Haji Musta’in: Da’i Dermawan Itu Telah Meninggalkan Kita (1)

Pada hari Sabtu 28 Agustus 2021 ada suasana lain yang saya rasakan.  Setelah sebelumnya sempat dua kali dalam, saya bermimpi, yaitu berjumpa dengan beberapa orang penting, yang masing-masing keluar-masuk kamar-kamar pertemuan. Maklum kita saat ini sedang sama dalam kondisi pandemi Covid 19 yang sudah masuk waktu 17 bulan berjalan.  Maka agar mengurangi berpikir terus ke kondisi yang terasa lain itu, saya pada hari Sabtu itu melakukan aktivitas lain yang lain dari biasanya. Pada saat itu, saya memangkas bagian atas dari pohon sirkoyo yang ada di depan rumah saya seperti telah ingin dilakukan sebelumnya namun tidak bisa karena padarnya acara. Memangkas kayu di depan rumah itu, saya mulai dari ukul 8.30 hingga sekitar pukul 11.30. Khusus mengenai kegiatan ini, saya melalkukannya sendirian dengan menggunakan gergaji listrik otomatis yang baru saya beli Made in Jerman itu dengan harga agak lumayan tinggi, barangnya unik namun praktis dan efektif digunakan.

Daru Pagi Tidak melihat HP
Dari gambaran di atas, terlihat bahwa saya fokus bekerja cepat memangkas bagian atas pohon sirkoyo yang ada di depan rumah itu. Semantara itu di bagian belakang rumah juga ada tukang yang mengeceta dua ruang dari kamar Nabiel dan kamar Nora yang sudah beberapa tahun ini hanya bisa ditempati namun belum dirawat dengan baik. Eeh, di luar yang saya duga, begitu saja buka HP banyak ucapan istirja’ diucapan untuk Bapak Haji Musta’in, yang tinggal di Bedagan Semarang itu. Saya sempat kaget sangat, tetapi di pikiran saya tetap saya menginginkan berpikir yang solutip. Karena Bapak Haji Musta’in itu, walau beliau itu bulan da’i Bil-Lisan, tetapi beliau itu adalah da’i yang bil-arkan, yang telah bekerjasama dengan kami memikirkan umat di lapangan di Baznaz dan dalam Pengajian sejak tahun 2004 yang lalu.

Siap Supir dan Menuju Demak
Dalam kondisi persiapan minim, maka kami melangkah cepat. Menghubungi supir sampai tiga orang belum berhasil. Lalu menghubungi Supir Bus, yang ternyata dia saiap dan bersedia dikontak untuk pergi dalam waktu sekitar 15-20 menit siap di tempat kami. Bisanya supir ini tentu juga mengagetkan, ada supir yang baru kami kenal, langsung mau diajak pergi dalam ukuran menit, bagus dan cukup menyenangkan ketika kami minta menemani kami dalam perjalanan dari Semarang menuju Wedung Demak. Mas Anton, adalah supir yang saya ajak, yang dapat mewakili saya yang mestinya bisa nyupir tetapi bisa pergi, dalam suasana habis bekerja yang teentu capek itu. Dia mengantar saya bersama istri, Lathifah yang sudah tiga kalinya ini memakai kendaraan menuju wedung itu (Erfan Subahar).

Bersambung ….

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: