Menjadi Tangguh Bersama Rasulullah Saw
Hidup tidak selalu berjalan sebagaimana yang kita rencanakan. Ada saat ketika langkah terasa ringan, pintu-pintu terbuka, dan harapan seolah mudah diwujudkan. Namun ada pula masa ketika kehidupan menghadirkan kehilangan, kegagalan, sakit, penolakan, atau kenyataan yang sama sekali tidak pernah kita bayangkan. Pada saat seperti itulah kualitas diri seseorang diuji.
Ketangguhan hidup bukan berarti tidak pernah sedih, tidak pernah lelah, atau tidak pernah menangis. Orang tangguh tetaplah manusia yang mempunyai perasaan. Ia bisa terluka dan kecewa. Bedanya, ia tidak membiarkan luka menentukan seluruh masa depannya. Ia tetap berdiri setelah jatuh, tetap melangkah setelah gagal, dan tetap berharap kepada Allah ketika jalan di hadapannya belum terang.
Dalam hal ini, perjalanan hidup Rasulullah SAW memberikan teladan yang sangat kuat.
Hidup Memang Mengandung Ujian
Al-Qur’an sejak awal mengajarkan pandangan yang realistis tentang kehidupan. Allah tidak menjanjikan bahwa orang beriman akan terbebas dari persoalan. Sebaliknya, manusia akan berhadapan dengan berbagai ujian.
Allah berfirman:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
“Sungguh, Kami benar-benar akan menguji kamu dengan sedikit rasa takut, lapar, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS al-Baqarah: 155)
Ayat ini mengubah cara kita melihat masalah. Kesulitan tidak selalu berarti Allah meninggalkan kita. Ujian justru merupakan bagian dari perjalanan kehidupan.
Karena itu, orang tangguh bukanlah orang yang tidak mempunyai masalah. Orang tangguh adalah orang yang tidak membiarkan masalah menghancurkan arah hidupnya.
Rasulullah Tumbuh di Tengah Kehilangan
Rasulullah SAW menjadi manusia agung bukan melalui kehidupan yang serba mudah.
Sebelum beliau lahir, ayahnya telah wafat. Ketika masih kecil, beliau kehilangan ibunya. Tidak lama kemudian, kakek yang mengasuhnya juga wafat. Sejak usia dini, Rasulullah telah mengenal kehilangan.
Allah mengingatkan:
أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآوَىٰ
“Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu?” (QS ad-Duha: 6)
Ada pesan kehidupan yang sangat dalam di sini: pernah kehilangan bukan berarti ditinggalkan Allah.
Ketika menghadapi kesulitan, kita sering terlalu lama memandang apa yang telah hilang sehingga lupa melihat apa yang masih Allah sisakan.
Kita mungkin kehilangan satu kesempatan, tetapi masih memiliki kemampuan. Kita mungkin kehilangan sesuatu yang sangat dicintai, tetapi masih dikelilingi orang-orang yang menyayangi. Kesehatan mungkin berkurang pada satu sisi, tetapi Allah masih memberikan kemampuan pada sisi lainnya.
Ketangguhan tumbuh ketika seseorang mampu melihat karunia yang masih tersisa di tengah sesuatu yang telah pergi.
Kesulitan Bukan Kehancuran
Kesulitan sering kita baca sebagai akhir. Padahal boleh jadi ia justru sebuah awal.
Ada kegagalan yang membuat seseorang menemukan jalan baru. Ada kehilangan yang mendewasakan hati. Ada keadaan yang memaksa seseorang berhenti, tetapi dari perhentian itulah ia belajar menentukan arah yang lebih baik.
Allah berfirman:
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS al-Insyirah: 5–6)
Perhatikan kata مَعَ—”bersama”. Kemudahan tidak selalu harus menunggu kesulitan selesai. Di tengah persoalan itu sendiri sering kali Allah telah meletakkan benih jalan keluar.
Persoalannya, kepanikan kadang membuat kita tidak mampu melihatnya.
Maka ketenangan menjadi bagian dari ketangguhan. Bukan karena persoalannya kecil, melainkan karena keyakinan kepada Allah lebih besar daripada persoalan yang sedang dihadapi.
Kuat Tanpa Menjadi Keras
Perjalanan dakwah Rasulullah SAW memperlihatkan bentuk ketangguhan yang sangat indah.
Beliau pernah dihina, dicaci, ditolak, bahkan disakiti. Peristiwa Thaif menjadi salah satu gambaran betapa beratnya penolakan yang beliau alami. Namun penderitaan tidak mengubah Rasulullah menjadi seorang pendendam.
Di sinilah kita menemukan satu pelajaran penting: ketangguhan bukan sekadar kemampuan bertahan, tetapi kemampuan bertahan tanpa kehilangan akhlak.
Seseorang mungkin menjadi kuat setelah mengalami penderitaan, tetapi kemudian hatinya mengeras. Ada pula yang berhasil melewati kegagalan, tetapi hidupnya dipenuhi kepahitan.
Rasulullah menunjukkan jalan yang berbeda: kokoh dalam prinsip, tetapi lembut dalam hati; kuat menghadapi keadaan, tetapi tidak kehilangan kasih sayang.
Itulah ketangguhan yang matang.
Bergerak, Berdoa, Jangan Menyerah
Rasulullah SAW bersabda:
الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ، احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ، وَلَا تَعْجِزْ
“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada keduanya terdapat kebaikan. Bersungguh-sungguhlah terhadap sesuatu yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan janganlah merasa lemah.” (HR Muslim)
Hadis ini memberikan tiga gerakan kehidupan yang sangat praktis.
Pertama, احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ — kejarlah sesuatu yang bermanfaat. Seorang mukmin tidak hidup hanya dengan keluhan. Selama masih ada yang dapat dilakukan, ia bergerak.
Kedua, وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ — mintalah pertolongan Allah. Kita bekerja sungguh-sungguh, tetapi tidak merasa menjadi penguasa hasil.
Ketiga, وَلَا تَعْجِزْ — jangan menyerah pada kelemahan. Jangan terlalu cepat berkata, “Saya tidak mampu”, “Saya sudah gagal”, “Saya sudah tua”, atau “Tidak ada lagi yang dapat saya lakukan.”
Selama Allah masih memberikan umur, selalu ada kebaikan yang dapat dikerjakan. Bentuknya mungkin berubah, tetapi kesempatan untuk menjadi bermanfaat tidak pernah harus berhenti.
Ikhtiar dan Tawakal Harus Berjalan Bersama
Hijrah Rasulullah SAW juga mengajarkan bahwa tawakal bukanlah sikap pasif.
Beliau menyusun strategi perjalanan, menentukan waktu, menyiapkan kebutuhan, menggunakan penunjuk jalan, dan memperhitungkan risiko. Semua dilakukan dengan cermat. Namun setelah ikhtiar maksimal dilakukan, hati beliau tetap bersandar kepada Allah.
Ketika keadaan di gua sangat menegangkan, beliau menenangkan Abu Bakar:
لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا
“Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” (QS at-Taubah: 40)
Kalimat ini tidak menyangkal adanya bahaya. Bahayanya nyata. Ancaman juga nyata. Namun pertolongan Allah pun nyata.
Karena itu, orang tangguh tidak berkata, “Saya tidak mempunyai masalah.” Ia berkata, “Masalah memang ada, tetapi saya tidak menghadapinya sendirian. Allah bersama saya.”
Tidak Semua yang Hilang Adalah Kerugian
Imam Ibn ‘Athaillah al-Sakandari mengingatkan dalam al-Hikam:
رُبَّمَا أَعْطَاكَ فَمَنَعَكَ، وَرُبَّمَا مَنَعَكَ فَأَعْطَاكَ
“Boleh jadi Allah memberimu melalui sesuatu yang tampaknya Dia tahan darimu, dan boleh jadi Dia menahan sesuatu darimu justru sebagai bentuk pemberian.”
Kita memang tidak selalu langsung memahami cara Allah menata kehidupan.
Ada pintu yang tertutup karena kita sedang dijaga. Ada rencana yang gagal karena arah hidup sedang dialihkan. Ada sesuatu yang tidak kita peroleh karena boleh jadi mendapatkannya justru tidak baik bagi kita.
Kedewasaan spiritual membuat kita tidak tergesa-gesa menyebut setiap kegagalan sebagai bencana.
Kita belajar berkata: “Saya belum memahami seluruh hikmahnya, tetapi saya percaya Allah tidak menyia-nyiakan hamba-Nya.”
Menangis Tidak Membatalkan Ketangguhan
Ketangguhan juga tidak mengharuskan seseorang menyembunyikan kesedihan.
Ketika putra Rasulullah, Ibrahim, wafat, beliau menangis dan bersabda:
إِنَّ الْعَيْنَ تَدْمَعُ، وَالْقَلْبَ يَحْزَنُ، وَلَا نَقُولُ إِلَّا مَا يَرْضَى رَبُّنَا
“Sesungguhnya mata meneteskan air mata, hati bersedih, tetapi kami tidak mengatakan kecuali sesuatu yang diridhai Tuhan kami.”
Betapa manusiawinya ajaran ini.
Mata boleh menangis. Hati boleh bersedih. Kita boleh mengambil waktu untuk berduka. Tetapi iman jangan runtuh, lisan jangan menyalahkan Allah, dan harapan jangan dimatikan.
Ketangguhan bukan meniadakan perasaan, melainkan mengelola perasaan agar kita tidak kehilangan arah.
Ketangguhan dalam Kehidupan Nyata
Bagaimana prinsip-prinsip itu kita praktikkan?
Ketika mengalami kegagalan, jangan mengubah sebuah peristiwa menjadi identitas diri. Gagal dalam satu usaha tidak berarti gagal sebagai manusia. Tenangkan diri, lakukan evaluasi, perbaiki yang dapat diperbaiki, kemudian susun langkah berikutnya.
Ketika mengalami kehilangan, berikan ruang kepada hati untuk berduka. Namun jangan menetap selamanya di dalam duka. Latih diri setiap hari untuk melihat nikmat yang masih ada: keluarga, kesempatan beribadah, sahabat, ilmu, kesehatan yang tersisa, atau kesempatan untuk tetap berbuat baik.
Ketika usia bertambah dan tenaga tidak lagi seperti dahulu, jangan merasa kehidupan telah kehilangan makna. Bertambahnya usia bukan berhentinya manfaat, tetapi berubahnya cara memberi manfaat.
Kalau dahulu banyak bekerja dengan tenaga, kini dapat lebih banyak bekerja dengan ilmu. Kalau dahulu banyak turun langsung, kini dapat lebih banyak membimbing. Kalau dahulu mengejar banyak hal, kini waktunya memilih hal-hal yang paling bernilai.
Pengalaman, kebijaksanaan, doa, ketenangan, nasihat, dan warisan ilmu adalah kekayaan yang justru semakin bernilai ketika usia bertambah.
Lima Pegangan untuk Tetap Tangguh
Dari perjalanan Rasulullah SAW, kita dapat membawa lima kata sebagai pegangan:
Iman – Sabar – Ikhtiar – Tawakal – Bangkit.
Iman, karena kita percaya Allah tidak meninggalkan kita.
Sabar, karena ujian tidak boleh membuat kita kehilangan kendali.
Ikhtiar, karena selalu ada sesuatu yang masih dapat dilakukan.
Tawakal, karena hasil akhir berada dalam ketentuan Allah.
Bangkit, karena kehidupan harus diteruskan dengan jiwa yang semakin matang.
IMAN → SABAR → IKHTIAR → TAWAKAL → BANGKIT
Perjalanan Rasulullah SAW akhirnya mengajarkan kepada kita bahwa kehidupan besar tidak selalu dibangun melalui jalan yang mudah. Kadang ia ditempa oleh kehilangan, penolakan, kegagalan, kesendirian, dan kesabaran yang panjang.
Karena itu, ketika hidup terasa sempit, ingatlah kesabaran beliau. Ketika mengalami penolakan, ingatlah keteguhan beliau. Ketika kehilangan, ingatlah tawakal beliau. Ketika memperoleh keberhasilan, ingatlah kerendahan hati beliau. Dan ketika kehidupan meminta kita memulai kembali, ingatlah bahwa kemenangan Rasulullah pun lahir melalui perjalanan yang panjang.
Kita boleh lelah, tetapi jangan menyerah. Kita boleh sedih, tetapi jangan kehilangan harapan. Kita boleh gagal, tetapi jangan kehilangan arah. Kita boleh jatuh, tetapi jangan lupa bangkit.
Sebab ketangguhan bukanlah hidup tanpa ujian. Ketangguhan adalah kemampuan untuk tetap beriman, tetap berikhtiar, tetap menjaga akhlak, dan berani bangkit di tengah ujian (Erfan Subahar).
