbuka terhadap nasihat, menghargai perbedaan, serta mampu menghadirkan ketenteraman bagi lingkungannya.
Keberagamaan yang tercerahkan bukanlah keberagamaan yang gemar menyalahkan, melainkan yang menumbuhkan kebijaksanaan dan tanggung jawab.
Ketika Al-Qur’an Menjadi Akhlak
Keteladanan terbaik dalam membumikan Al-Qur’an terdapat pada pribadi Rasulullah Saw.
Ketika ditanya mengenai akhlak Rasulullah, Sayyidah Aisyah r.a. menjawab:
كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ
“Akhlak beliau adalah Al-Qur’an.” (HR. Muslim).
Pernyataan singkat tersebut mengandung pelajaran mendalam. Rasulullah tidak hanya menyampaikan pesan Al-Qur’an melalui perkataan, tetapi juga memperlihatkannya melalui seluruh perilaku kehidupan.
Beliau menghadirkan kasih sayang, memelihara kejujuran, menegakkan keadilan, menunjukkan kesabaran, serta memberikan keteladanan dalam memaafkan.
Inilah ukuran penting keberhasilan pendidikan Al-Qur’an.
Kefasihan membaca tentu merupakan prestasi. Kemampuan menghafal juga merupakan keutamaan. Namun, keduanya perlu disertai kesungguhan memperbaiki akhlak.
Jangan sampai seseorang fasih membaca Al-Qur’an, tetapi kasar kepada keluarganya. Jangan sampai rajin menghadiri pengajian, tetapi mengabaikan kejujuran dalam pekerjaan.
Al-Qur’an benar-benar membumi ketika nilai-nilainya dapat dirasakan orang lain melalui perilaku kita.
Belajar, Merenungkan, dan Mengamalkan
Rasulullah Saw. bersabda:
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. al-Bukhari).
Hadis tersebut mengajarkan bahwa interaksi dengan Al-Qur’an merupakan proses pembelajaran sepanjang hayat.
Yang belum mampu membaca hendaknya belajar membaca. Yang sudah lancar membaca perlu meningkatkan pemahaman. Yang telah memahami hendaknya mengamalkan dan mengajarkan nilai-nilainya.
Sejalan dengan pesan tersebut, terdapat ungkapan yang dinisbatkan kepada al-Hasan al-Bashri:
إِنَّمَا أُنْزِلَ الْقُرْآنُ لِيُتَدَبَّرَ وَيُعْمَلَ بِهِ
“Sesungguhnya Al-Qur’an diturunkan untuk direnungkan dan diamalkan.”
Pesannya mengajak kita melengkapi ukuran keberhasilan membaca Al-Qur’an. Bukan hanya berapa juz yang telah diselesaikan, melainkan juga seberapa besar kandungannya berhasil memperbaiki kehidupan.
Sudahkah ayat tentang kesabaran menjadikan kita lebih sabar? Sudahkah ayat tentang persaudaraan menjadikan kita lebih mudah berdamai?
Pertanyaan-pertanyaan reflektif semacam ini penting untuk menjaga agar interaksi dengan Al-Qur’an tidak berhenti pada rutinitas.
Tiga Langkah Membumikan Al-Qur’an
Membumikan Al-Qur’an tidak selalu membutuhkan program besar. Perubahan dapat dimulai dari lingkungan terdekat.
Pertama, membangun pribadi Qur’ani.
Biasakan membaca Al-Qur’an setiap hari, memahami satu pesan penting, kemudian berusaha menerapkannya.
Allah berfirman:
وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا
“Dan bertuturkatalah yang baik kepada manusia.” (QS. Al-Baqarah [2]: 83).
Satu ayat ini dapat menjadi pedoman sehari penuh: berbicara santun kepada keluarga, menghargai rekan kerja, serta menjaga kesopanan ketika berkomunikasi melalui media sosial.
Kedua, membangun keluarga Qur’ani.
Rumah seharusnya bukan sekadar tempat menyimpan mushaf, melainkan tempat nilai-nilai Al-Qur’an dipraktikkan.
Allah berfirman:
وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ
“Dan pergaulilah mereka dengan cara yang patut.” (QS. Al-Nisā’ [4]: 19).
Kasih sayang, saling mendengarkan, menghargai pendapat, meminta maaf, serta menyelesaikan persoalan melalui musyawarah merupakan bentuk nyata pengamalan nilai Qur’ani dalam keluarga.
Ketiga, membangun masyarakat Qur’ani.
Allah Swt. berfirman:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ
“Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberi kepada kaum kerabat; dan Dia melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan.” (QS. Al-Naḥl [16]: 90).
Nilai-nilai tersebut perlu hadir dalam seluruh kehidupan sosial. Pedagang berlaku jujur, pendidik mengajar dengan tulus, pejabat menjalankan amanah, dan masyarakat menjaga persaudaraan di tengah perbedaan.
Di sinilah Al-Qur’an menjadi kekuatan moral yang menggerakkan kemajuan peradaban.
Dari Musabaqah Menuju Peradaban
Momentum MTQ Nasional hendaknya meninggalkan warisan yang lebih luas daripada keberhasilan penyelenggaraan dan prestasi perlombaan.
Kita tentu bangga terhadap lahirnya qari, qariah, hafiz, dan hafizah berprestasi. Namun, kebanggaan tersebut akan semakin bermakna apabila diikuti lahirnya keluarga yang harmonis, masyarakat yang damai, pemimpin yang amanah, serta generasi muda yang berakhlak mulia.
Kemenangan terbesar dalam MTQ sesungguhnya bukan hanya ketika seseorang berhasil menjadi juara, melainkan ketika nilai-nilai Al-Qur’an memenangkan hati dan mengarahkan perilakunya.
Ketika amarah muncul, kesabaran yang menang. Ketika kepentingan pribadi berhadapan dengan keadilan, keadilan yang diutamakan. Ketika perbedaan mengancam persaudaraan, semangat persaudaraan yang dikedepankan.
Akhirnya, marilah kita menjadikan momentum MTQ sebagai titik penguatan komitmen untuk terus hidup bersama Al-Qur’an.
Al-Qur’an hendaknya tidak hanya dibaca oleh lisan, tetapi dipahami oleh pikiran, dihayati oleh hati, dan diwujudkan melalui perbuatan.
Dari tilawah menuju pemahaman, dari pemahaman menuju penghayatan, dari penghayatan menuju pengamalan, dan dari pengamalan menuju kemaslahatan.
Ketika Al-Qur’an benar-benar membumi, insyaallah kehidupan akan semakin tercerahkan. Semoga dari Semarang terpancar semangat Qur’ani yang menguatkan Indonesia menjadi bangsa yang damai, maju, adil, dan bermartabat (Erfan Subahar).
