Merawat Persatuan, Menghidupkan Semangat Persaudaraan
Bangsa Indonesia lahir dan tumbuh dalam keberagaman. Kita memiliki suku, bahasa, budaya, agama, dan tradisi yang berbeda. Namun, di tengah perbedaan itu, ada satu kekuatan yang menyatukan kita: kesadaran untuk hidup bersama sebagai satu bangsa.
Kesadaran tersebut pernah ditunjukkan dengan sangat mengesankan oleh para pemuda Indonesia pada 28 Oktober 1928. Mereka datang dari berbagai daerah, membawa latar belakang dan pandangan yang tidak selalu sama. Namun, mereka mampu menyatukan tekad: satu tanah air, satu bangsa, dan menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
Hampir satu abad kemudian, pesan Sumpah Pemuda tetap relevan. Tantangan bangsa memang berubah. Kita tidak lagi menghadapi penjajahan sebagaimana generasi terdahulu, tetapi berhadapan dengan kemiskinan, ketimpangan, perselisihan sosial, serta derasnya informasi yang terkadang memecah hubungan antarmanusia.
Di tengah keadaan itu, muncul pertanyaan mendasar: bagaimana menjaga persatuan tanpa harus menghilangkan perbedaan?
Jawabannya terletak pada kemampuan merawat persaudaraan, membangun kepercayaan, dan mengembangkan kepedulian dalam kehidupan sehari-hari.
Persatuan adalah Nikmat yang Harus Dijaga
Dalam Islam, persatuan bukan sekadar kebutuhan sosial, melainkan juga bagian dari tuntunan agama.
Allah SWT berfirman:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا
“Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali agama Allah, dan janganlah bercerai-berai. Ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika dahulu kamu bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara.” (QS. Ali Imran [3]: 103).
Ayat ini menegaskan bahwa persatuan merupakan karunia Allah yang harus dipelihara. Persatuan tidak cukup dibangun melalui kesepakatan lahiriah, tetapi juga membutuhkan kedekatan hati, saling percaya, dan kesediaan memahami orang lain.
Kita mungkin berada dalam satu organisasi, tetapi belum tentu memiliki hati yang bersatu. Kita mungkin tinggal bertetangga selama bertahun-tahun, tetapi belum tentu saling mengenal dan peduli.
Karena itu, persatuan harus diwujudkan melalui tindakan nyata.
Rasulullah SAW bersabda:
الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا
“Seorang mukmin dengan mukmin lainnya bagaikan sebuah bangunan, yang bagian-bagiannya saling menguatkan.” (HR. al-Bukhari, no. 481; Muslim, no. 2585).
Sebuah bangunan menjadi kokoh karena setiap bagiannya menjalankan fungsi masing-masing. Begitu pula masyarakat. Guru, ulama, petani, pedagang, pemimpin, pemuda, dan berbagai kelompok lainnya mempunyai peran berbeda, tetapi dapat saling mendukung.
Persatuan bukan berarti semua orang harus sama, melainkan kesediaan untuk saling menguatkan dalam kebaikan.
Persaudaraan Melampaui Perbedaan
Persaudaraan merupakan fondasi penting bagi kehidupan yang damai dan harmonis.
Dalam khazanah Islam dikenal tiga bentuk persaudaraan yang saling melengkapi: ukhuwah Islamiyah, persaudaraan sesama Muslim; ukhuwah wathaniyah, persaudaraan sesama warga bangsa; dan ukhuwah insaniyah, persaudaraan atas dasar kemanusiaan.
Ketiganya mengajarkan bahwa hubungan baik tidak boleh berhenti pada kelompok sendiri.
Allah SWT berfirman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. Karena itu, damaikanlah antara kedua saudaramu yang berselisih dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat [49]: 10).
Ayat ini tidak hanya menegaskan pentingnya persaudaraan, tetapi juga memerintahkan upaya mendamaikan pihak-pihak yang berselisih.
Artinya, ketika muncul pertengkaran dalam keluarga, perbedaan pendapat dalam organisasi, atau ketegangan di lingkungan masyarakat, kita semestinya menjadi bagian dari penyelesaian, bukan justru memperkeruh keadaan.
Persaudaraan juga harus melahirkan kepedulian. Rasulullah SAW menggambarkannya melalui sabda beliau:
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ
“Perumpamaan orang-orang beriman dalam saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi adalah seperti satu tubuh.” (HR. Muslim, no. 2586; juga diriwayatkan al-Bukhari).
Ketika seseorang mengalami kesulitan, persaudaraan mendorong kita untuk membantu. Ketika tetangga tertimpa musibah, kita hadir memberikan dukungan. Ketika ada anak yang kesulitan melanjutkan pendidikan, kita berusaha mencarikan jalan keluar.
Dalam ungkapan yang dinisbatkan kepada Ali bin Abi Thalib disebutkan:
فَإِنَّهُمْ صِنْفَانِ: إِمَّا أَخٌ لَكَ فِي الدِّينِ، وَإِمَّا نَظِيرٌ لَكَ فِي الْخَلْقِ
“Manusia itu terbagi menjadi dua golongan: mereka adalah saudaramu dalam agama, atau sesamamu dalam penciptaan.” (Nahj al-Balaghah, Surat 53).
Pesan ini mengingatkan bahwa perbedaan keyakinan tidak menghapus kewajiban memperlakukan sesama manusia secara adil dan bermartabat.
Merawat Persatuan di Era Digital
Kemajuan teknologi telah mengubah cara manusia berkomunikasi. Informasi kini dapat menyebar dalam hitungan detik. Sayangnya, kemudahan tersebut juga memungkinkan berita keliru, tuduhan, dan ujaran kebencian menyebar dengan cepat.
Satu pesan yang belum terverifikasi dapat memicu perdebatan panjang, bahkan merusak hubungan yang telah dibangun bertahun-tahun.
Al-Qur’an memberikan tuntunan:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا
“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya.” (QS. Al-Hujurat [49]: 6).
Prinsip tabayun mengajarkan pentingnya memeriksa informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya.
Rasulullah SAW juga bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. al-Bukhari, no. 6018; Muslim, no. 47).
Pesan ini sangat relevan dengan kehidupan digital. Sebelum menulis komentar atau membagikan informasi, pertimbangkan kebenaran, manfaat, dan dampaknya terhadap orang lain.
Perbedaan pendapat tidak harus menghilangkan penghormatan. Ketegasan sikap juga tidak harus disertai kekasaran.
Memulai Persatuan dari Kehidupan Sehari-hari
Persatuan tidak cukup dirayakan melalui upacara atau slogan. Nilainya harus hadir dalam tindakan sederhana.
Pertama, merawat kerukunan keluarga. Perbedaan pandangan antaranggotanya perlu diselesaikan melalui musyawarah, kesediaan mendengarkan, dan sikap saling memaafkan.
Kedua, memperkuat kepedulian masyarakat. Warga dapat bekerja sama menjaga kebersihan, keamanan, membantu tetangga yang mengalami kesulitan, serta menghargai perbedaan latar belakang.
Ketiga, membangun persaudaraan digital. Media sosial hendaknya digunakan untuk mempererat silaturahmi, menyebarkan pengetahuan, dan mengembangkan dialog yang santun, bukan memperluas permusuhan.
Langkah-langkah sederhana tersebut akan menjadi kekuatan besar apabila dilakukan secara konsisten.
Bersatu dalam Perbedaan, Kuat dalam Persaudaraan
Sumpah Pemuda mengajarkan bahwa keberagaman bukan penghalang untuk membangun cita-cita bersama. Para pemuda tahun 1928 telah mewariskan teladan persatuan. Tugas generasi sekarang adalah menjaga dan menghidupkannya.
Kita boleh berbeda pandangan, tetapi jangan kehilangan persaudaraan. Kita boleh berbeda pilihan, tetapi jangan kehilangan penghormatan. Kita boleh memiliki latar belakang berbeda, tetapi tetap mempunyai tanggung jawab bersama untuk menjaga Indonesia.
Persatuan tidak berarti menutup mata terhadap persoalan. Justru persatuan yang kokoh memerlukan kejujuran, keadilan, kepedulian, dan kesediaan menyelesaikan perbedaan secara bermartabat.
Pada akhirnya, persatuan memberi kita kekuatan, persaudaraan memberi kita kehangatan, dan kepedulian menjadikan keduanya nyata dalam kehidupan.
Marilah menjadikan semangat Sumpah Pemuda bukan sekadar kenangan sejarah, melainkan inspirasi untuk menghadirkan Indonesia yang semakin rukun, damai, adil, dan bermartabat [Erfan Subahar].
